Investor Jepang Lirik Bisnis Start-up Indonesia

Sebagai salah satu pendiri situs Urbanesia, Natali Ardianto mengakui dunia pasar teknologi di Indonesia berkembang pesat. Pria yang kini menjabat sebagai Chief Technology Officer PT Warato Indonesia bahkan mengklaim perusahaan Jepang, kini, banyak yang gencar menanamkan modal di perusahaan lokal.

Setengah saham PT Warato Indonesia dimiliki oleh investor Jepang dan sisanya milik pengusaha lokal. Natalie sendiri memiliki 9% saham perusahan. “Investor di perusahaan ini (PT Warato Indonesia) akan banyak membawa investor Jepang ke Indonesia seperti payment gateway dengan platform seluler yaitu Buzoo dot jp,” kata pria lulusan Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Indonesia.

Menurutnya, industri IT di Jepang sudah jauh lebih maju dibandingkan Indonesia. “Karena itu, memindahkan teknologi Jepang ke Indonesia lebih mudah karena pasarnya sudah ada namun belum tersentuh,” ujar Natali lagi. Sebagai contoh, sekitar 70% reservasi klub golf di Jepang dilakukan secara online sedangkan Indonesia, hampir seluruhnya menggunakan telepon. “Kami jadi perintis reservasi golf online meskipun untuk saat ini, target pasarnya bukan orang Indonesia melainkan warga Jepang, Singapura, Malaysia dan Cina.”

Trik dalam menyukseskan bisnis start-up, menurut Natali, dimulai dari latar belakang para pendiri. Diharapkan, para co-founder bukan berasal dari latar belakang pendidikan yang sama. “Jika semua orang teknik, maka siapa yang jualan?” kata Natali santai. Selain itu, Natali menyarankan mengambil sistem outsourcing untuk menarik SDM bagi perusahaan kecil untuk meminimalisir biaya.

Natali memprediksi dunia digital biz di Indonesia akan berkembang dalam kurun dua sampai tiga tahun mendatang. Untuk saat ini, masyarakat masih dalam tahap perkenalan. Natalie menilai salah satu kesalahan para pebisnis start-up adalah memulai layanan mereka dengan gratis. “Kalau pebisnis melepas layanan gratis mereka, konsumen akan lari begitu bisnis berubah menjadi model berbayar, Setidaknya, pengusaha harus menginformasikan bahwa layanan gratis hanya untuk percobaan.” Keberadaan situs berbayar dinilai Natali dapat meningkatkan eksklusivisme situs itu sendiri.

Bisnis baru seperti ini, dinilai Natali, harus terus digali oleh para pemain start up dengan cara peka pada pasar dan melakukan banyak riset ataupun turun langsung ke lapangan. Selain itu, para pebisnis tidak boleh terburu-buru mencari keuntungan. “Anda sebaiknya menyempurnakan bisnis sebelum menarik keuntungan.”

Natali juga menyarankan agar pemilik start up tidak melupakan unsur komunikasi pada perusahaan. Sebab dengan komunikasi, bisnis bisa mendapat respon positif dari media, dan pada akhirnya menarik perhatian para investor.(Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)