BINUS Menghasilkan Lulusan Bukan Sekadar Pintar, tapi Juga Inovatif

Firdaus Alamsjah, Ph.D mengatakan, untuk menghasilkan lulusan (S1 dan S2) terbaik, harus ditunjang oleh dosen terbaik. Ia menganalogikan dosen seperti juru masak. “Jika juru masak bagus hasil masakan pun enak. Demikian bila dosennya bagus, maka lulusan pun bagus,” ujarnya. Executive Dean Binus Business School, itu.

Dosen memiliki dua syarat: academically qualified dan professionally qualified. Academically qualified artinya dosen BINUS harus lulusan dari sekolah terbaik, setidaknya lulusan 500 perguruan tinggi terbaik di dunia. Dosen jjuga harus punya pengalaman kerja yang sesuai dengan apa yang akan diajarkan. Secara akademik, dosennyaa harus memiliki kemampuan riset yang mumpuni.

“Selain dosen, kami juga memperhatikan konten yang akan diberikan ke mahasiswa. Dosen bagus akan men-deliver konten yang bagus,” terangnya. Ini tergantung lulusan seperti apa yang akan dihasilkan di tiap jurusan atau program studi.

Lulusan BINUS bukan sekadar pintar namun juga inovatif. Budaya inovatif ini tidak bisa dibangun sehari dua hari, khusus S2 di BINUS Business School, ada mata kuliah yang dikaitkan dengan inovasi. Jadi, tiap mata kuliah, ada bagian dimana mahasiswa harus mengembangkan project dan terobosan baru yang menunjukan inovasi baru.

Bagi S1 di BINUS, mereka harus mengerjakan proyek bersama temannya untuk tugas akhir yang tiap orang memiliki tanggung jawab seperti peran di perusahaan. Ada yang memegang keuangan, ilmu komputer, produksi, pemasaran dan sebagainya. Bukan sekadar skripsi yang dikerjakan individual. Jadi sudah diajarkan bekerja dalam tim seperti halnya di perusahaan.

“Kami menyiapkan lulusan yang siap bekerja di perusahaan multinasional,” klaim Firdaus. Belum lama ini pihaknya melakukan survei pada alumni lebih dari 80% lulusan BINUS terserap di dunia kerja. Malahan jurusan akunting belum lulus sudah diminta perusahaan, kebanyakan big 5 perusahaan audit seperti Ernst & Young dan Price Waterhouse Cooper.

Perlu diketahui, bahwa BINUS dalam memilih jurusan yang ditawarkan berpatokan pada betapa Indonesia yang kuat di industri kreatif. Maka itu beberapa jurusan S1 nya meliputi bidang yang terkait dengan industri kreatif, seperti fashion design, marketing design, bahkan ada jurusan film. “Kelebihan BINUS ada di Teknologi Informasi (TI). Tentu kami menghasilkan sutradara yang kuat kemampuannya di film yang memiliki latar belakang teknologi,” ujarnya mengklaim.

Tentang kesenjangan antara dunia kerja dengan pendidikan, Firdaus menggunakan data survei yang belum lama ini dilakukan pihaknya. Bahwa menurut 1.800 responden yang merupakan lulusan BINUS yang telah bekerja baik S1 maupun S2, kala ditanyakan apakah yang dipelajari di BINUS berhubungan atau tidak dengan pekerjaan yang digelutinya sekarang. Ternyata, data survei menunjukan yang menyatakan tidak berhubungan hanya 20%, sedang yang menyatakan berhubungan 80%.

Artinya lulusan BINUS menggunakan ilmunya secara maksimal dari yang didapatnya kala kuliah, karena apa yang dipelajarinya kala di kampus berhubungan dengan dunia kerjanya.

Hal ini juga dikarenakan BINUS menyediakan fasilitas Student and Alumni Relation. Fasilitas ini membantu meminimalisasi gap antara dunia kerja dengan kuliah. “Kami coba siapkan sebelum mereka lulus get ready to work, mulai dari membuat CV hingga interview,” terangnya.

BINUS juga dikenal sebagai kampus yang menelurkan banyak technopreneur, mereka yang bisa menjadikan bisnis dengan latar belakang teknologi. “Salah satu alumni kami, namanya Chris Antony jurusan Computer Science ada yang menghasilkan game online yang dimainkan 60 juta orang di seluruh dunia,” ujarnya.

Seperti perguruan tinggi lain BINUS juga menjalin kerja sama dan kolaborasi dengan industri dan universitas di luar negeri. “Kami juga ada double degree program, setahun di partner,” katanya. Partner universitas yang diajak kerjasama bukan saja yang bagus semata namun juga sejajar dengan lulusan BINUS. Mereka mengakui mata kuliah yang diberikan BINUS juga, jadi BINUS punya international quality program.

Kerja sama dengan industri dilakukan melalui proyek-proyek riset. “Kami rutin lakukan kegiatan CEO Speaks, Knowledge Sharing, Executive Education,” ujarnya. Executive Education bentuknya pelatihan untuk para eksekutif. Dengan dosen berani memberikan pelatihan eksekutif untuk korporat bisa lebih percaya diri kala mengajar di kelas mahasiswa. “Beda lho ngajar eksekutif dan mahasiswa, sebab eksekutif lebih berpengalaman,” katanya sambil menyebut ada 40an dosen S1 dan S2. BINUS juga punya consulting unit yang menangani konsultasi korporasi untuk bidang TI dann Manajemen.

Untuk membuka peluang berkarir di perusahaan global, pihaknya rutin mengadakan bursa kerja. “Kami membuka Fortune Global 500 Company Carrier Marathon Day,” ujarnya. Jadi perusahaan-perusahaan dengan reputasi global akan masuk dalam hari karier di kampus BINUS.

Firadaus yakin bahwa lulusan BINUS adalah lulusan yang percaya diri. Ini dikarenakan mereka sangat siap bekerja di lingkungan kerja yang juga internasional setelah menimba ilmu di BINUS. Karena BINUS mempersiapkan lulusan yang berstandar internasional, sehingga ketika bekerja di perusahaan lokal berstandar internasional atau multinasional, para lulusan sudah siap pakai. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)