BB Hapus Defisit Rp 34,9 Triliun Melalui Kuasi

 

PT Bakrie & Brothers Tbk. (BB) mengumumkan bahwa proses kuasi reorganisasi telah selesai dilakukan. Seluruh rangkaian proses kuasi telah dilewati dengan baik dan diselesaikan sesuai tata cara dan prosedur yang berlaku.  “Kami bersyukur seluruh prosedur hukum untuk melakukan kuasi sudah tuntas. Kini saatnya kami memulai bisnis dari awal dan melangkah lebih baik,” jelas Bobby Gafur Umar, Direktur Utama BB.

 

Dijelaskan oleh Bobby, proses kuasi reorganisasi yang dilakukan BB membutuhkan energi dan waktu yang panjang. Sebab, untuk melakukan kuasi ini, pihaknya harus melakukan pekerjaan yang kompleks dan sangat rinci yang berujung pada penyehatan neraca perusahaan.

 

Melalui kuasi ini, BB akan menghapus defisit senilai Rp 34,9 triliun. Defisit itu di antaranya berasal dari nilai akumulasi kerugian bersih, selisih nilai transaksi restrukturisasi entitas sepengendali dan rugi investasi jangka pendek yang belum terealisasi.

 

Sampai dengan 30 Juni 2011, BB mencatat saldo defisit sebesar Rp 27,7 triliun. Defisit terutama merupakan akumulasi dari kerugian bersih BB  sebesar Rp16,5 triliun pada 2008, lalu Rp1,7 triliun pada 2009 dan Rp 7,6 triliun tahun 2010.

 

Sejalan dengan pelaksanaan kuasi reorganisasi, Bobby  juga menuturkan bahwa pihaknya akan terus meningkatkan kualitas good corporate governance (GCG). “Sebagai perusahaan yang memiliki entitas bisnis di bursa global, melalui Bumi plc, kami berkomitmen untuk menjalankan bisnis sesuai standar dan etika bisnis global,” tegaasnya.

 

Bobby menambahkan, strategi bisnis BB saat ini sudah  tepat dalam menghadapi turbulensi yang terjadi pada perekonomian global. Apalagi, BB memiliki pengalaman panjang menghadapi dua krisis besar yang pernah terjadi, yaitu krisis moneter di tahun 1997 dan krisis finansial global tahun 2008.

 

Ke depan, BB akan tetap fokus di sektor industri berbasis sumberdaya alam dan infrastruktur. Dua sektor tersebut dianggap memiliki prospek dan nilai tambah yang sangat positif.  Kendati perekonomian global, khususnya di Eropa sedang mengalami krisis, Bobby meyakini perekonomian Indonesia di tahun 2012 masih akan tumbuh antara 6,6-7%. “Stabilnya faktor-faktor ekonomi dan keberhasilan pemerintah dalam melaksanakan pembangunan infrastruktur akan menjadi kunci pendorong pertumbuhan ekonomi nasional, dan BB akan berperan aktif dalam pembangunan infrastruktur di Indonesia,” tegasnya.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)