Indonesia Butuh 'Lari Cepat' dengan Memanfaatkan Teknologi

Indonesia harus menumbuhkan bisnis dengan menggunakan teknologi canggih. Karena mengembangkan teknologi membutuhkan banyak waktu, perusahaan harus 'berlari cepat' agar tidak tertinggal dengan perusahaan asing. Karena akuisisi membutuhkan dana yang tidak sedikit, maka perlu joint venture dengan perusahaan asing yang berteknologi canggih.

Pernyataan tersebut diungkapkan President International Stern Stewart Pte Ltd, Erik Stern. Menurutnya, ada banyak perusahaan asing yang memiliki teknologi menarik namun tidak memiliki kekayaan geografik sehingga dengan adanya joint venture, perusahaan asing dapat memanfaatkan pasar Indonesia dan perusahaan lokal mampu memanfaatkan teknologi baru. “Apalagi jika dibandingkan negara sekitar seperti Vietnam, Korea Selatan dan Malaysia, produktivitas pertanian Indonesia masih rendah. Salah satu cara meningkatkannya adalah memanfaatkan teknologi terbaik.”

Meskipun Indonesia memiliki banyak sumber daya seperti besi dan tembaga, Indonesia tetap harus agresif dalam meningkatkan kreativitas. Jangan biarkan petani melakukan itu sendiri, dan jangan tinggalkan mereka. Lakukan sekarang. Bank pun tentunya akan menyediakan dana untuk pengembangannya. Mungkin dana itu bukan dari Pemerintah, tapi selalu ada dana pada sebuah perusahaan keluarga yang besar atau sektor swasta, hal itu juga akan membantu perusahaan Indonesia bertransformasi menjadi lebih baik.”

Indonesia memiliki 250 juta penduduk, dan itu adalah pasar yang besar, tegas Erik. Indonesia merupakan salah satu negara yang akan mempengaruhi pasar ASEAN. Kalau Indonesia dapat tumbuh sekitar 10% per tahun, tentu itu akan sangat bagus bagi ASEAN. “Indonesia harus tumbuh lebih tinggi lagi dan dibutuhkan teknologi untuk menggerakkan value chain itu. Tidak ada alasan perusahaan Indonesia tidak dapat melakukan itu. Yang ada sekarang ini adalah mereka sudah senang dengan apa yang ada. Harus ada orang yang dapat ‘menyalakan api’ (membangkitkan semangat) mereka,” tegas Erik.

Erik mengambil contoh Pertamina. Sebagai perusahan publik, Pertamina mungkin termasuk pebisnis terbesar. Namun jika dibandingkan dengan perusahaan minyak lain, Pertamina tergolong lemah. Meskipun manajemen Pertamina sudah jauh lebih agresif, memiliki CEO yang berkualitas dan lainnya, Erik tetap saja menilai banyak masalah yang dihadapi Pertamina. “Tapi masalahnya bukan sebaik apa mereka berusaha, tapi pada seberapa buruk kondisi yang mereka hadapi. Terlalu banyak politik di sini. Pemerintah Indonesia tampaknya tidak memiliki cukup uang sehingga mereka melakukan segala cara untuk memperoleh dana dari BUMN.”

Tentu saja, kata Erik lagi, pemerintah telah membuat berbagai perbaikan dalam 3 tahun terakhir ini. Tahun lalu Foreign Direct Investment (FDI) yang masuk ke Indonesia mencapai USD 14-15 miliar. Banyak negara yang mau berinvestasi, seperti India, Korea, dsb. Itu masih sangat rendah. Cina punya FDI sekitar USD 100 miliar. Banyak juga perusahaan di Indonesia ini yang menaruh dananya di Singapura.

Secara umum, menurut Erik, sangatlah penting untuk meminimalkan regulasi. Yang harus ditingkatkan adalah kompetisi. Selain itu, sangat penting memiliki transparansi karena itu akan mengurangi korupsi. “Juga sangat penting untuk mendorong adanya inovasi di bidang finansal, tapi juga jangan terlalu karena seperti instrumen keuangan derivative misalnya, itu memang menguntungkan, tapi kita harus ingat tentang krisis di AS dan Eropa,” kata Erik.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)