Agar Tak Pusing Mengelola Kekayaan Pribadi | SWA.co.id

Agar Tak Pusing Mengelola Kekayaan Pribadi

Deretan bank yang menawarkan layanan wealth management dipastikan bakal makin panjang. Dua bank terbesar di Indonesia, Bank Mandiri dan Bank Centra Asia (BCA), disebut-sebut tengah menggodok layanan untuk nasabah kakap ini. Penyedia layanan ini di Tanah Air lebih dari 10 bank, dipelopori oleh bank asing, seperti Citibank dan Standard Chartered Bank (Stanchart). Bank lain yang menawarkan layanan sejenis, antara lain Hongkong Shanghai Bank Corporation (HSBC), Bank Niaga, American Express (Amex), Bank Danamon, dan Bank International Indonesia (BII).

K.S. Jagannadhan, VP Wealth Management Head Citibank, N.A., merasa tak heran makin banyak bank yang menyediakan layanan tersebut. ?Potensi pasarnya sangat menjanjikan,? tuturnya. Tahun lalu, MorganStanley Singapura mengungkapkan data, di Indonesia terdapat 57 rumah tangga dengan dana potensial US$ 5,74 miliar. Rumah tangga dengan dana potensial investasi US$ 20-100 juta diperkirakan 200 unit dengan total potensial dana US$ 9 miliar. Dan, keluarga yang memiliki dana investasi US$ 5-20 juta sebanyak 5.244 satuan dengan perkiraan dana potensi investasi US$ 65,55 miliar. Sayang, kebanyakan dana tersebut diparkir di luar negeri.

Menurut Roy sembel, Direktur MM Finance and Investment Universitas Bina Nusantara, semakin makmur suatu negara, semakin terasa pula kebutuhan untuk wealth management. Jadi, bank memang melihat opportunity ini sehingga mulai memanfaatkannya. Sebagai rule of thumb, lanjutnya, bila pendapatan per kapita memasuki US$ 1.000, potensi pasar wealth management mulai ramai digarap bank.

?Wealth management memberikan solusi pengelolaan finansial kepada nasabah,? ujar Jagannadhan. Ia menjelaskan, Citibank memperkenalkan layanan Citigold Wealth Management sejak 2001 yang merupakan lanjutan dari layanan priority banking. Solusi finansial itu, ungkap Rudy Mahasin, assistant VP Wealth Management-Portfolio Head, adalah bagaimana cara mengembangkan dana. Tentu saja, nasabah Citigold ini juga mendapatkan fasilitas sebagaimana dinikmati nasabah priority banking. ?Kami tawarkan pilihan terbuka tentang bagaimana mengelola kekayaan mereka,? tutur Rudy. Untuk kepentingan ini, Citibank menyediakan ahli investasi, treasury, valas, dan reksa dana. Bagi nasabah yang ingin membiakkan sebagian kekayaannya di reksa dana, Citibank memfasilitasinya dengan menggandeng PT Citigroup Asset Managemnt dan PT Schroder Investment Management Indonesia.

Untuk menjadi nasabah Citigold, Citibank menetapkan setoran dana minimal Rp 500 juta. Selain bantuan pengelolaan kekayaan, benefit lain yang bisa dinikmati nasabah Citigold: Citigold Card yang bisa dijadikan kartu diskon di banyak merchant (hotel, restoran, toko eksklusif, klub golf, pusat kebugaran), berlangganan gratis majalah, mengikuti seri seminar, pertunjukan musik, gala dinner, sampai turnamen golf.

Tak semua bank menetapkan dana setoran awal sebesar itu. Di Stanchart, misalnya, kata Steven Suryana, Product Manager, Investment Services Wealth Management Cunsumer Banking-nya, asal sudah buka rekening di Stanchart dan berusia minimum 21 tahun, sudah bisa menikmati layanan ini. Hanya saja, bagi nasabah yang ingin berinvestasi di reksa dana, minimal nilainya Rp 100 juta. Dan, makin besar dana nasabah, semakin leluasa mengatur portofolionya.

Layanan wealth management di Stanchart, lanjut Steven, sebenarnya sudah dirintis lebih dari setahun, tetapi baru Oktober 2003 dikampanyekan dengan slogan WOW (Wealth on Wealth). Dimulai dengan layanan Investment Services pada 2001, lalu bancassurance tahun 2003, baru setelah lengkap dipromosikan sebagai wealth management.

Untuk memberikan alternatif investasi nasabahnya di reksa dana, tak tanggung-tanggung, Stanchart bekerja sama dengan sembilan fund manager: Bahana Securities, Danareka Investment Management, Mandiri Sekuritas, ABN Amro Asset Management, Shroders, MeesPierson, MLC, Manulife Investment Management, dan Citigroup. Sebagai distributor reksa dana, bank asing ini menawarkan tak kurang dari 30 produk reksa dana, terdiri atas reksa dana pasar uang, fixed income, balance fund (reksa dana campuran), dan equity fund, termasuk reksa dana berbasis US$. Malah, Stanchart memosisikan diri sebagai supermarket reksa dana.

Karena konsepnya berinvestasi, pengelolaan portofolio nasabah disesuaikan dengan karakternya. Untuk itu, kata Jagannadhan menjelaskan, layanan Citigold --disebut Relationship Citigold? dimulai dari mengetahui risk profile nasabah, baru kemudian menyusun rencana pengalokasian portofolio sesuai dengan profil mereka. Untuk memudahkan, Citibank membagi nasabah Citigold menjadi empat kategori: tidak mau risiko (risk free), risiko konservatif, berimbang, dan nasabah yang agresif. Ini akan menentukan instrumen investasi apa yang cocok bagi mereka.

