2025, Pemerintah Incar Rp 537,8 Triliun di Industri Kreatif

Industri kreatif memanfaatkan peran Industri tata busana untuk meraup Rp 537,8 triliun di 2025. Wajar memang. Kontribusi industri fashion dalam lima tahun terakhir terhadap PDB rata-rata sebesar 5,9% atau Rp 71,9 triliun. Dunia fashion Indonesia pun menyerap 4 juta tenaga kerja dan devisa Rp 50,3 triliun.

Pernyataan tersebut diungkapkan Dirjen Industri Kecil Menengah Kementerian Perindustrian, Euis Saedah. Beberapa nama populer di industri tata busana menjadi senjata Indonesia seperti Batik Chic, Chameo Couture, Jeanny Ang, Billy Tjong, Uluwatu, Kle, Lazuli Sarae, BENTEN, Deden Siswanto, Stephanus Hamy, Ozzy by Lianawaty H, Lenny Agustin, Chenny Han, Rumah Mode Brutus, Denny Wirawan, Rudy Chandra, Anne Avantie, Irna Mutiara, Deden Siswanto, Jeffry Tan, Ali Charisma, Wignyo Rahadi, Bubble Girl, Sofie Kids, Aarti, dan Rinaldy A Yunardi.

Berdasarkan data Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI), tahun ini ada sekitar 2.8 tuta tenaga ahli dalam industri mode. “Kita berharap tahun 2015 jumlah tenaga ahli bertambah menjadi 3.6 Juta dan pada tahun 2025 menjadi 5.6 Juta,” ujar Euis. Pertumbuhan ini sangat penting karena 'seniman mode' tersebut ikut menarik faktor pendukung industri kreatif lainnya lebih dinamis. “Kalau para tenaga ahli ini bertambah, faktor pendukung seperti tekstil, aksesoris dan lainnya akan ikut berkembang,” tegas Euis. Kehadiran beberapa asosiasi seperti APPMI dan Ikatan Perancang Mode Indonesia (IPMI) membuat kedinamisan pertumbuhan perancang mode semakin terorganisir.

Euis menyadari pentingnya peranan pemerintah. Selama ini kesulitan dari para perancang adalah mencari rantai pemasaran. “Karena itu, Kementerian Perindustrian mengundang kementerian lain seperti Kementerian Perdagangan, Kementerian Kesejahteraan Sosial, dan Kementerian Usaha dan UKM untuk mematangkan rencana meningkatkan kualitas industri fashion.

Perkembangan industri mode dilihat dari empat fase. Pertama adalah fase keindahan. Fokus model rancangan busana banyak yang hanya bertemakan keindahan dan seni berkelas tinggi. Fase ini biasa disebut sebagai fase Peter Sie. Peter Sie sendiri menjadi perancang busana pada era tersebut, era tahun 1960-1970.

Fase hasil lomba merupakan fase kedua. Fase ini menunjukkan maraknya kehadiran sekolah mode. Lomba perancang busana pun mulai bermunculan. Fase ketiga adalah fase terbentuknya industri fashion. Industri ini membuka peluang penyerapan tenaga kerja. Fase keempat adalah fase maraknya kehadiran para lulusan sekolah mode. Pada fase ini, pendidikan lebih terarah. Namun, lulusan berbagai sekolah mode ini diakui oleh Euis belum terbukti berkontribusi secara nyata. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)