Disayangkan Jika Komunitas Hanya Dianggap Target Market

Pengamat pemasaran Yoris Sebastian mengamati bahwa kini makin banyak bermunculan komunitas konsumen, terutama komunitas yang terkait dengan merek suatu produk tertentu. Sayangnya, banyak dari mereka yang hanya fokus mengejar kuantitas dan menganggap komunitas ini sebagai target market, bukan komunitas sebagai kumpulan orang dengan passion yang sama.

Yoris berpendapat, mestinya perusahaan benar-benar membentuk atau mencari komunitas yang memang selaras dengan perusahaan mereka. Sehingga komunitas tersebut benar-benar aktif dengan atau tanpa dukungan dari perusahaan. “Banyak komunitas yg mati begitu tidak disupport lagi oleh perusahaannya,” kritik pakar kreativiras itu. Terutama pada komunitas yang berbasis nama brand, bukan komunitas yang berbasis kesamaan anggotanya.

Toh, itu bukan berarti Yoris tidak setuju komunitas dengan memakai nama perusahaan tertentu. “Tapi, dasarnya harus dari kesamaan passion, needs, pekerjaan atau lainnya,” tuturnya menyarankan.

Menurutnya, membentuk komunitas itu pekerjaan maraton. Jadi, bukan pekerjaan dengan “akhir” tertentu. Ia lalu meminta kita melihat bagaimana Harley Owner Group dibuat sebagai platform, setelah itu para anggota komunitasnyalah yang aktif. “Aktif, jadi mereka tetap sibuk bikin acara sendiri meski tidak dikasih uang bensin,” tegasnya. Ia membenarkan banyak komunitas yang harus disuapi terus oleh brand yang mendukung komunitas tersebut.

Untuk tidak menjadi bumerang, ia menyarankan perusahaan harus tampil sebagai problem solver dari komunitas yang ada, atau untuk komunitas yang dibentuk. “Brand harus memberi berbagai hal yang belum tentu bisa dicapai oleh si komunitas itu, Sehingga mereka melihat brand sebagai hero, dan mereka akan berterima kasih kepada brand yg mendukungnya,” paparnya.

Ia menegaskan, kerja sama dengan komunitas atau membentuk komunitas tidak melulu dengan harus ada embel-embel hard sell. “Sekarang semakin banyak open community yang sengaja dibuka oleh brand untuk menunjukkan how good their user is,” imbuhnya. Nah setelah komunitas itu sudah jalan dengan solid barulah diberikan berbagai kemudahan atau added value untuk mereka.

Intinya brand selalu menjadi problem solver. “Dilihat problem apalagi yang bisa dipecahkan? Sehingga makin banyak orang mau ikut komunitas tersebut,” katanya. Maka itu perusahaan sebaiknya ada tim khusus yang menangani komunitas ini. Namun tidak tertutup jika itu perusahaan kecil, bisa ditugaskan ke bagian marketing.

Tujuan utama yang harus ditekankan, lanjut Yoris, selalu membuat komunitas menjadi lebih baik. Bila komunitas semakin baik tentu bisa berdampak ke merek produk yang mendukungnya juga. “Lihat saja komunitas ibu-ibu Tupperware, semakin banyak ibu-ibu yang sukses, sesuai dengan spirit "She Can" dan semakin besar komunitas "She Can", sehingga makin besar kemungkinan penjualan produk mereka. Walau no string attched lho,” jelasnya.

Yoris mengingatkan, kerja sama tidak akan efektif jika brand hanya memikirkan bagaimana cara membuat komunitas ini membeli produkt/jasa mereka, bukannya terus mencari cara bagaimana mengembangkan anggota komunitas jadi lebih baik. Ia mencontohkan komunitas wirausaha muda mandiri (WMM) milik Bank Mandir. Semakin sukses si pengusaha muda artinya semakin besar kesempatan mereka menggunakan berbagai fasilitas Bank Mandiri. Walau tidak ada syarat khusus bahwa yg ikut program WMM hanya nasabah Bank Mandiri. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)