Jelang Pemilu, Tren Investasi Tetap Tumbuh Positif

Konferensi Pers Wow Ke-15 Oleh Standard Chartered Bank, mengulas topik peluang dan tantangan berinvestasi di tahun 2019

Memasuki tahun politik, salah satu hal yang selalu menarik dibahas adalah mengenai tren investasi. Tetapi tahun politik 2019 ini--jelang pemilu presiden dan legislatif--semua pihak nampaknya sepakat tren investasi akan tetap tumbuh positif.

"Jadi tahun ini kan tahun pemilu atau tahun politik, dimana nasabah yang akan berinvestasi sebaiknya perbanyak referensi dengan membaca dan mendengar apa kata para ekonomi dan inevstasi mengenai pertumbuhan ekonominya akan seperti apa, pertumbuhan saham akan seperti apa," jelas Bambang Simarno, Managing Director & Head Wealth Management Standard Chartered Bank Indonesia.

Standard Chartered Bank sendiri menyelenggrakan seminar keuangan Wealth on Wealth 2019 (WoW) untuk nasabah prioritasanya guna mendapatkan gambaran menegnai peluang dan tantangan invesatsi di tahun 2019 ini.

"Itulah alsan kenapa kami mengangkat topik unlocking opportunities amid global uncertainties untuk seminar kami kali ini," ujar Bambang.

Bambang juga menjelasakan, dari sudut pandang Standard Chartered mengenai produk investasi yang prospektif di tahun politik ini, "kami melihat tahun pilpres ini memang tahun yang ada ketidakpastiannya tetapi belajar dari beberapa pilpres sebelumnya itu selalu ditanggapi dengan cara positif, baik dari investasi maupun konsumsi. Makanya kami melihat tren invesatsi masih akan positif," ujarnya

"adapun produk yang pertumbuhannya akan positif adalah reksadana saham dan produk emerging market bonds atau obligasi khususnya dalam US dollar, kedua produk itu lah yang dari sudut pandang kami akan mengalami pertumbuhan yang positif di tahun 2019,"jelasnya.                 

Sementara itu untuk tren tren investasi 2019 ini , emnurut Bambang, akan kembali dipengaruhi oleh rencana finansial dan profil resikonya masing-masing investor.

"Tapi kalau kami melihat tahun 2019 ini cukup positif untuk reksadana saham, kalau kita lihat tahun 2018 kemarin kan kinerja IHSG cukup negatif, minus 2,4, banyak dana asing kleuar dari Indonesia atau pun emerging market yang lain, tapi kita kalau lihat di awal Januari 2019 ini, banyak dana asing mulai masuk kembali ke dalam, dan juga dilihat dengan beberapa faktor di global misalnya Amerika Serikat yang akan mengerem sedikit dalam kenaikan suku bunga, trade wars kemungkinan akan sedikit mereda, maka kami melihat ada cukup dampak positifnya untuk reksadana saham di Indonesia." jelas Bambang.

Bambang optimis produk seperti oligasi ritel atau sukuk akan tetap diminati. "Apalagi yang untuk terakhir kali ini dikeluarkan itu, kuponnya itu lebih dari 8%, itu sangat menarik, karena kalau dibandingkan dengan bunga deposito yang ada di luar atau tergantung dengan LPS itu bedanya cukup jauh," ujarnya.

Belajar dari tahun-tahun pemilu presiden sebelumnya, juga membuat pihak bank seperti Standard Chartered tetap optimis, sebab selalu diikuti posibilitas kinerja saham yang bagus. pada pemilu presiden tahun 2009, kinerjas IHSG ketika itu diatas 20%, kemudian pada pemilu presiden 2014 lalu, kinerja IHSG bahkan mencapai 40%. "Kami yakin tahun ini pun akan terulang pola yang sama," ujar Bambang.

Menurutnya hasil pemilu presdien nanti, siapa pun nanti yang akan terpilih jadi presiden, akan membawa agenda yang sama yakni menaikkan pertumbuhan ekonomi diatas 5%, kemudian infrastruktur, dan lainnya yang tujuannya memajukan ekonomi Indonesia. "Jadi mestinya pengaruhnya akan tetap positif bagi investor, sehingga siapa pun presidennya, para investor itu akan lebih melihat ke fundamental ekonomi Indonesia." jelasnya.  

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)