CEC dan E-Idea Jadi 'Anak Emas' British Council

Layaknya anak emas, Community Entrepreneurs Challenge (CEC) dan E-Idea menjadi program unggulan bagi British Council untuk menumbuhkan dunia kewirausahaan di Indonesia. Pasalnya, kewirausahaan sosial memberi keuntungan ganda yaitu dari segi pengusaha sekaligus masyarakat.


Pernyataan tersebut diungkapkan Fajar Anugerah, Manajer Program British Council Indonesia. British Council sendiri memiliki dua program yang menonjol dalam memfasilitasi kewirausahaan, Community Entrepreneurs Challenge(CEC) dan E-idea. Jika Community Entrepreneurs Challenge merupakan program untuk mengidentifikasi dan mendukung wirausahawan sosial berbasis komunitas, maka E-idea adalah program yang menaruh perhatian pada mendukung perubahan iklim dan lingkungan berbasiskan kewirausahaan.


Untuk menunjang program CEC, British Council bekerja sama dengan lembaga Arthur Guiness Fund. Sedangkan untuk E-Idea, didukung atas sponsor Lloyd’s Register Quality Assurance (LRQA). Perusahaan tersebut merupakan penyedia Asuransi Bisnis yang independen yang mencakup jasa sertifikasi, validasi, verifikasi dan pelatihan. LRQA meningkatkan keamanan atas jiwa, harta benda dan lingkungan hidup dengan membantu klien-kliennya untuk memastikan keamanan dari konstruksi dan operasi infrastruktur penting. Perusahaan ini memiliki organ-organ badan amal dan non-amal yang mendukung tercapainya tujuan utama dalam bidang amal.


Selain pendanaan, British Council memberi dukungan pelatihan. Misalnya seperti Wangsa Jelita, pemenang CEC tahun lalu. Bisnis Wangsa Jelita adalah sabun natural yang salah satu bahan bakunya adalah kelopak mawar. Sebelumnya, oleh bandar mawar, para petani mawar yang berbatang pendek, dihargai dengan harga lebih rendah dari mawar berbatang panjang.


Namun Nadia Saib, pendiri Wangsa Jelita, menerapkan perdagangan yang adil. Perdagangan tersebut membayarkan setiap batang mawar dengan harga yang sama rata. Hal itu karena Wangsa Jelita hanya menggunakan kelopak-nya saja. British Council ikut mendukung pelatihan kepada petani mawar dalam produksi sabun mawar untuk Wangsa Jelita. “Bahkan terdapat koperasi dan mereka diajarkan bagaimana mengelola keuangan,”ungkap peraih gelar MA dari Universitas Essex, Inggris jurusan Human Rights itu.


Kami melihat di Inggris sudah ada perkembangan komunitas yang luar biasa. Ini terlihat dari peranan komunitas yang sangat signifikan sehingga bisa menyamai peranan pemerintah,” kata Fajar. Ia menyontohkan sebuah komunitas masyarakat di Inggris yang berhasil membangun fasilitas publik. “Mereka mengelolanya secaa profesional, namun fasilitas itu digunakan untuk kepentingan masyarakat.”


Jika berbicara soal Indonesia, bisnis atau wirausaha masih dipahami sebatas pada kegiatan perdagangan untuk mendulang keuntungan finansial yang sebanyak-banyaknya. Padahal, kegiatan yang awalnya berorientasi sosial tetap bisa memberikan keuntungan finansial, sekaligus menghasilkan keuntungan lain seperti pemberdayaan masyarakat, pelestarian lingkungan, dan juga budaya.

Melalui wirausaha, maka ada banyak persoalan sosial yang dapat diselesaikan. Selain soal infrastruktur yang belum maksimal dalam dukungannya, mental masyarakat yang tidak berani mengambil resiko menjadi salah satu pengganjal berkembanganya kewirausahaan. “Masih banyak masyarakat yang berpikir ingin menyempurnakan ide bisnis terlebih dahulu. Masih banyak yang berpikir ingin menunggu kesiapan dalam memulai usaha. Padahal, kapan mereka merasa siap?” kata Fajar menyayangkan. (Acha)


Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)