Bisnis 'Dotcom' Berisiko Tinggi bagi Investor

Bisnis situs internet berisiko tinggi bagi pemodal karena belum jelas soal prospek kinerja, platform gagasan serta gampang tergilas kondisi pasar. Meskipun tanpa dipungkiri, beberapa start up mampu meraih profit setelah beroperasi selama beberapa tahun. Angel investor menjadi 'sang penyelamat' untuk menyuntikkan dana karena perbankan umumnya ogah berikan pembiayaan di bidang ini.


Pernyataan tersebut diungkapkan Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Rhenald Kasali. Hanya segelintir start up yang menarik bagi investor dan seringkali, kesempatan yang datang bagi para start up itu tidak datang dua kali sehingga mereka segera melepas 'sang ide' jika muncul investor yang tertarik. Biasanya, menurut Rhenald Kasali, investor yang mengambil alih start up dalam negeri adalah perusahaan global yang ingin melakukan perluasan usaha dan memanfaatkan start up tersebut untuk tumbuh.


Selain itu, ada pula perusahaan besar dari dalam negeri yang berminat mengambil alih startup-startup di bidang IT. Biasanya itu adalah perusahaan besar yang ada anak muda dengan posisi strategis di dalamnya sehingga mereka tertarik membeli perusahaan startup di bidang IT. “Pokoknya konglomerat atau perusahaan besar yang di dalamnya ada anak muda yang memegang posisi strategis. Seperti Djarum, anaknya kan masih muda,” ujarnya.


Ia juga mengungkapkan, fenomena yang ada di Indonesia, anak-anak muda sering tidak matang dalam bisnis sehingga, untuk mencapai keberhasilan, dibutuhkan waktu yang lama. “Seringkali mereka sangat berambisi, ada yang membangun sendiri dari awal, dan ada pula yang mengambil alih bisnis temannya lalu dijalankan. Namun yang benar-benar berhasil masih sangat sedikit. Paling hanya Kaskus. Sedangkan yang lain paling hanya mampu menjual startup dengan harga misalnya Rp 200 juta setelah setahun. Itu kan angka yang kecil sekali,” ujarnya.


Menurut Rhenald, anak-anak muda tersebut baru mampu menghasilkan suatu produk, namun dari segi manajerial, business development, pemasaran dan sebagainya masih berantakan. Rhenald menyarankan, bagi para pelaku bisnis startup perlu diketahui bahwa bisnis itu bukan sekadar creating IT product tapi creating value. Anak muda seringkali berpikir bahwa mereka yang harus menjadi seniman dalam membuat sebuah produk. Padahal, masih banyak yang harus dilakukan dalam sebuah bisnis selain menciptakan sebuah produk.


Membuat produk itu membutuhkan waktu yang tidak sedikit. Jangan sampai mereka kelelahan dan kehabisan energi karena menciptakan produk dan berhenti sebelum sempat melangkah ke tahap-tahap selanjutnya. “Perlu diingat, hanya sedikit orang yang bisa menjadi Bill Gates. Kalau mau sukses jangan tanggung-tanggung. Jadilah Bill Gates sekalian. Jangan menjadi Steve Jobs di tahap awal,” tegasnya. (Acha)





Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)