2012, Dell Incar 'Medium Class' di Pasar Konsumen RI

Seiring dengan pertumbuhan ekonomi dan popularitas teknologi seluler, baik smartphone maupun tablet, produsen perangkat pun harus semakin cerdik. Pasalnya, meski potensi pasar dirasa cukup tinggi, persaingan juga ketat. Jika salah langkah, kegagalan bisa menerpa dengan cepat. Keadaan inilah yang membuat Dell cermat memilih strategi. Salah satunya, tidak mengincar pasar low end melainkan kelas menengah.

 

Di 2012, perilaku konsumen akan lebih banyak bergantung pada sistem komputasi dan ada ekspektasi yang tinggi terhadap konektivitas seluler dimanapun dan kapanpun,” kata Direktur dan Country Manager Dell, Pieter Lydian. 'Ketergantungan' teknologi ini didorong oleh keberadaan generasi muda (Generation Y) yang melek media. Berdasarkan data Forrester, di 2020, generasi muda berkontribusi 48% dalam pemanfaatan teknologi di lingkup profesional. Tak hanya itu, di 2012, IDC menyebutkan sekitar 86 miliar aplikasi diunduh (download) via perangkat seluler.

 

Potensi ini tidak serta merta membuat Dell 'menebar' produk sembarangan. Dengan tegas, Pieter mengaku Dell 'bermain' di pasar menengah dengan harga produk yang lebih tinggi. Sederhananya, Dell menolak bersaing dengan produk Cina yang nota bene berharga murah. “Pada dasarnya, tidak ada masyarakat yang ingin beli barang murah. Masalahnya, seberapa besar mereka (konsumen) ingin mengeluarkan uang?” tanya Pieter Lydian lagi.

 

Menurutnya, masyarakat Indonesia tidak lagi fokus pada harga. Selain produk, konsumen Tanah Air mulai 'melabelkan' harga pada services dan pride ketika menenteng produk teknologi. “Suatu produk tidak lagi dipandang sebagai alat melainkan muncul kesadaran akan brand emotion. Konsumen berharap sebuah penghargaan ketika memiliki produk itu. Inilah yang membuat mereka rela membayar mahal,” kata Pieter.

 

Alasan lainnya adalah kemampuan belanja masyarakat Indonesia yang semakin bertambah. Lapisan masyarakat di kelas menengah pun semakin besar. Ekspektasi terhadap produk pun tak lagi berbicara harga. “Sebagai contoh, saya waktu kecil merasa bahwa Coca-cola itu mahal. Tapi buat saya sekarang, ini tidak mahal. Padahal, harga yang mereka berikan tak jauh berubah. Alasannya? Kemampuan belanja saya yang berkembang. Ini menjadi analogi di pasar konsumen.”

 

Selain itu, berdasarkan visi, Dell tidak ingin sekadar menawarkan produk melainkan sebuah solusi. Ini berarti, perusahaan tidak hanya menjual hardware tetapi juga layanan, end to end solution. Apalagi, meski krisis Eropa dan Amerika Serikat menerpa, belanja produk teknologi Indonesia masih cukup menjanjikan. “Saat masyarakat Eropa dan AS krisis, kita tenang-tenang saja. Alasannya? Belanja domestik kita masih tinggi,” kata Pieter optimis.

 

Tiga miliar orang terkoneksi secara elektronik melalui perangkat seluler ataupun teknologi internet di 2014. Tak hanya itu, lembaga riset Gartner memperkirakan sekitar 900 juta perangkat tablet tersebar di masyarakat pada 2016. IDC juga memprediksi data digital akan naik dua kali lipat setiap 18 bulan.



--

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)