Diaspora Indonesia Ini Angkat Produk Tas dari Limbah Plastik

Mey Hasibuan berkebaya

Terinsipirasi dari apa yang disampaikan Emma Watson: As consumers we have so much power to change the world by just being careful in what we buy, sejak beberapa tahun terakhir Mey Hasibuan, diaspora Indonesia yang tinggal di Amerika menggagas berbagai produk fasyen dari daur ulang limbah plastik dengan nilai tinggi. Produk tas ini kemudian dijual ke Amerika dan negara-negara lain dengan perpaduan kain khas Indonesia.

“Kantong plastik bisa berusia 450 tahun di dalam tanah dan dalam 10 tahun terakhir produksi tas plastik mencapai 1 triliun di seluruh dunia setiap tahun atau 1 juta tas plastik per menit,” ujarnya di PSW Tower saat Seminar & Workshop yang bertajuk Menjadi Konsumer yang Peduli Lingkungan dan Sesama.  (14/09/2019).

Masalah ini menjadi perhatian Mey yang kemudian menggandeng beberapa rekan untuk lebih serius mengatasi sampah plastik ini. Ia berkolaborasi dengan dua rekannya agar bisa menghasilkan sesuatu yang diminati masyarakat dunia dan bisa terjual dengan harga tinggi. Dua rekannya itu adalah Ratna dari Preciouse One yang membina para difabel dan Slamet yang aktif mengkoordinir pada manula agar lebih produktif dari Yayasan Lumintu

Tujuan dari acara ini adalah untuk mensosialisasikan tas produk daur ulang berlabel Inang yang menggunakan bahan plastik limbah industri. Tas-tas fashionable yang berbahan plastik recycle sisa limbah industri ini dianyam oleh ibu-ibu lansia yang berusia 70 - 80 tahun ini masih semangat menganyam. Hasil anyaman tersebut kemudian dijahit oleh komunitas dissabilitas di bawah Yayasan Precious One.

“Harapan saya, semakin banyak masyarakat
yang tergugah untuk menggunakan produk-produk yang ramah lingkungan dan lebih
peduli pada sesame,” jelas Mey yang juga
pendiri Gallery of Indonesia di Amerika.

Para peserta yang hadir di acara dapat melihat langsung para penganyam dan belajar menganyam dengan ibu-ibu lansia. Hadir juga di acara salah satu penjahit dari Precious One yang merupakan tuna-rungu. “Dengan menggunakan tas daur ulang, tidak hanya kita menjaga lingkungan, tapi juga membuka lapangan kerja bagi teman-teman dengan kebutuhan khusus,”  ungkap Ratna Sutedjo, Pendiri Precious One.

Mey menyayangkan konsumen kurang menghargai produk daur ulang plastik, memandang terlalu mahal harga produk daur ulang padahal jika membelinya, artinya konsumen mencegah sampah plastik menumpuk di bumi. Dengan meningkatkan kualitas produk hasil daur ulang ini, Mei berharap akan bisa meningkatkan harga produk.

“Produk tas dengan desain kekinian, kombinasi bahan atau kain khas Indonesia, mendorong orang untuk membelinya. Saya akan membawa produk-produk ini ke Amerika,” katanya. Harga tas mulai dari Rp 350 ribu sampai jutaan. Ia mengaku sangat kewalahan menerima pesanan calon pembeli, mengingat ini dikerjakan dengan tangan, jadi tidak bisa diproduksi massal.

Di Indonesia, tas yang diberi merek Inang ini salah satu pelanggan korporatnya adalah Bank Mandiri, yang membeli produk ini untuk diberikankepada nasabah-nasabah terpilihnya. Ia menyebutnya A gift that giving.

Saat ini produk-produk Inang hanya tersedia online di handmadenesia.com dan pameran-pameran. Gaya hidup digital juga merupakan sebuah kebutuhan masyarakat saat ini. Drs. Sadjan, M.Si., Setten Aplikasi Kemkominfo menjelaskan, “Pemerintah mendorong para start-up untuk memasuki bisnis digital yang secara tidak langsung mendorong program peduli lingkungan”.

Mey mengaku sudah menjual tas dengan bahan daur ulang ini sampai ke di New York dengan kombinasi kain ulos. Ia ingin mengubah mindset dan habit dari kebiasaan konsumen yang konsumtif agar sadar akan lingkungan dan sesama. “Bu Habibah yang berusia 82 tahun menganyam produk ini sambil menonton TV dari bahan plastik yang sebelumnya jadi sampah," ujar dia.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Tags:
Diaspora inang

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)