KEN Prediksi PDB 6,3%-6,7% di 2012 | SWA.co.id

KEN Prediksi PDB 6,3%-6,7% di 2012

 

Komite Ekonomi Nasional (KEN) memprediksi Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia di kisaran 6,3% hingga 6,7% di 2012. Hal tersebut didukung oleh tingginya belanja domestik, suku bunga negara maju yang melambat sehingga investor asing mulai melirik negara maju dan Bank Indonesia (BI) yang tetap aktif melakukan intervensi dalam nilai tukar rupiah.

 

Meskipun begitu, Indonesia tetap harus waspada dengan laju inflasi, terutama dari sisi kenaikan harga pangan di 2012. Namun, dengan prospek permintaan komoditas dunia yang cenderung stabil, fluktuasi kenaikan harga komoditas pangan dan pertanian diperkirakan tidak akan setajam di 2011,” ujar Ketua Komite Ekonomi Nasional, Chairul Tandjung. Kenaikan harga bahan makanan pokok, termasuk beras, lebih banyak dipengaruhi faktor musiman di dalam negeri. Pada akhirnya, laju inflasi masih relatif rendah dan terkendali. KEN memperkiakan inflasi di 2012 berada di kisaran 4,5% hingga 5,5%.

 

Di 2012, belanja domestik masih tergolong kuat mengingat ini menyumbang 55% hingga 60% ke perekonomian Indonesia. Karena itu, di tahun depan, belanja rumah tangga diperkirakan tumbuh 4,7% hingga 5,1%, sedikit lebih tinggi dibandingkan 2011 yaitu 4,7%. “Indonesia juga diuntungkan dengan keberadaan investor asing maupun dalam negeri yang mulai bergerak aktif. Keadaan tersebut membuat perekonomian kita mungkin lebioh tahan terhadap kejutan ekonomi,” kata Chairul Tandjung lagi.

 

Total output perekonomian Indonesia di 2012 diprediksi mencapai sekitar Rp 8375 triliun (batas bawah) atau sekitar US$ 946 miliar, dengan asumsi nilai tukar Rp 8.850 per dolar. Rupiah cenderung menguat di 2011 meskipun krisis utang di Eropa dan gejolak di bursa saham global pada pertengahan tahun menciptakan sentimen negatif pada rupiah. Ketidakpastiaan perekonomian global membuat investor asing mengurangi eksposure mereka di negara berkembang, termasuk Indonesia dan menempatkan dananya untuk sementara di tempat yang lebih aman (save haven). Pada akibatnya, terjadi peningkatan arus modal keluar yang menekan nilai rupiah. “Untungnya, kebijakan intervensi Bank Indonesia mampu membawa rupiah ke level yang aman,” ujar Chairul Tanjdung.

 

Di 2012 pun, Indonesia tampaknya tidak perlu khawatir dengan daya beli masyarakat. Berdasarkan data Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK), level daya beli masyarakat relatif tinggi sehingga menunjukkan masyarakat masih optimis. Meningkatnya kecenderungan konsumen untuk belanja diperlihatkan oleh naiknya penjualan ritel. Hal ini tercermin pada pertumbuhan indeks penjualan ritel yang sangat pesat sejak awal 2011. Per September 2011, indeks penjualan ritel tumbuh 34,3%.

 

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)