I Dewa Made Susila: 'Raja Duit' di Adira

Sebagai Chief Financial Officer PT Adira Dinamika Multifinance, secara sederhana, I Dewa Made Susila bertanggung jawab dalam efisiensi dan perbiakan sistem serta perolehan sumber dana. Bergelut di dunia pendanaan otomotif membuat Made tertantang untuk memuaskan kepentingan nasabah sekaligus shareholder.

Made memulai karirnya pada bidang keuangan sebagai analis di PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo). Kiprahnya dimulai sejak Agustus tahun1995. Ia kemudian mengakhirnya pada bulan Juli 1999. Sebulan kemudian, Ia hijrah ke BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional). Tahun 2001, pria asal Ubud, Bali, ini mengakhiri kariernya pada lembaga bentukan pemerintah itu.

 

Karier terpanjang-nya terpijak di PT  Bank Danamon Indonesia Tbk. Dimulai dari Deputy Head of Corporate Affairs Division yang sekaligus merangkap sebagai Senior Assistance Vice President, kemudian terakhir menjadi Investor Realtions & Subsidiaries Support Division Head. Posisi ini setara dengan penugasan seorang CFO. Pada tahun 2004 untuk pertama kalinya Danamon membeli saham Adira sebanyak 75%. Selanjutnya, pada April 2011, Made ditunjuk sebagai direktur-Chief Financial Officer PT Adira Dinamika Multifinance Tbk.

 

Dalam menjalankan tugasnya, Made merasa terbantu dengan pembagian masing-masing tanggung jawab di direktorat, terutama kehadiran Direktorat Manajemen Risiko. Segala hal yang terkait dengan tinggi-rendahnya bunga, seperti default rate, collection, recovery, ditangani oleh oleh Direktorat itu. Adira juga memiliki kantor-kantor cabang yang sangat dekat dengan penghasil marjin.

 

Jabatan baru tentu tantangan baru bagi Made. Jumlah nasabah Adira yang terus bertambah dengan diiringi investasi sistem jangka panjang, diakui Made, perlahan menggerus marjin yang diperoleh. Kondisi ini diperparah dengan persaingan ketat diantara lembaga atau perusahaan pembiayaan. “Istilahnya, Bank mana sekarang yang gak punya perusahaan pembiayaan?” Mereka saling menawarkan iming-iming kemudahan dan bunga yang kompetitif. Kue pasar semakin sempit. Terutama pasar didalam pulau Jawa.

 

Penambahan cabang, karyawan, serta efisiensi sistem operasional memerlukan investasi yang besar. Di sisi lain, shareholder meminta porsi ekuitas yang tinggi. “Ini yang paling berat. Walaupun ekuitas mencapai 30%, shareholder masih meminta lebih,” kata pria kelahiran pria kelahiran 25 Desember 1970 itu. Akhirnya Adira memfokuskan investasi di kawasan yang memiliki pertumbuhan lebih kuat. Diluar Jawa, karena kompetisinya kurang, marjin lebih banyak bisa didapat.

 

Sebagai seorang CFO, Made banyak berinteraksi dengan Board of Director (BOD) Danamon, Kementrian Keuangan, bursa, maupun media untuk publikasi laporan tahunan. Segala sesuatu harus terukur dan tepat waktu. “CFO itu selalu ditengah-tengah antara keputusan sekarang dan selanjutnya,”ucapnya sembari berkelakar. Ada tuntutan banyak pihak yang harus dipenuhinya. Apalagi dia juga musti bisa memprediksi kondisi keuangan pada beberapa tahun kedepan. Prediksi itu berguna bagi penerapan strategi keuangan yang menguntungkan. Meski terdengar rumit, dalam menjalankan tugas, Made tetap percaya diri. “Saya akan mengeksplor apapun yang menarik dan bermanfaat dalam meningkatkan pendapatan,” tegas Made. (Acha)

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)