2004: Tahun Konsolidasi bagi Reksa Dana | SWA.co.id

2004: Tahun Konsolidasi bagi Reksa Dana

Sebagaimana diketahui, reksa dana tumbuh pesat karena sejumlah bank yang direkapitalisasi menerbitkan reksa dana pendapatan tetap (fixed income) untuk memberdayakan obligasi rekap yang dikantonginya. Dengan iming-iming adanya jaminan return yang lebih besar dibanding deposito, investor tertarik untuk menanamkan uangnya di instrumen investasi tersebut. Ditambah lagi, mereka bisa menarik pemilik dana kelas kakap untuk menginvestasikan dana dalam jumlah besar di reksa dana yang diterbitkan.

Namun, dengan adanya ketentuan bahwa bank dan manajer investasi tidak boleh memberikan jaminan return dan suku bunga perbankan yang cenderung flat, ada kemungkinan investor akan mengurangi investasinya di reksa dana fixed income ini. Terlebih, jika Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) menegaskan ketentuan bahwa penghitungan nilai aktiva bersih (NAB) reksa dana harus mengacu pada nilai pasar wajar, investor akan lebih berhati-hati dalam berinvestasi karena NAB-nya akan berfluktuasi sesuai harga pasar wajar. Hanya, kita belum tahu ketentuan seperti apa yang akan dikeluarkan Bapepam mengenai valuasi NAB reksa dana.

Selain itu, harga obligasi pada 2003 sudah cukup tinggi, sehingga sulit diharapkan naik lagi tahun depan. Dengan begitu, return reksa dana pendapatan tetap pada 2004 juga tidak akan setinggi tahun 2003.

Untuk itu, mereka akan mencoba mengalihkan dananya ke instrumen investasi lain. Saya melihat, reksa dana campuran, reksa dana pasar uang dan reksa dana pendapatan tetap yang mampu memberikan fleksibilitas investasi bagi manajer investasi, bergerak dari obligasi ke instrumen SBI atau deposito, atau sebaliknya, cukup menjanjikan dan bakal diminati investor. Dengan risiko investasi pada tahun depan, saat berlangsungnya Pemilihan Umum, reksa dana campuran yang investasinya kombinasi instrumen pasar uang dan saham atau obligasi diharapkan mampu menjanjikan keuntungan lumayan dan relatif aman. Tentu saja, ini juga tergantung pada kemampuan fund manager mengelola dana publik yang diinvestasikan di reksa dana tersebut. Namun, yang jelas, reksa dana campuran ini memiliki fleksibilitas tinggi dalam pengelolaan portofolionya.

Sementara itu, reksa dana pasar uang yang penempatan dananya di deposito dan instrumen pasar uang lainnya menjadi pilihan karena investor ingin mengamankan investasinya. Ada memang pilihan lain berinvestasi di reksa dana, yakni reksa dana saham. Hanya, reksa dana jenis ini masih kurang diminati karena investor menganggapnya sebagai investasi yang berisiko tinggi. Para investor yang memiliki kemampuan melihat dan menerima fluktuasi atas modal yang diinvestasikan sajalah yang dapat berinvestasi di reksa dana ini. Dalam jangka panjang diharapkan return yang diberikan melebihi return reksa dana lainnya.

Kendati reksa dana campuran dan reksa dana pasar uang maupun reksa dana pendapatan tetap yang fleksibel menjadi pilihan utama para pemodal, sebagaimana dalil investasi: jangan meletakkan telur dalam satu keranjang, investor tetap harus melakukan diversifikasi. Artinya, dana yang dialokasikan di reksa dana, perlu disebar ke jenis reksa dana lain, baik reksa dana pendapatan tetap maupun reksa dana saham. Komposisinya seperti apa memang sulit dibakukan karena tergantung pada karakter masing-masing investor, apakah termasuk orang yang memiliki toleransi tinggi atau rendah terhadap risiko.

Perdebatan soal valuasi NAB reksa dana bisa jadi berpengaruh terhadap minat investor menanamkan modalnya di reksa dana pendapatan tetap. Mereka menunggu kepastian, metode apa yang akan digunakan sebagai standar penghitungan NAB reksa dana. Mudah-mudahan, Bapepam segera mengeluarkan ketentuan mengenai standardisasi valuasi tersebut.
Diharapkan, itu menjadi titik awal untuk meletakkan platform yang tangguh di industri reksa dana. Sebab, pertumbuhan yang cepat tanpa berlandaskan platform yang kuat bakal rapuh alias mudah rontok. Apa yang terjadi di industri perbankan merupakan pelajaran berharga untuk membangun industri reksa dana yang kuat.

Tentu saja, mengedukasi masyarakat tentang reksa dana, termasuk menjelaskan segala risikonya, juga menjadi tanggung jawab manajer investasi. Jadi, para agen reksa dana serta masyarakat investor harus diberi pemahaman yang benar tentang reksa dana. Disadari bahwa agen memegang peranan penting dalam distribusi reksa dana, hingga dirasakan bahwa edukasi terhadap para agen secara berkelanjutan mutlak diperlukan. Untuk itu, aktivitas seminar, workshop dan bentuk edukasi pasar lainnya bakal marak tahun depan.

Tags:

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)