Bagaimana Cara 'Jualan' Indonesia di Mata Dunia?

Apa jadinya jika suatu negara atau perusahaan tidak memiliki konsep branding yang kuat? Ibarat berjualan, suatu produk atau jasa sulit dikenal masyarakat jika branding gagal diterima. Dampak lanjutan, penjualan produk tentu tersendat-sendat.

Sebagai suatu negara, Indonesia memang harus memiliki konsep branding yang matang. Alasannya adalah meningkatkan daya jual dan persuasi komunikasi pemasaran, mengefektifkan anggaran komunikasi pemasaran, meminimalkan dampak bila terjadi krisis kepercayaan, membangun kebanggaan dan loyalitas dan meningkatkan daya saing.

Contonya jika saya mewawancara turis luar negeri soal tempat populer di Indonesia, mereka hanya menjawab tiga tempat yaitu Bali, Jakarta dan Yogyakarta. Di sisi lain, jika wisatawan lokal ditanya soal 5 tempat populer di Singapura, mereka dengan cepat menjawabnya. Ini menunjukkan bahwa branding Indonesia masih tertinggal dari negara lain, Singapura dan Malaysia misalnya,” ujar President Branding Indonesia, Daniel Surya di The Bellezza Suites, Jakarta, pada Rabu (18/5).

Untuk membangun branding yang kuat, diperlukan beberapa langkah strategis yaitu komitmen perusahaan, kebersamaan seluruh personil terkait, perumusan strategi dan program pengembangan merek, kecukupan anggaran serta konsistensi sikap, pandangan dan langkah pengembangan merek.

Dalam kajian yang dilakukan Branding Indonesia dan SPLASHH Research, terdapat dua masalah utama dalam pengembangan merek negara atau perusahaan Indonesia yaitu rendahnya kesadaran dan komitmen membangun merek serta belum dirumuskan strategi dan program pengembangan merek.

Meskipun, ketidaan konsistensi dari para pelaku branding perusahaan dan negara menjadi masalah tersendiri yang sering dihadapi,” ujar Daniel Surya lagi.

Karena itu, Branding Indonesia merekomendasikan beberapa langkah yang bisa diterapkan yaitu perumusan strategi dan program untuk Nation Branding of Indonesia, serta pembentukan semacam komite atau tim koordinasi nasional pengembangan brand Indonesia sebagai cara mengkoordinasi dan mengakselerasi pengembangan national brand maupun merek dari produk di Indonesia.

Selain itu, pengamat branding dan ilmu marketing mengakui peran media online dan jejaring sosial sangat besar dalam membangun 'popularitas' merek di masyarakat. Namun, jangan salah langkah. Jika tidak didukung media konvensional, konsep branding di media online tidak akan berjalan dengan baik.

Penggunaan media konvensional dan media online layaknya permainan tenis meja atau ping-pong. Seperti permainan ping-pong, media konvensional dan media online saling berkesinambungan. Ketika media online melempar isu ke masyarakat, ini harus ditanggapi oleh media konvensional. Begitu pula sebaliknya. Kalau tidak, strategi terancam gagal,” ujar Pemimpin Redaksi SWA, Kemal E. Gani.

Menurut Chief Strategy Consultant Arrbey, Handito Joewono, pemasaran merupakan proses pemahaman ekspektasi konsumen yang diinterpretasikan melalui pengembangan produk dan mengenalkannya ke pasar dalam rangka menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan.

Karena itu, meskipun kita sudah membentuk konsep ideal soal bagaimana branding produk disampaikan ke konsumen, tapi kalau belum paham kemauan konsumen, target perusahaan juga tidak akan terpenuhi,” tegas Handito.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)