25% Pria Mengaku Gemar Belanja Produk Rumah Tangga

Jika mendengar kata 'belanja', sebagian besar masyarakat tentu berpikir soal kebiasaan kaum hawa. Namun, seiring perkembangan zaman, semakin banyak pria yang mengambil peran wanita untuk berbelanja keperluan rumah tangga.

Menurut studi Nielsen Shopper Trends, meskipun 74% pembelanja utama masih perempuan, namun 25% pria yang menjadi responden mereka mengaku gemar berbelanja peralatan rumah tangga. Jumlah ini meningkat dibandikan kriteria yang sama di 2010 sebanyak 19%. Studi Shopper Trends dilakukan di lima kota besar di Indonesia dan mewawancarai konsumen dengan belanja rumah tangga di atas Rp. 1,5 Juta (US$ 150).

Pria makin menikmati kegiatan belanja, dengan sepertiga dari pembelanja pria mengaku benar-benar menikmati atau menyukai kegiatan belanja dan hanya 15% mengatakan mereka tidak menyukai belanja. Di sisi lain, tidak ada informasi mengejutkan soal kebiasaan belanja perempuan dengan dua pertiga kaum hawa ini mengaku menikmati saat-saat berbelanja. Meskipun, beberapa pembelanja (51% pria dan 37% wanita) masih menganggap belanja sebagai sebuah kewajiban.

"Memahami pembelanja menjadi sesuatu yang penting saat ini. Dalam satu tahun, kita telah melihat perubahan karakteristik pembelanja. Produsen dan pengecer perlu memahami perubahan karakteristik pembelanja untuk menciptakan komunikasi dalam toko yang efektif yang mendorong pembelanja untuk melakukan pembelian," kata Febby Ramaun, Associate Director dari Retailer Services di Nielsen.

Produsen dan pengecer dapat mengambil keuntungan dari meningkatnya jumlah pembelanja pria dengan menciptakan ‘kemudahan’ berbelanja yang sifatnya grab-and-go, atau membuat suasana belanja yang lebih ‘ramah-bagi-pria’ untuk mengubah pembelanja pria ini menjadi orang yang menikmati kegiatan browsing di toko, lanjut Febby.

Pada tahun 2003, 15% dari pembelanja mengatakan bahwa mereka merencanakan apa yang akan mereka beli dan tidak pernah membeli barang tambahan, tapi tahun ini ketika Nielsen menanyakan pertanyaan yang sama, hanya 5% mengatakan mereka merencanakan apa yang akan mereka beli.

Pembelanja sekarang dinilai lebih impulsif dalam berbelanja dengan 21% mengatakan bahwa mereka tidak pernah merencanakan apa yang mereka ingin beli, naik 11% dari tahun 2003. Pada tahun 2011, 39% mengatakan, meskipun mereka biasanya merencanakan apa yang akan dibeli, mereka selalu membeli barang tambahan. Jumlah ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan 13% pada tahun 2003. Kebiasaan membeli secara impulsif banyak terjadi di Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)