Kejar Target, Double Dipps Bidik Konsumen Rumah Sakit

PT Sinar Harapan Abadi, produsen food and beverage merek Double Dipps, tahun ini gencar membidik konsumen yang berada di rumah sakit (RS). Langkah tersebut diharapkan mampu mengkerek omset perusahaan, sekaligus meningkatkan citra merek sebagai makanan yang sehat dan bergizi tinggi.

Ira Novita, Manajer Marketing dan Promosi Double Dipps, mengatakan selama ini tidak banyak produsen F&B yang mendirikan kedai di RS, padahal peluang untuk menarik konsumen ditempat tersebut cukup tinggi. Tahun lalu, Double Dipps berhasil mendirikan kedai pertama di RS Port Medical Center, Jakarta Utara. “Mendirikan kedai F&B di rumah sakit itu tidak mudah. Banyak syarat yang harus dipenuhi seperti mesti sehat dan higienis,” jelas Ira.

Berbekal sertifikasi halal dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dan Departemen Kesehatan (Depkes), Double Dipps makin percaya diri untuk menggarap konsumen yang berada di RS. Menurut Ira, saat ini belum semua merek donut mengantongi izin halal, apalagi sertifikat dari Depkes. Kondisi seperti itu mempersulit merek untuk masuk ke area tersebut. Merek yang terkenal hanya mampu menggarap konsumen yang wara-wiri di pusat perbelanjaan atau perkantoran. “Kami satu-satu donut yang mendapat sertifikat MUI dan Depkes. Maka dari itu kami tidak menjual lifestyle tapi menjual produk yang sehat” klaim Ira.

Menurutnya, sertifikafikasi dari MUI dan Depkes, didapatkan melalui proses yang cukup panjang. Keberhasilan Double Dipps meraih dua sertifikat tersebut karena Double Dipps diproses secara higienis dan menggunakan bahan yang halal. Selama ini banyak produsen menggunakan bahan yang mengandung alkohol dalam proses pembuatan donut. Sehingga untuk mendapatkan dua sertifikat dari lembaga tersebut tidak mudah. “Dengan adanya sertifikasi ini mempermudah kami untuk mengeruk konsumen yang belum terjamah,”katanya.

Double Dipps membidik konsumen RS seperti penjenguk, karyawan RS, hingga pasien. Kelebihan RS lainnya karena selalu buka 24 jam dan setiap hari. Jadi, orang yang ingin menjenguk kerabat atau saudaranya, tidak perlu repot lagi memikirkan bawaan untuk pasien. “Makanan kami fresh dan sehat. Banyak dokter dan perawat yang fanatik dengan donut dan roti disini,” jelas Ira.

Double Dipps sudah membuka 100 outlet yang tersebar hingga ke timur Indonesia. Dari 100 outlet, 70% berada di perkantoran, 10% di apartemen dan perumahan, sisannya di rumah sakit. Melihat kemajuan dan peningkatan omset di RS, Double Dipps semakin agresif untuk membuka kedai di beberapa rumah sakit di luar kota Jakarta. “Kami berharap bisa membuka 130 kedai hingga akhir tahun. Kami melihat konsumen di rumah sakit adalah konsumen yang paling stabil. Omset tidak naik turun, bahkan cenderung progress. Ini karena label sehat dan halal yang kami kantongi,” jelasnya.

Saat ini Double Dipps sudah berada di sejumlah RS di Jabodetabek. Di antaranya ; RS Budi Kemuliaan, RS Jakarta, RS Pandai Indah Kapuk, RS Cinere, dan lain sebagainya. Dalam sehari omset Double Dipps di RS mampu mencapai Rp 1,5 juta – Rp 2 juta. Omset tertinggi dipegang kedai Double Dipps yang berada di RS Port Medical Centre di mana mencapai Rp 2 juta lebih per hari.

Keunggulan Double Dipps, menurut Ira menyangkut tiga aspek. Pertama, menggunakan bahan yang halal. Kedua, menggunakan bahan lokal berkualitas, sehingga harga Double Dipps cukup kompetitif. Ketiga, menggunakan bahan yang sehat dan alami. Double Dipps menjajakan aneka food and beverage seperti donut, teh, kopi, dan coklat.

Sejak berdiri tahun 2009, langkah Double Dibbs untuk menjadi produsen donut besar semakin agresif. Pendiri Double Dipps, Subagio Hadiwidjojo (45), berhasil mencetak kinerja yang gemilang dengan pembukaan lebih dari 50 outlet setiap tahun. Investasi sebesar Rp 2 miliar yang dikucurkan dari kantongnya, kini sudah balik modal.

Bahkan, Subagio memberikan peluang kepada masyarakat luas untuk menjual Double Dipps dengan sistem waralaba. Saat ini Subagio memiliki 3 kedai, sisanya dimiliki oleh franchisee. Kapasitas produksi Double Dipps mencapai 5000 donat setiap hari untuk area Jabodetabek. Untuk luar kota dan pulau, dikerjakan di kedai masing-masing. Dalam sebulan Double Dipps mampu meraup omset hingga Rp 600 juta dari penjualan donut, belum termasuk penjualan minuman.

Untuk bisa bermitra dengan Double Dipps, calon investor harus mengeluarkan dana investasi (waralaba) mulai dai Rp 90 juta – Rp 700 juta. Besarnya dana investasi tergantung konsep kedai yang akan dibangun. Balik modal bisnis diperkirakan mencapai 1 tahun, 8 bulan. Kerjasama dilakukan dengan sistem beli putus.

Sebagai bentuk komitmen terhadap pelanggan di RS, Double Dipps menjalin kerja sama dengan Tropicana Slim. Tropicana Slim akan mensuplai kebutuhan gula untuk proses produksi Double Dipps. “Kami akan membawa positioning brand hingga ke Malaysia dan Singapura tahun depan. Kami ingin dikenal sebagai spesialis donut dan minuman sehat,” kata Ira dengan penuh optimistis. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)