Kelas Menengah Indonesia Tingkatkan Daya Saing

Akhir-akhir ini kelas menengah di Indonesia tumbuh pesat, sehingga berpotensi meningkatkan daya saing. Hal itu menarik perhatian Yayasan Bakti BCA melalui BCA Learning Service dalam menggelar seminar sehari dan mengangkat tema: “The Rise of the Indonesian Middle Class” di Grand Ballroom, Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta.

Sejumlah pembicara dari berabagai kalangan hadir memberi pencerahan pada peserta seminar. Mulai dari menteri, walikota, pemimpin perusahaan hingga pengusaha. “Tumbuhnya kelas menengah di Indonesia sebagai bagian penting dari perekonomian bangsa,” ujar Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk.

Sementara itu Cyrillus Harinowo, Komisaris BCA dan Komisaris Unilever Indonesia, memaparkan tema “Menuju Perekonomian 1 Triliun USD”. Cyrillus mengungkapkan pertumbuhan middle class di Indonesia mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatannya terlihat dari sejumlah indikator seperti makin banyaknya pemilik kendaraan, tingkat hunian hotel tinggi, serta penjualan di sektor properti.

Beberapa eksekutif lain non perbankan juga angkat bicara. Ada Frans S. Sunito, Presiden Direktur PT Jasa Marga (Persero) Tbk., menyampaikan paparan soal pembangunan infrastruktur untuk mendukung pertumbuhan ekonomi Indonesia. Sedangkan Hendra Heryadi Widjonarko, Chief Operating Officer PT Mulia Industrindo Tbk., memberikan gambaran prospek industri manufaktur di Indonesia. Sementara itu, Sandiaga S Uno pun menyampaikan tanggapannya tentang perubahan gaya hidup kelas menengah di Indonesia. Menurutnya, tantangannya adalah dengan mempertanyakan kepada diri sendiri, apakah kita akan menjadi pemain atau hanya sebagai penonton saja.

Pembicara lainnya Joko Widodo, Wali Kota Surakarta, yang berhasil mengembangkan Kota Solo dalam berbagai aspek. Para PKL hanya dipungut Rp 2.600/hari yang dalam jangka waktu 8,5 tahun akan mampu mengembalikan biaya relokasi yang telah dikeluarkan. Jokowi juga sukses mengembangkan pariwisata meluncurkan bus tingkat pariwisata pertama di Indonesia, “sepur kluthuk”, serta kereta kencana. Usaha mikro pun didukungnya lewat kebijakan perijinan gratis.

Dari kalangan pengusaha ada pebisnis batik Afif Syakur dan pengusaha bakmi Wahyu Saidi. Keduanya memaparkan kiat sukses dalam meniti usaha. Bahkan Wahyu Saidi sempat mengungkapkan kegagalannya yang berujung tutupnya 392 gerai dan hanya menyisakan 12 gerai.

Pembicara kunci, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Mari Elka Pangestu, menekankan potensi besar yang dimiliki kelas menengah di Indonesia merupakan tantangan dan peluang untuk meningkatkan daya saingnya. Apalagi, Indonesia kini menduduki peringkat ke-17 dari 139 negara yang memiliki daya saing sumber daya alam dan kekayaan budaya di peringkat ke-39, sehingga negara kita memiliki peluang dalam mengembangkan ekonominya seiring dengan tumbuhnya kelas menengah. “Kita telah mendapat pembelajaran berharga ketika tahun 2008 terjadi krisis global, malah turis asing yang datang ke Indonesia naik 0,36%, sedangkan wisatawan nusantara naik 1,7%” jelas Mari. Dia menyebut, pada Juli 2011 sebagai puncak tertinggi pencapaian turis mancanegara dan turis domestik tercatat 235 juta perjalanan tiap tahun.

Tidak ketinggalan pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia M. Chatib Basri menyoroti potensi demographic transition, yaitu perubahan proporsi kelompok usia penduduk yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi, keseimbangan fiskal, ketersediaan tenaga kerja, inflasi, belanja kesehatan, kebutuhan perumahan, hingga populasi di kota-kota besar.

Leave a Reply

1 thought on “Kelas Menengah Indonesia Tingkatkan Daya Saing”

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)