Investor Makin Kencang Bertaruh di Motorola Mobility

Investor semakin ramai menanamkan saham jangka pendek di Motorola Mobility Holdings Inc sejak januari lalu. Jumlah yang naik lebih dari tiga kali lipat itu disebabkan semakin ketatnya pertarungan pasar smartohone yang saat ini dibanjiri oleh handset dengan sistem operasi Android dari Google Inc.

Perusahaan yang berbasis di Libertyville, Illonis, itu mendapatkan short interest pada 15,9 juta saham mereka pada 28 Juni. Peningkatan cukup signifikan dibandingkan 4,9 juta saham pada 10 Januari lalu, berdasarkan keterangan perusahaan penelitian Data Explores. Data menunjukkan rata-rata peningkatan nilai saham 5,4% dan 2,6% di Standard & Poor's 500 Index. Tingginya 'taruhan' tersebut mungkin mencerminkan keprihatinan soal profitabilitas Motorola dalam bersaing dengan Apple serta semakin banyaknya produsen yang juga menggunakan sistem operasi Android, ujar Tero Kuittinen, analis di MKM Partners LLC. Keberadaan smartphone Android dari Samsung Electronics dan HTC Corp semakin meramaikan pasar.

Masyarakat semakin cemas dengan gambaran profit dalam lingkup Android,” kata Kuttinen yang berbasis di Stamford serat turut membeli saham 'jangka pendek' milik Motorola. “Masyarakat skeptis dengan kemampuan Motorola dalam meningkatkan margin.” Motorola Mobility yang membuat ponsel serta set-top boxes untuk televisi kabel sudah melepaskan diri dari Motorola Inc tahun ini dan mengalami penurunan sepertiga nilai perusahaan.

Dalam penjualan jangka pendek, trader meminjam saham dan menjual saham tersebut. Jhika harga jatuh, keuntungan trader berasal dari pembelian saham pada harga terendah, pembayaran pinjaman dan memperoleh hasil dari perubahan harga. CEO Motorola Mobility, Sanjay Jha yang direkrut dari produsen chip Qualcomm Inc pada 2008, berusaha menstabilkan bisnis handset mereka dengan memotong biaya perusahaan dan fokus pada sistem operasi Android. Produk milik Google ini memang gratis diberikan kepada para produsen gagar smartphone mampu browsing web dan menjalankan aplikasi.

Selain Samsung dan HTC, LG Electronics serta Sony Ericsson Mobile Communications AB juga menawarkan ponsel Android. Keempat perusahaan tersebut tampaknya akan mengapalkan smartphone lebih banyak daripada Motorola, ujar Tim Long, analis di BMO Capital Markets. Motorola Mobility memang termasuk pemain pertama, ujar Long, namun Samsung, LG, Sony Ericsson dan HTC lebih gencar bergerak. Rating Motorola termasuk 'underperform' pada 27 Juni dan mengalami penurunan saham dari US$ 26 menjadi US$ 19.

Meskipun begitu, Motorola sedang dalam proyek menciptakan smartphone yang lebih aman bagi pebisnis namun tetap mengadopsi Android. Teknologi tersebut memungkinkan pengguna lebih mudah mentransfer konten dari ponsel ke komputer tablet maupun set-top boxes. “Kami sedang mengambil beberapa risiko dan bertaruh beberapa dolar untuk memastikan bahwa perusahaan memiliki beberapa diferensiasi berkelanjutan,” tegas Jha.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)