Antonius Widjongkoko, Diaspora Indonesia Andalan NASA

Dunia penerbangan telah lama membetot perhatian Antonius Widjongkoko. Kakek dan paman dari keluarga ibunya bekerja sebagai pilot. Wajar kalau Antonius kecil memendam impian menjadi seorang pilot di kemudian hari. Kecintaannya pada pesawat terbang makin besar karena sempat lama menetap di Kemayoran, saat masih menjadi bandar udara. Semasa masih kuliah di Universitas Trisakti, Ia sempat bergabung dengan cabang olahraga gantole, sekitar tahun 1983-84 sehingga minat terhadap dunia penerbangan muncul kembali. Lulus dari Trisakti, Antonius bergabung dengan Unilever. Tapi, Ia mengundurkan diri setelah setahun mengabdi di perusahaan yang terutama bergerak di bidang manufaktur, pemasaran, dan distribusi fast moving consumer goods (FMCG) itu.

“Saya tak punya passion di sana. Selama setahun, saya menabung lalu memutuskan pindah ke Amerika. Saya kuliah dari Sacramento University, California. Setelah satu setengah tahun di sana, saya pindah ke Nicholls State University di Lousiana. Sebelumnya, saya sempat mendapat lisensi pilot dari Thibodaux, Amerika. Dapat private license karena waktu itu ada fakultas aviatornya,” ujarnya.

Antonius Widjongkoko sedang di dalam cockpit simulator Space Shuttle, NASA Johnson Space Center, Houston, TX Antonius Widjongkoko sedang di dalam cockpit simulator Space Shuttle, NASA Johnson Space Center, Houston, TX

Saat meneruskan program MBA, Antonius mengikuti saran temannya untuk menjadi asisten dosen untuk penelitian. Imbalannya adalah uang saku dan bisa mengambil kelas gratis sampai kuliah selesai. Sembari menjadi graduate research assistant, ia mengikuti kelas penerbangan hanya sekadar untuk menambah pengetahuan tentang penerbangan. Dewi Fortuna berpihak padanya. Ia ditarik masuk menjadi bagian dari tim penerbangan yang sempat memenangi kompetisi dan mendapatkan tiga medali. Setelah mengikuti kelas tersebut, jam terbangnya bertambah menjadi 200. Selepas lulus tahun 1996, ia kemudian melanjutkan ke Embry-Riddle University untuk mengambil gelar aeronetical di Florida.

“Sekolah ini adalah sekolah bergengsi penerbangan seperti Harvard atau MIT. Saya lulus tahun 1998 dan mendapatkan gelar MBA untuk Master of Aeronautical Science. Di sana saya kembali menjadi asisten dosetn dan melakukan penelitian dibantu NASA, dan lain-lain. Yang bikin bangga, hasil penelitian, dimana saya terlibat di dalamnya yakni tentang Static Fiction, bahkan masih berguna sampai kini,” katanya.

Penelitian yang dibiayai oleh Federal Aviation Administration (FAA) telah disepakati sebelum saya lulus. Sehingga saya masih memiliki tanggung jawab untuk menyelesaikannya di sela-sela kesibukan mencari pekerjaan. Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Ia mendapat tawaran pekerjaan di NASA dari dosennya. Kebetulan, NASA tempat kolega sang dosen bekerja, sedang membuka lowongan. Tanpa pikir panjang, Antonius pun memasukkan lamaran dan akhirnya diterima di tahun 1998. Bidang saya adalah human factor system engineer. Setiap tahun NASA menggelar penghargaan untuk ilmuwan mengenai penelitian luar angkasa. Ide yang bagus akan diwujudkan, biasanya akan disediakan peralatan dan komponennya.

“Keduanya tidak bisa dibeli begitu saja di wal mart dan harus dibuat. Tugas saya adalah membuat peralatan dan komponen tersebut. Saya juga bertugas untuk memverifikasi alat agar bisa digunakan oleh pilot. Tugas saya menerjemahkan ide menjadi kenyataan dan bagaimana supaya alat bisa digunakan. Saya termasuk yang ambil bagian dalam mendesain peralatan yang akan digunakan,” ujar pria yang pernah mendapatkan penghargaan dari ISA (Badan NASA Jerman) ini. (Reportase: Aulia Dhetira)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)