Aquaproof Ogah 'Tebar Pesona' ke Konsumen

Pelapis antibocor Aquaproof mengklaim tidak mau 'tebar pesona' kepada konsumen karena bagi mereka, kualitas produk adalah unsur utama. Karena itu, pola pengenalan merek Aquaproof lebih banyak ditekankan pada demo langsung kepada konsumen.

Kita tidak bisa sekadar berjanji tetapi harus langsung dibuktikan,” tegas Direktur PT Inter Aneka Lestari Kimia, produsen Aquaproof, Herman Moeliana. Pada tahap awal kemunculannya di 1983, Aquaproof dikenalkan kepada para tukang dan pemilik bangunan dengan memberikan demo. Untuk menunjukkan cara kerja waterproof coating buatannya, Herman menggunakan kain dan besek (wadah dari anyaman bambu). “Kita lapisi kain dan besek itu dengan Aquaproof, lalu diberi air. Setelah berhari-hari tidak bocor, mereka langsung percaya,” kata Herman.

Herman yakin sisi availability harus lebih dulu dipenuhi ketimbang promosi. Dirinya mengaku harus benar-benar memastikan ketersediaan produk. “Setelah itu, kita lakukan promosi baik iklan koran maupun radio,” kata Herman. Iklan Aquaproof sudah menyapa konsumen sejak 80-an akhir. Soal brand activity, Herman mengaku tidak ada yang istimewa. “Kita biasa saja dengan pasang iklan dan melakukan demo,” kata dia tanpa mau merinci berapa besaran anggaran promosi per tahun.

Meski pernah juga mengedukasi para tukang bangunan dengan memberikan pelatihan, Herman mengaku cara ini kurang efektif. “Kami sulit mengumpulkan tukang. Dulu kita pernah kerjasama dengan Holcim untuk melakukan pelatihan tukang tapi sudah lama berhenti,” kata Herman lagi.

Soal produk, Herman mengklaim Aquaproof lebih bagus ketimbang merek lain. Menurutnya, Aquaproof lebih pas diterapkan untuk bangunan di negara beriklim tropis. “Karena Aquaproof dibikin orang Indonesia dan melalui tahap R&D di Indonesia juga,” kata dia. Kadar panas dan intensitas hujan di negara tropis seperti Indonesia jelas berbeda dengan sengatan matahari dan hujan di negara subtropis. Selain itu, kualitas bangunan di Indonesia juga lebih rendah dibanding negara maju.

Kondisi inilah yang membuat Herman tak khawatir dengan gempuran pendatang baru dari luar negeri maupun dalam. “Mungkin produk luar negeri bagus di negara asalnya tetapi tidak cocok untuk karakter bangunan di Indonesia,” kata dia. “Selain itu, rata-rata pemain dalam negeri memiliki pengetahuan yang kurang dalam bidang kimia,” tambah dia.

Herman yakin konsumen akan tetap memilih Aquaproof ketimbang merek lainnya. Meski merek lain menawarkan harga lebih murah 10-15% dari harga Aquaproof (Rp 30-an ribu/kg). “Menurut beberapa agen, Aquaproof menjadi produk andalan. Makanya banyak toko bangunan yang berani memangkas margin Aquaproof guna memancing konsumen,” terangnya.

Herman juga mengklaim Aquaproof telah menguasai pasar hingga 80% untuk waterproofing dari sekitar 20 merek yang berkompetisi. “Market size kami bisa sampai 4 ribu ton per tahun,” tambah Herman. Namun, angka tersebut masih terlalu kecil bila dibanding dengan pangsa pasar cat konvensional. Sebab, tingkat repeat buying produk waterproofing lebih rendah ketimbang cat tembok biasa. “Apalagi Aquaproof bisa tahan hingga 10 tahun tanpa warnanya pudar,” kata dia. Namun demikian, Herman optimis potensi pasar masih besar lantaran pertumbuhan perumahan dan properti juga bagus. Sayang, Herman enggan membeberkan berapa omset tahunan Aquaproof. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)