CIMB Niaga Gelar Economic Outlook Conference

Krisis yang terjadi di Eropa dan gejolak fiskal di Amerika Serikat menjadi perhatian masyarakat dunia, tak terkecuali bagi Indonesia. Bank CIMB Niaga sebagai entitas bisnis yang beroperasi di Indonesia dan pastinya akan terdampak kondisi keuangan dunia, lantas menggelar Economic Outlook Conference, dengan tema “Indonesia 2012: Riding Optimism and Challenges Ahead”.

Hadir sebagai pembicara dalam acara tersebut yakni Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal Gita Irawan Wirjawan, Pengamat Ekonomi Universitas Indonesia (UI) yang sekarang menjabat Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional (KEN) Muhammad Chatib Basri, dan Chief Economist CIMB Niaga, Winang Budoyo.

Dalam konferensi yang digelar Rabu lalu (12/10) disebutkan, krisis global yang terjadi sekarang ini telah merambah ke kawasan Asia Tenggara. Hal ini terlihat dari penurunan ekspor yang terjadi di negara-negara ASEAN, termasuk Indonesia. Tak hanya itu, ketidakpastian perbaikan ekonomi dunia turut mendorong terjadinya pelarian modal asing dari Indonesia. “Larinya modal asing keluar dari Indonesia membuat cadangan devisa yang sempat mencapai level tertingginya di kisaran US$125 miliar pada akhir Agustus 2011, nilainya tergerus hampir US$10 miliar, menjadi US$114,5 miliar di akhir September 2011,” jelas Chief Economist CIMB Niaga, Winang Budoyo.

Winang berharap, apa yang terjadi saat ini hanyalah kondisi sesaat. Apalagi, efek dari krisis global belum menyentuh sendi-sendi perekonomian Indonesia. “Ketika ketidakpastian dan kepanikan berkurang, maka dana-dana asing akan kembali memasuki Indonesia”, tambah Winang.

Menurut Pengamat Ekonomi dari UI yang juga Wakil Ketua Komite Ekonomi Nasional Muhammad Chatib Basri, meski saat ini cukup banyak modal asing yang keluar dari Indonesia, dalam jangka menengah aset non US Dollar yang ada di negara emerging market (termasuk di Indonesia) justru menjadi alternatif pilihan investasi bagi investor pemegang dana segar. “Pilihan investasi di negara emerging market menjadi seperti surga bagi mereka,” kata Chatib.

Meski demikian, Pemerintah Indonesia dinilai telah mengambil beberapa langkah untuk mencegah penyebaran krisis global. Misalnya, saat Bank Indonesia (BI) melakukan intervensi ke pasar agar rupiah tidak terlalu melemah. Meski pelemahan rupiah mampu mendongkrak kinerja ekspor Indonesia, namun memang dampaknya tidak terlalu signifikan bagi perekonomian Indonesia.

Adapun berdasarkan hasil stress test perbankan yang rutin dilakukan oleh BI, BI menyatakan perbankan Indonesia merupakan salah satu sektor yang relatif kuat dalam menghadapi goncangan krisis. “Ini seperti blessing in disguise, dalam arti perbankan bisa memanfaatkan kondisi ini untuk mencapai target pertumbuhannya,” pungkas Winang.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)