Ilham A. Habibie: Manufaktur sebagai Penopang Kuat Ekonomi

Ilham A. Habibie mengungkapkan, pertumbuhan perekonomian Indonesia harus pula ditopang oleh industri manufaktur yang cukup kuat agar bisa berkesinambungan. “Manufaktur merupakan penopang kuat bagi Indonesia dan penting juga untuk diingat bahwa pilar utama ini dapat menyediakan banyak lapangan pekerjaan,” ujar Ilham Habibie,co-chairman pada pertemuan Inisiatif Future Global 100 (FG100) di Hotel Hyatt Jakarta, pada Kamis (23/2).

IlhamHabibieMenurutnya, itu dalam konteks penggambaran kuatnya posisi perekonomian Indonesia saat ini. Ia menjelaskan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid sekarang ini ditopang oleh dua pilar, pasar domestik yang besar dan ekspor sumber daya alam juga komoditi. “Dua hal ini yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia yang solid, walaupun di tahun krisis seperti pada 2001 dan 2008 lalu hingga sekarang, Indonesia masih bisa tumbuh hingga 5% karena dua pilar itu,” ujarnya.

Akan tetapi, ia melanjutkan, Indonesia tidak boleh puas dengan dua pilar itu. Indonesia, lanjutnya, harus mencari pilar ketiga untuk menopang pertumbuhan ekonomi agar tetap berkelanjutan. Pilar ketiga itu adalah manufaktur. “Penting juga untuk diingat bahwa pilar utama ini dapat menyediakan banyak lapangan pekerjaan,” ungkapnya. Tersedianya lapangan perkerjaan, kata Ilham, akhirnya berpotensi terhadap pendistribusian kesejahteraan bagi seluruh penduduk.

Hal lainnya, terkait dengan rencana industri ke depan, Ilham melihat terdapat 3 industri utama yang akan fokus dikembangkan ke depannya, yaitu agroindustri, ICT, dan transportasi. “Yang terakhir harus dimenerti secara inheren dengan kondisi geografis Indonesia yang terbentang luas dan bergantung pada infrastruktur. Logistik merupakan kunci untuk membuat perekonomian Indonesia sukses,” ujarnya.

Namun, kata Ilham lagi, hal logistik di Indonesia masih terkendala hal klasik infrastruktur yang berakibat pada tingginya biaya logistik di Indonesia. “Di negara lain, biaya logistik hanya berkontribusi sekitar 5%-10% dari total biaya produksi suatu produk. Berbeda dengan di Indonesia yang berkontribusi di atas 15%. Birokrasi juga masih menjadi kendala, walaupun sudah ada beberapa perbaikan. Kita harus membuat birokrasi lebih sederhana dan ramping agar berjalann efektif,” ia menegaskan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)