Barang Impor China Turunkan 30% Omset Pedagang Pasar Tanah Abang

Dahi Ade Fonda Arifin (22) mengernyit sejenak sambil duduk menjaga tokonya di ruko Tirta Jaya, Pasar Tanah Abang Blok F. Pasca-Lebaran, ia merasakan masuknya barang-barang buatan China makin agresif.

Dengan berjualan kerudung, mukena, dan baju koko, Ade menikmati peningkatan omset 3 kali lipat dalam bulan Ramadhan

Membanjirnya impor berimbas pada angka penjualan Ade dan pedagang pakaian jadi lainnya di Pasar Tanah Abang. “Sangat terasa. Penjualan menurun 20-30%,” keluh Ade ketika ditemui SWAonline di tokonya, Ed-In.

Dulu Ade sempat menjual gamis. Apa daya, usahanya memasuki krisis pada 2002 silam. Bisnis pun anjlok karena kalah bersaing dengan barang buatan China. Sampai hari ini, ia konsentrasi menjual kerudung, mukena, dan baju koko saja.

Kini hampir semua jenis barang yang dijual di Pasar Tanah Abang dikuasai oleh produk China. Sementara itu, produk Jepang dan Korean menguasai blok tekstil.

Maka, menurut Ade, strategi menghadapi serbuan barang impor dari China adalah menggenjot produksi. “Strategi saya, kuantitas diperbanyak,” tegasnya. Pada bulan Ramadhan, contohnya, ia menggenjot produksi konveksi di rumahnya sampai 3000 potong dalam sehari.

Ade menjual kerudungnya dengan standar harga Rp 50.000-160.000. Ia bisa mengambil keuntungan Rp 10.000-15.000 untuk sepotong kerudung yang terjual baik secara grosir maupun eceran. Selama bulan Ramadhan, ia pernah mendapat transaksi senilai Rp 80 juta dengan seorang pelanggan domestik dan juga senilai Rp 100 juta dengan pelanggan mancanegara.

Soal persaingan antarpedagang pakaian di Pasar Tanah Abang pun ada aturan mainnya. Satu pedagang boleh menjual corak yang sama dengan pedagang lain, asalkan dicetak di atas bahan kain berbeda. “Biasanya sudah tahu satu sama lain,” imbuh Ade yang menggunakan kain korea untuk sebagian besar produknya. (Ario)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)