Erik Meijer: Waspada Pemanfaatan Media Digital!


Penambahan medium pemasaran seperti internet berdampak pada kecepatan masyarakat 'menyerap' makna dibalik suatu produk. Memang, ini memudahkan pelaku pemasaran meningkatkan awareness produk. Namun, jika media digital tidak 'diolah' dengan baik akan menjadi bumerang bagi perusahaan.


Pernyataan tersebut diungkapkan Presiden Direktur PT Bakrie Connectivity, Erik Meijer.

Perkembangan media digital membuat perilaku konsumen berubah. Prinsip media digitalyang terbuka, cepat, egaliter, dan bahkan vulgar juga telah merasuki cara pikir konsumen terhadap (komunikasi) produk. Erik mengatakan kebutuhan, ekspektasi, serta media consumption konsumen drastis berubah.


Saat ini konsumen menuntut informasi yang instan. Melalui media digital,keluhan konsumen terhadap suatu produk harus cepat ditanggapi oleh pemilik merek. Ekspektasi terhadap produk juga makin tinggi. “Misalnya di industri telekomunikasi, konsumen menuntut koneksi tidak pernah putus dengan kecepatan setinggi-tingginya. Perubahan perilaku ini menuntut pemain untuk meningkatkan performance masing-masing,” katanya.


Erik melanjutkan media consumption juga berubah sehingga konsumen semakin kritis. Kalau dulu orang percaya iklan, sekarang tidak. Jadi, memasang iklan di media digital juga perlu perilaku khusus. Perusahaan tidak bisa memasang iklan secara sembarangan. Ambil contoh Twitter. Nyatanya sangat susah beriklan menggunakan media ini. Jangankan iklan, bila ada pemilik akun seperti mempromosikan produk pun bakal dicela pengguna lain. “Misalnya 'tweet berbayar', pasti orang tidak akan suka. Hard selling melalui media sosial benar-benar tidak bisa,” tambahnya.


Atau, orang akan merasa jengkel bila saat membaca artikel atau main game, tiba-tiba muncul iklan. “Bagi pengiklan mungkin bagus. Tetapi bagi konsumen, cara ini belum tentu berdampak bagi mereka. Bila tidak hati-hati memasang iklan di media baru malah akan membuat orang turn off dengan produk kita,” ujar Erik.


Yang pasti masing-masing media punya kelebihan dan kekurangan. Iklan televisi misalnya, sekali tayang bisa menjangkau jutaan pemirsa. Tapi pada saat yang sama, tidak ada jaminan pemirsa memperhatikan (apalagi menangkap) pesan dari iklan. Sebab, bisa saja saat slot iklan tayang, pemirsa malah asik ngobrol padahal kejadian ini dihitung sebagai rating. Bila di media digital, efektivitas lebih bisa diukur secara real time.


Misalnya, iklan dengan sistem pay per click (bayar bila iklan dibuka). Saat pengunjung sebuah web mengklik iklan, maka mereka akan diarahkan langsung ke laman iklan. Ini artinya orang secara sadar berkunjung ke iklan tersebut, dan secara sadar pula menangkap pesan, setidaknya menyadari, keberadaan suatu merek. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)