Bandung Masih 'Pincang' di Segi Nonekonomi

Sebagai arsitek dan tokoh kreatif, Ridwan Kamil mengakui bahwa Bandung makin 'tidak sehat' untuk menjadi tempat tinggal meski pertumbuhan ekonomi terus meningkat. Pasalnya, demografi yang sempit karena diapit pegunungan membuat Bandung tidak lagi mampu menampung penambahan penduduk yang melonjak tajam.

Dengan skala kota yang tidak terlalu besar, masyarakat harus mengurangi ketergantungan pada kendaraan bermotor. “Setelah kemerdekaan, Bandung malah menjadi semrawut karena ledakan populasi dan ekonomi tidak diimbangi dengan perbaikan infrastruktur dan kapasitas kota.” Layaknya manusia, komposisi kota pun harus seimbang. Bandung menjadi salah satu contoh dari banyaknya kota di Indonesia yang terlalu mengedepankan ekonomi tanpa memperhatikan tata kota dan segi kemanusiaan.

Walaupun Bandung termasuk the best city to invest, tapi masyarakat harus melihat ukuran index of happiness, tidak hanya GNP,” tegas Ridwan. Kemajuan ekonomi belum tentu berbanding lurus dengan kebahagiaan penduduk. “Bandung, menurut saya, masih pincang dari sisi nonekonomi meskipun dari segi ekonomi tampak booming. Saya dengan, ada 20 perusahaan yang antri untuk melakukan perizinan bisnis.”

Kualitas Bandung juga berhubungan dengan kreativitas masyarakat. Apalagi, salah satu ciri kota kreatif adalah tingginya populasi anak muda. “Bandung dan Yogyakarta memiliki tingkat industri kreatif yang tinggi karena populasi anak muda yang mendominasi. Mereka butuh penyaluran ide-ide. Karena itu, lahirlah kuliner 'seru' dan 'aneh'. Apalagi, daya serap teknologi di Bandung cukup tinggi,” kata Ridwan.

Bandung pun memiliki alam yang indah dan budaya sosialisasi yang tinggi. “Syarat munculnya kreativitas di suatu tempat adalah budaya masyarakat yang terbuka (open society). Meskipun begitu, kreativitas Bandung masih berskala individual, belum dalam lingkup komunal atau lintas individu.”

Mengatasi kepadatan penduduk, Ridwan menyarankan pemerintah daerah Bandung untuk membangun kepadatan vertikal, harus mulai membangun gedung 6-8 lantai. Berdasarkan teori kota, suatu wilayah harus memperhatikan jenis bangunan yang disesuaikan dengan jenis populasi. “Kota-kota di Indonesia dibangun berdasarkan spontanitas. Ini lebih banyak sisi negatif daripada positif.” (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)