Geliat King di Pasar Baru

Setelah hampir 11 tahun terbengkalai, bekas mal ini akan dibenahi kembali oleh salah satu pemiliknya, King Yuwono. November 2007, pria kelahiran Malang, Jawa Timur, 56 tahun lalu, ini mengumumkan rencananya membangun properti baru di atas lahan bekas Plaza King. Namun, properti yang dimaksud King bukan mal seperti dulu. Bangunan baru yang rencananya digarap pada Januari 2008 itu adalah apartemen bernama Pasar Baru Residence (PBR).

Selama ini Plaza King tidak digunakan untuk kegiatan bisnis lagi, hanya untuk area parkir. Lorong di dalam gedung yang tidak ikut terbakar, disewakan King ke para pedagang untuk menampung barang setelah dilalap si jago merah. “Saya menampung mereka kurang-lebih 11 tahun,” ungkapnya. Itu pun mereka hanya dikenakan uang kebersihan. Baru ketika King membuat cetak biru pendirian proyek properti, para pedagang diminta pindah ke tempat lain. “Waktu kebakaran dulu banyak yang menduga saya sengaja membakar gedung agar dapat uang asuransi. Terbukti saya baru membangun Pasar Baru Residence setelah 10 tahun lebih,” katanya beralasan.

Rugi, sudah pasti. Namun, mengapa harus menunggu lama?

King mengaku, selama ini dia memeras otak dan tenaga untuk membayar utang-utangnya. Dia bukannya tidak pernah mengajukan kerja sama pembangunan Plaza King. “Tahun 2000 saya mencoba bangkit. Saya mengajak Matahari (MPP) bekerja sama. Manajemen lama sudah setuju dengan ide yang saya ajukan. Namun, Matahari kemudian berganti manajemen,” ceritanya mengenang. Rencana kerja sama dengan mantan tenant terbesar di Plaza King itu pun kandas lantaran manajemen baru Matahari tidak menyetujuinya. Yang paling menyesakkan, beberapa waktu sebelum kebakaran terjadi, nilai aset Plaza King ditaksir sekitar US$ 26 juta. Pascakebakaran, kerugian materi yang dia tanggung adalah separuh dari nilai aset saat itu.

Selain itu, dia tidak bisa buru-buru membangun kembali Plaza King karena berusaha mempertahankan kelangsungan hidup perusahaannya yang lain, di antaranya PT Jantra Reksa, PT Kreasi Emboss Multiguna dan PT Suplintama. Jantra Reksa berdiri pada 1990-an sebelum Plaza King terbakar. Perusahaan ini memasok alat-alat kesehatan seperti perban dan infus. Kreasi Emboss Multiguna berdiri pada 2000-an, memproduksi bahan baku kertas untuk undangan pernikahan atau fancy paper. Klien utamanya adalah berbagai perusahaan percetakan. Adapun Suplintama (berdiri pada 2000) memasok alat pengukur yang biasa digunakan perusahaan minyak.

Salah seorang kolega King, Andrie Wongso, menilai, selain memiliki integritas, King juga dikenal ringan tangan. Andrie masih ingat, ketika membuka usaha kartu ucapan, Harvest, sekitar 1984, King membantunya membuka jalan. “Waktu itu saya belum kenal dekat dengan beliau. Tapi beliau mau mengenalkan saya pada perusahaan percetakan,” katanya. Referensi King pada perusahaan percetakan itu membawa hasil yang positif bagi usaha yang baru dijalani Andrie. Harvest kemudian tumbuh dengan baik dan sempat mendominasi bisnis kartu ucapan pada 1980-1990-an.

PBR berada di bawah naungan PT Sarana Paragon Persada. Di sini King menjabat sebagai dirut dan mengaku tidak bermitra dengan siapa pun. Kendati demikian, “Saya tidak menutup kemungkinan bila ada yang mau berpartner dengan saya,” ujarnya seraya tersenyum. Diperkirakan, proyek baru ini akan menelan investasi Rp 170-200 miliar dan selesai pada 2009. Menurutnya, dana sebanyak itu dia peroleh dari pinjaman bank dan tabungannya sendiri. Saat ini PBR masih dalam tahap awal pembangunan. “Baru sekitar empat bulan lalu (Plaza King) dihancurkan,” ungkapnya.

Yang pasti, dibangunnya PBR menandakan bangkitnya kembali King. “Tahun ini saya ingin bangkit. Tapi kalau membangun shopping mall, peluangnya kecil sekali,” tutur lulusan Teknik Mesin Universitas Carolo Wilhelmina, Braunschweig, Jerman, ini menilai. Tak hanya itu. Pembangunan PBR menginspirasi King merenovasi Pasar Baru yang kini terkesan semrawut tanpa menafikan sejarahnya. Dia yakin, pembangunan apartemen dapat mendorong geliat Pasar Baru yang mulai dilupakan orang. King berpendapat, Pasar Baru memiliki daya tarik untuk menjadi salah satu tempat wisata di Jakarta. Hanya saja, untuk menarik wisatawan, diperlukan pasar yang tertata apik dan bersih. Untuk itu, dia mengajukan proposal kerja sama ke Pemerintah Daerah Jakarta Pusat. Dia berharap, dengan kondisi pasar yang bersih dan rapi, banyak turis yang datang berbelanja ke wilayah ini.

Harapan lain, tertatanya Pasar Baru pada gilirannya akan memuluskan poyek PBR. Apartemen yang berdiri di atas lahan 7.700 m2 itu akan dibangun setinggi 33 lantai, terbagi menjadi 548 unit, dan mampu menampung sekitar 450 mobil. Dari 548 unit yang ditawarkan, sebanyak 50% tipe studio, 40% tipe dua kamar, dan 10% tipe tiga kamar. Harga yang ditawarkan: tipe studio Rp 300 juta, dua kamar Rp 500 juta, dan tiga kamar Rp 700 juta. Untuk pembayarannya, King memberi kemudahan dengan hanya menyetor uang muka sebesar 10% dan sisanya bisa dicicil melalui kredit apartemen selama maksimum 15 tahun. Anda berminat?

Yang pasti, kalau proyek ini terealisasi, King akan menjadi “Raja Pasar Baru”.

Firdanianty/Rias Andriati.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)