Harijadi Soedarjo Sukses Bangun JAW

Tahun 1987 Harijadi Soedarjo mengawali karirnya di PT J.A.Wattie (JAW) sebagai Asisten Direksi. Ia membantu kegiatan-kegiatan direksi dan tak jarang terjun ke lapangan. Ia adalah putera bungsu Soedarjo, rekan bisnis Hadi Surya, pendiri PT Berlian Laju Tanker Tbk (BLT).

Diakui lulusan Universitas of San Fransisco ini, ia mulai menyukai dunia perkebunan setelah 2 tahun terlibat di perusahaan konsorsium ayahnya bersama orang kaya peringkat ke-23 versi Majalah Forbes tersebut. Interaksi dengan ribuan karyawan perkebunan sekaligus dapat memberi penghidupan bagi mereka merupakan kesenangan tersendiri bagi Harijadi. Lebih dari 20 tahun, suami Dewi Kusumawati ini menyambangi kebun karet, kopi, teh, atau sawit perusahaan yang kini memiliki 13 ribu karyawan ini. “Paling tidak kami menghidupan lebih dari 30 ribu orang, karyawan dan keluarganya,” ujar ayah dari Nadia Paramita, Dania Arianidewi dan Saskia Avianti ini.

Baginya, nilai dari sebuah solidnya sebuah organisasi usaha terletak pada hubungan baik karyawan dengan manajemen. Intensitasnya mendatangi lahan perkebunan dan berinteraksi dengan banyak karyawan membentuk budaya kekeluargaan di dalam JAW. Kondisi ini yang turut menyelamatkan JAW dari krisis dan membuat perusahaan itu bisa tetap eksis sampai sekarang. “Pendekatan seperti ini membuat turn over karyawan di perusahaan ini sangat rendah,” kata Harijadi.

Dari industrinya sendiri, sektor perkebunan seperti karet dan kelapa sawit sangat dibutuhkan pasar dunia. Karet digunakan untuk ban mobil, sepatu dan sebagainya, demikian halnya dengan kelapa sawit masih sangat dibutuhkan dunia. Di awal kehadirannya, JAW mengelola karet, teh dan kopi. “Ada kenikmatan tersendiri karena bisa memberi banyak manfaat kepada ribuan karyawan dan juga stakeholder,”ujarnya. Ketika orangtuanya mengambil alih dari tangan asing, seperti diketahui, perusahaan ini didirikan pada tahun 1921 oleh Handel Maatschappij J.A. Wattie and Company Limited dan diakuisisi orangtuanya sejak 1967, ia sudah mulai ikut turun ke perkebunan. Persisnya usia 24 tahun ia mulai terlibat di dalam perusahaan ini.

Diakuinya, sedikitnya ia meniru karakter kepemimpinan dari seorang Hadi dan Soedarjo. Menurutnya, ia belajar untuk cepat mengambil keputusan (tegas) dari sosok Hadi. Orangtuanya juga cepat merespon pasar. Ada karakter sebagai perintis dalam dirinya dan konsisten dan serius dengan apa yang sudah menjadi komitmennya.

Dalam bisnis menurutnya, pebisnis tak hanya menggunakan feeling. Analisa yang kuat dengan keputusan yang tepat dan cepat juga sangat dibutuhkan seorang pemimpin. Seperti ketika ia membawa JAWattie untuk go public. Baginya, IPO merupakan salah satu alternatif pendanaan yang sangat baik dan akan membuat perusahaan lebih berkembang. Sudah cukup lama JAW tumbuh secara konservatif sehingga butuh tindakan agresif. Harijandi yakin, setelah menjadi perusahaan publik, kinerja perusahaannya bisa meningkat pesat. “Saat ini di industri karet, Indonesia berada di peringkat kedua. Bahkan kabarnya tahun 2012, harusnya Indonesia menjadi produsen utama karet dunia, tapi produksi karet rayap yang masih rendah produksinya, masih di bawah 1 ton, kita masih pakai pupuk tani biasa,” kata Harijadi sambil menambahkan, produksi karet JAWattie mencapai 2,2 ton /hektar/tahun dengan wilayah perkebunan mencakup wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan Kalimantan Selatan.

Hal yang paling berkesan dalam perjalanannya memimpin JAW adalah dapat menyukseskan IPO, yang dianggapnya sebagai tolak ukur berhasil tidaknya ia memimpin perusahaan. “Saya harus belajar dari pengalaman dan para pendahulu saya, senior saya, bagaimana menghadapi dan menjalani semuanya. Itu membuat saya lebih memahami dan bisa lebih tepat mengambil keputusan,”tegasnya yang mengakui banyak belajar dari Hadi Surya dan orangtuanya, Soedarjo. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)