JCG Terapkan Metode Organization Audit untuk Turnaround Perusahaan Klien

The Jakarta Consulting Group (JCG) menggunakan metode ‘Organization Audit’ untuk melakukan turnaround dalam perusahaan. Melihat kemampuan organisasi secara internal sambil melihat segala opportunity yang ada. Untuk melakukan turnaround strategis tidak terlalu banyak fokus pada pembenahan internal, tapi melihat faktor opportunity.

Kami mencari keunggulan yang dimiliki perusahaan ini apa (strength), kemudian masuk ke opportunity yang ada. Dari situ disusun strategi-strategi besarnya mau kemana. Jadi, kami banyak melakukan turnaround strategis 180 derajat yang memang di luar dari bidangnya, ada pula yang hanya rejufinasi. Misalnya mereka berganti segmentasi bisnisnya. Dari yang mungkin middle layer menjadi upper layer atau sebaliknya,” ujar Patricia Susanto, CEO The Jakarta Consulting Group.

Rejuvinasi bisa dikatakan turnaround jika melakukan redefinisi pada bisnisnya. Contoh, kini JCG sedang menangani sebuah perguruan tinggi dimana target sebelumnya adalah medium low. Target mahasiswanya dari kelas menengah ke bawah. Tapi JCG melihat dari opportunity yang ada, akhirnya dipilih segmen yang menengah dan young executive. Mengapa? Karena TCG melihat kemampuan dari universitas tersebut. Dari sisi lokasi, akreditasi, staf pengajar, serta fasilitas yang tersedia.

Langkah-langkah turnaround yang dilakukan mulai dari sumber daya manusia (SDM) hampir 80% berubah dan strategi bisnis. Untuk SDM diseleksi kembali mana yang cocok dengan manajemen yang baru ini dan mana yang tidak cocok dengan cara restrukturisasi.

Dalam turnaround strategy, biasanya SDM menjadi salah satu kunci untuk perubahan. Karena pada akhirnya manusia juga yang melakukan perubahan ini. SDM menjadi titik terpenting. Kalau orangnya tidak sesuai makan strateginya juga tidak jalan. SDM menjadi kunci terpenting ketika mencari pemimpin-pemimpin yang tepat.

Menurut Patricia, ada fase-fase yang harus dilewati dalam turnaround. Fase pertama, ketika audit organisasi dan masuk ke strength organization, perusahaan akan melihat Opportunity Threath. Kombinasi Organization Audit dan Opportunity Threath akan diturunkan menjadi strateginya (Business Strategy for Turnaround). Di dalam menyusun strategi, JCGa akan melakukan apa saja yang harus dikerjakan. Mula-mula membuat segmentasinya, kemudian SDM nya, ketiga policy, keempat financial needs. Bila keempat unsur ini sudah berjalan, barulah dibuat roadmap for turnaround. Dari awal perubahan sampai final stage, tentang berapa lama perubahan ini berjalan dan apa saja milestone-milestone nya perlu diperhatikan.

Untuk menemukan jawaban dari penyakit yang ada sebelumnya, terlebih dulu JCG akan melihat bisnisnya bergerak di bidang apa. Ketika menemukan kasus seperti Rekin, mereka harus turnaround karena bisnisnya sunset. Ada juga kasus PT Boma Bisma Industrie (Boma). BUMN ini memproduksi cangkul. Bisa dibayangkan berapa lama seseorang akan melakukan repeat buying untuk sebuah cangkul. Usahanya terus merugi sementara untuk ditutup tak mungkin karena ini perusahaan BUMN. Akhirnya dilakukan rejufinating. Tidak boleh merubah bisnisnya, tapi kita harus bisa menaikan nilai bisnisnya. Mereka tetap memproduksi alat-alat pertanian, salah satunya cangkul. Ditemukan solusi dimana mereka memproduksi alat pertanian yang lain bermitra dengan Cina. Karena kalau tidak, harga satu item alat pertanian setara dengan 1 lusin cangkul. Mau tidak mau JCG mengajukan kerja sama dengan pihak luar, tapi ini masih dalam proses. Di sisi lain, Boma mengalami financial needs yang luar biasa karena hutangnya sudah terlalu banyak.

Hal seperti ini mungkin diperlukan Mr Fix It, seseorang yang mempunyai tangan besi. Kalau tidak, sulit untuk jalan dan belum tentu juga bisa mendapatkan Mr Fix It. Karena biasanya Mr Fix It harganya juga mahal. “Untuk Boma, kami lakukan restrukturisasi financialnya juga sehingga lebih bankable. Banyak sekali di Indonesia ini yang melakukan turnaround strategy. Biasanya mereka membutuhkan finansial dan SDM,” jelas Patricia.

Makanya ketika hendak melakukan turnaround, ada baiknya dilakukan diagnosa dulu seperti halnya ke dokter. Penyakitnya apa, dari situ baru bisa mencari solusinya. Tipe orang-orangnya seperti apa. Untuk itu kepemimpinan sangatlah penting. Karena mereka yang akan men-drive semua the roadmap plan. Kalau tidak suka, ya sudah silakan keluar! It’s your choice. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)