Hal yang sama juga dilakukan bank lain. Menurut Wanda K. Gularso, Product Manager-Liabilities Stanchart, konsep yang ditawarkan bank yang berkantor pusat di London ini: plan, grow, dan secure. Pada tahap perencanaan pengelolaan portofolio, dimulai dari menganalisa profil nasabah untuk mengetahui profil risiko, tujuan investasi, apa kebutuhannya, jangka waktu, serta bantuan relationship manager untuk menolong nasabah melakukan wealth planning.

Selanjutnya, dalam konsep grow, Stanchart menawarkan beragam instrumen investasi dan membantu mengalokasikan aset sesuai dengan profil nasabah. Sementara itu, untuk menghindari risiko (secure) -?karena bagaimana pun investasi tak lepas dari faktor ini, secara rutin relationship manager memberikan update informasi secara reguler hasil portofolio nasabah, termasuk perkembangan makro ekonomi. ?Bila ada isu tertentu, kami juga informasikan kepada nasabah,? tutur Wanda.

Steven menambahkan, minat orang terhadap layanan ini sangat menggembirakan. Betapa tidak, pada awal dirintis, jumlah nasabahnya sekitar 2.300 orang, tapi akhir tahun lalu melonjak menjadi enam ribu nasabah. Jumlah dana kelolaannya pun meningkat dari Rp 5 triliun menjadi Rp 11 triliun. Diah R. Paramaiswari, VP Private Banking Group Head Bank Niaga, mengamini kegairahan terhadap layanan wealth management. ?Di Bank Niaga, dalam setahun terakhir tumbuh tiga kali lipat,? tutur wanita yang sehari-hari dipanggil Merry ini, tanpa mau menyebut angka nominalnya. Padahal, return yang mereka peroleh berkisar 8%-10%/tahun.

Namun, bagi nasabah yang mau mengambil risiko tinggi, BN juga memfasilitasinya, dibantu Niaga Securities dan Niaga Asset Management. Bagi mereka, juga tersedia layanan wealth management yang tailor made. ?Nasabah punya kebutuhan tertentu, kami sediakan,? tegas Merry. Produk tailor made ini bisa berupa asuransi, valas, derivatif, saham, atau obligasi. Untuk itu, nasabah dibantu penasihat keuangan pribadi, customer relationship manager yang didukung ahli keuangan, ahli ekonomi, teasury dan product specialist untuk memberikan nasihat keuangan. Hanya saja, produk tailor made itu hanya diberikan kepada nasabah private banking dengan dana minimal Rp 2,5 miliar. Mereka ini juga diberi fasilitas margin trading, yang nasabah biasa bertransaksi lima kali lipat dari dana yang disediakan.

Radianti Ratnasuminar, agen papan atas di Indonesia, mengaku banyak untungnya menggunakan layanan wealth management. Dia memilih Bank Danamon untuk mengatur portofolio investasinya. Keuntungan yang didapatnya antara lain tidak perlu setor uang sendiri karena agen asuransi ING Aetna Life Indonesia ini tinggal angkat telepon, lalu beberapa saat kemudian petugas dari Danamon datang. Di samping itu, laporan hasil investasinya dia dapatkan secara rutin tiap bulan.

Hanya saja, dia masih konservatif dalam berinvestasi. ?Deposito masih dominan. Namun, karena bunga deposito tidak menarik lagi, sedikit-sedikit dana tersebut akan saya alihkan ke reksa dana,? tuturnya. Sebetulnya, atas nasihat financial planner pula, sejak tahun lalu dia mulai melirik reksa dana. Dia memilih instrumen ini karena itu tergolong investasi aman. Untuk pengelolaan dana di reksa dana, Danamon bekerja sama dengan PT MeesPierson Finas Investment Management.

Sebagimana prinsip investasi, keberanian mengambil risiko juga menentukan besarnya return yang diperoleh nasabah wealth management. Makin tinggi risiko yang diambil, potensi keuntungannya juga makin tinggi. Sebaliknya, nasabah yang hanya mau bermain aman, return yang dikantunginya ya biasa-biasa saja. Namun, kata Jagannadhan, return terendah paling tidak sama dengan bunga SBI (Sertifikat Bank Indonesia). Sementara itu, bagi nasabah Citigold berkarakter agresif, menurut Jagannadan, setahun terakhir return yang diraihnya bisa 40%-50%. Investasi bagi nasabah golongan ini tahun lalu diarahkan ke equity (saham). ?Investasi mereka memang bersifat fluktuatif, tapi dalam jangka panjang potensi return-nya lebih besar,? Rudy menambahkan.

Hanya saja, di tengah situasi politik yang berpotenti memanas tahun ini karena ada Pemilu, Jagannadhan menganjurkan nasabah Citigold untuk memilih portofolio berimbang dan terpadu. Soalnya, jika terlalu konservatif, misalnya hanya bermain di SBI (free risk), akan kehilangan kesempatan memperoleh return lebih tinggi. Sebaliknya, bila bersikap agresif, dikhawatirkan pasar akan volatile. ?Ini tidak bagus,? tandasnya.

Tags:

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)