Anakku (dari Malaysia) Makin Agresif

Dengan bendera PT Anakku Masa Depanku (AMD),  perusahaan Malaysia ini telah merambah pasar Indonesia sejak Juli 2002. Diakui Presiden Direktur AMD, Darren K.K. Mah,  Indonesia merupakan pasar yang sangat potensial karena tingkat pertumbuhan dan jumlah penduduknya yang besar. Inilah yang mendorong perusahaan dari negeri jiran itu tak segan menggelontorkan investasi miliaran rupiah dengan membuka 17 gerai serentak di berbagai department store, antara lain di Metro, Rimo, Matahari, Galeri Keris, Sarinah, Kidz Station, Centro, Toys ?R? Us, dan Toys City.

 

?Kami optimistis di Indonesia bisa berkembang karena kami memiliki produk yang berkualitas. Itu merupakan keunggulan kompetitif,? ungkap Darren. Dengan kisaran produk yang lengkap, Darren optimistis produk Anakku bisa diserap pasar Indonesia. Apalagi, menurutnya, di pasar jarang ada merek yang menawarkan produk perlengkapan bayi selengkap Anakku. Produk ini memang hadir dalam dua kategori. Pertama, softline (barang-barang yang berbahan kain) seperti pakaian bayi, serbet makan bayi, selimut, kaus kaki, topi, dan lainnya. Kedua, hardline (barang-barang yang berbahan dasar nonkain) antara lain tas bayi, baby walker, kereta bayi, dan fast moving consumer goods (FMCG) untuk bayi seperti bedak, sabun, sampo, lotion, wipes, kapas, botol susu, dan dot. Total, ada sekitar 800 jenis produk dan sekitar  15 produk FMCG.

 

Setelah dua tahun lebih merambah pasar Indonesia, produk Anakku direspons baik oleh konsumen Indonesia. Bahkan, diakui Darren, Anakku mampu bersaing dengan pemain besar seperti Coco Baby, Little Cool,  Le Monde, dan Johnson & Johnson. Ini membuat manajemen  AMD terlihat agresif merangsek pasar. Dalam waktu hanya dua tahun, gerai Anakku telah berkembang biak menjadi 50 gerai yang tersebar di department store terkemuka berbagai kota di Tanah Air.

 

Menurut Darren, 30%-40% produk Anakku kategori softline dan hardline bisa terjual setiap bulannya dari masing-masing gerai, sedangkan jumlah selling in produk FMCG mencapai sekitar Rp1 miliar per bulan. Secara keseluruhan, omset dari kedua jenis produk itu sekitar Rp 2 miliar/bulan. Darren menargetkan pertumbuhan omset bertambah 20%-30% jika bisnis waralaba sudah berjalan.

 

Untuk memperluas cakupan distribusi produk FMCG ke seluruh Indonesia, Anakku telah resmi menunjuk PT Wigo Distribusi Farmasi menjadi distributor produk FMCG Anakku. Dengan demikian, diharapkan produk FMCG akan mencakup seluruh kota besar di Jawa, Bali dan Sumatera. Setelah itu, jangkauan distribusinya akan diperluas lagi ke Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Irian Jaya. Selain itu, AMD berencana mewaralabakan butik Anakku. Harga royalti yang ditawarkan 15 ribu ringgit (sekitar Rp 30 juta) atau fee waralaba 15% penjualan. Ditargetkan dalam 6 bulan ke depan sudah ada 20 butik Anakku di Jabotabek. ?Ini bagian dari strategi kami untuk memperluas pasar,? Darren menegaskan.

 

Sejauh ini, promosi Anakku masih sebatas kegiatan below the line. Menurut Darren, promosi above the line baru dilakukan bila produk Anakku sudah terdistribusi secara lebih luas. ?Jadi, kami tidak mau beriklan secara above the line kalau tidak ada barangnya. Lagi pula, below the line juga cukup efektif,? ucapnya. Jika distribusi sudah lebih meluas, biaya promosi above the line akan dialokasikan 20% dari laba.

 

Menurutnya, selama ini sebagian besar pendapatan AMD masih dikontribusi dari hasil penjualan di department store. Ke depan, diharapkan kontribusi terbesar datang dari FMCG 50%, dan dari waralaba butik 35%. Sisanya dari department store, karena marginnya kecil mengingat ketatnya persaingan. ?Target kami, dalam 3-5 tahun ke depan bisa menjadi salah satu dari lima pemain besar di bisnis ini. Target kami bisa melampaui omset yang dibukukan Anakku di Malaysia yang mencapai 120 juta ringgit per tahun,? ungkap Darren. Di Malaysia, Anakku hadir sejak 1973 dan saat ini tercatat sebagai produsen perlengkapan bayi terbesar di Negeri Kedah itu. ?Dan, menjadi market leader,? lanjut Darren. Selain merambah pasar Indonesia, Anakku juga hadir di Australia, Brunei, Cina, Hong Kong, Singapura, Inggris, Vietnam, Filipina, Arab Saudi dan Selandia Baru. Dijelaskan Darren, pakaian bayi Anakku telah mendapat pengakuan dari Asosiasi Produsen Tekstil Malaysia, dan produk botol susu sesuai standar baku FDA.

 

Di mata pengamat pemasaran Liza Felizia, masuknya Anakku ke Indonesia memperlihatkan kejelian produsen dalam menangkap potensi pasar. ?Jumlah penduduk dan tingkat pertumbuhan yang tinggi menjadi peluang pasar yang menjanjikan,? kata pengamat dari The Advisory ini. Menurutnya, Anakku tepat dalam membidik segmentasi pasar. Pasalnya, di sini, tidak banyak produk yang masuk di segmen kelas menengah. Padahal, Liza menilai, justru di segmen ini nilai pasarnya cukup tinggi.

 

Kisaran dan ukuran produk yang banyak, dinilai Liza, juga merupakan keunggulan lain Anakku. Toh, ia menyarankan, Anakku harus melakukan brand building dan harus bisa mencari kemauan pasar. ?Kalau bisa mengetahui selera pasar, mereka akan berhasil,? ujarnya. Supaya Anakku bisa eksis di pasar Indonesia, bahkan bisa memenangi persaingan, Liza menyarankan agar ada keunikan yang ditampilkan. ?Prinsipnya, Anakku harus memiliki unique selling position sehingga menjadi nilai jual,? katanya.

 

 

 

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)