IDC: Perusahaan Asia Pasifik Tak Siap ‘Booming Data’

Berdasarkan survei IDC terbaru, lebih dari 50% perusahaan-perusahaan berskala besar di Asia Pasifik tidak mengantisipasi atau perencanakan datangnya data berukuran besar atau ‘big data’. Meskipun saat ini, secara umum, infrastruktur storage masih bisa memenuhi kebutuhan bisnis.

 

Meskipun begitu, pertumbuhan data menjadi tantangan terbesar dan sistem IT tidak bisa memenuhi dua kebutuhan bisnis yakni manajemen yang lebih baik dalam menangani pertumbuhan data dan kemampuan menggali informasi secara lebih mendalam dari tada. Hasil survei tersebut dipublikasikan dalam white paper IDC yang berjudul ‘The Changing Face of Storage: A Rethink of Strategy that Goes Beyond the Data’. Survei itu dilakukan IDC sejak Agustus hingga September 2011 yang melibatkan 150 eksekutif IT dari perusahaan berskala besar di Asia Pasifik.

 

“Hasil Survei ini mengungkapkan adanya berbagai jenjang kematangan dan pemahaman manajemen storage. Tantangan dalam memastikan relevansi data dan mengelola pertumbuhan data, yang masuk dalam daftar lima masalah utama, jelas menunjukkan bahwa langkah mengantisipasi tren big data masih baru dan belum banyak yang melakukannya,” kata Simon Piff, Associate Vice President Asia Pasific Enterprise Infrastructure Research IDC.

 

Dalam survei tersebut, sekitar 56% responden menyatakan bahwa pertumbuhan data merupakan tantangan dunia IT saat ini dan sebanyak 39% menyebutkan soal peningkatan utilisasi serta 36% menyatakan manajemen storage bagi server tervirtualisasi merupakan maslaah utama. Data tak terstruktur tumbuh pesat namun banyak organisasi menyadari bahwa tingkat utilisasi sangat rendah.

 

Dari seluruh responden, sebanyak 67% menyatakan keyakinan bahwa infrastruktur storage mereka saat ini sudah mencukupi untuk 12 bulan ke depan. Namun, 72% dari responden mengaku tidak memiliki strategi untuk mengantisipasi data yang tak terstruktur seperti data multimedia, data berbasis internet atau berbagai jenis data raksasa yang berukuran multi-gigabyte.

 

Untuk menangani masalah tersebut, sektiar 48% responden ‘bergantung’ pada teknologi terbaru dan52% lainnya memilih untuk meningkatkan investasi infrastruktur IT. Selain itu, sekitar 60% responden memilih untuk mengadopsi teknologi virtualisasi. “Data harus dibagi-pakai, dibandingkan, dianalisis dan divisualisasikan secara lebih holistic. Hanya dengan cara itulah, data menjadi informasi yang bermanfaat untuk mendapatkan wawasan, tren dan mengantisipasi hal-hal yang dianggap perlu,” kataSenior Vice President and General Manager Hitachi Data Systems Asia Pacific, Kevin Eggleston.

 

Tags:
Data IDC riset

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)