Inilah Rahasia Pemasaran TV One

Mendengar nama TV One, sebagian besar masyarakat tentu membayangkan salah satu media berita besar di Indonesia. Popularitas tersebut tidak terlepas dari kekuatan tim sales and marketing. Maria G Limi, Direktur Sales & Marketing PT Lativi Media Karya berikan bocoran kiat sukses mereka.

Saya bergabung saat Lativi transisi ke TV One. Saat itu, saya dihadapken dengan orang-orang dengan karakteristik santai dan tidak disiplin,” ujar Maria G. Limi. Perempuan kelahiran Pontianak, 21 Oktober 1968 ini sebelumnya bekerja di Lativi (Februari-November 2004) sebagai Sales Manager, selanjutnya di TPI dan Trans TV dan 2005, Limi menjabat Wakil Direktur Sales & Marketing Koran Seputar Indonesia. “Pertama kali yang saya lakukan adalah mengubah budaya sumber daya manusia di divisi saya,” ujar lulusan Sastra Cina, Universitas Indonesia ini.

Kala itu, orang-orang di tim Limi kurang disiplin. Malah, seringkali anak buahnya datang ke kantor jam 10 pagi. “Harusnya, jam segitu AE sudah nyari klien. Karena sales istilahnya seperti ngasong. Kalau jam 10 masih di kantor, mereka berarti tidak kerja. Saya suka teriak-teriak kalau masih ada orang di kantor pada jam 10 pagi, ” kata Limi.

Awalnya, anak buahnya keluar kantor sekadar menghindari teriakan dia. Namun, Limi punya parameter untuk menilai timnya. Caranya, setiap sales diwajibkan menulis daily report. “Laporan itu pun bisa dikaji lagi. Ngisinya sungguhan atau membual,” jelasnya. Daily report harus berisi siapa kliennya, apa yang ditawarkan, apa tanggapan klien, permasalahan yang dihadapi dan lain sebagainya. “Dari budget klien saja, kita bisa melihat benar tidaknya laporan seorang account executive (AE),” ujar Limi yang telah mengenal karakter pengiklan dari kapasitas perusahaan. “Misalnya, ada AE yang bilang klien bersedia spent hingga Rp 2 miliiar untuk satu program. Padahal, kita bisa lihat bagaimana klien itu spent di televisi lain. Berarti AE saya berbohong,” tandasnya.

Di TV One, laporan harian ini dilakukan oleh para General Manager (GM). Isinya tentang target, prospek, improvement dan lainnya. Sementara, Sales Manager memberikan laporan ke GM mingguan. Selain itu ada pula report traffic yang juga direspon Limi setiap hari. “Yang penting masalah harus segera diselesaikan dan ada jalan keluar. Risikonya, ya mereka terkadang harus terima BBM (BlackBerry Messenger) saya jam 2 malam,” kata perempuan yang menganggap kerja sebagai hobi ini.

Limi juga sering terjun langsung menemui klien untuk membantu tim mencapai target serta menyelesaikan masalah yang timbul. “Tidak hanya memerintah dari belakang meja,” kata dia. Jadi, begitu ada masalah dengan klien, Limi ikut menyelesaikan masalah tersebut. “Saya datangi klien, dengan atau tanpa mengajak AE yang bersangkutan dan tanpa mengecilkan AE saya. Dia kan anak buah saya juga. Jadi, saya musti bela dia juga,” kata Limi yang memperlakukan timnya sebagai keluarga. Bahkan, Limi selalu menerapkan pendekatan personal untuk membuat anggota tim merasa nyaman. Itu sebabnya, Limi mampu memetakan karakter tiap-tiap AE. “Misalnya individu tipikal pendobrak, cocok untuk new business development dengan target membawa klien-klien baru masuk,” ujar dia.

Tentu saja, soal reward & punishment juga diterapkan dengan baik dan terbuka. Meski tak mau menjelaskan berapa besar target dan reward yang diberikan, Limi mengaku sistem yang diterapkan mampu mendongkrak performa tim. “Puji Tuhan ada kenaikan yang cukup signifikan,” ujar Limi tanpa mau merinci. Yang pasti, kinerja AE dihitung dari berapa banyak dia mendapat brand dan rupiah. Bila AE tak berhasil memenuhi target, dana untuk insentif yang disiapkan akan dikembalikan ke perusahaan atau disumbangkan melalui ANTV Peduli. (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)