Ketika CSR Tak Sekadar Berbagi Kebahagiaan

Program Corporate Social Responsibility (CSR) tidak hanya berbicara soal 'kewajiban' perusahaan untuk menyalurkan sejumlah dana ke masyarakat. CSR dapat berfungsi memperbaiki kualitas hidup di suatu lingkungan sekaligus menimbulkan kedekatan antarmanusia.

 

Inilah yang ingin ditekankan Environment Project Manager Yayasan Unilever Indonesia (YUI), Silvy Tirawaty yang membawahi tiga program besar yaitu bidang kesehatan, pemberdayaan ekonomi dan lingkungan. CSR Unilever ini melibatkan pihak pemerintah kota dan paguyuban. “Kami gak pernah memberi dana secara utuh. Kami memberikan dana secara bertahap sesuai program yang dilaksanakan,” kata Silvy lagi. Untuk program pengolahan sampah misalnya, Unilever memperkenalkan kader lingkungan selaku pihak-pihak yang diberi pelatihan untuk mendampingi masyarakat dalam menjalankan program.

 

Kami biasa melakukan edukasi program dan mobilisasi masyarakat dalam melaksanakan program,” tegas Silvy. Untuk mempromosikan kegiatan sosial itu, Unilever menggandeng Jawa Pos, selaku media lokal. Sebagai tolak ukur kesuksesan program pengolahan sampah, saat ini, Surabaya (tempat pelaksanaan program) memiliki 28 ribu kader lingkungan dan pengurangan sampah sekitar 10% karena setidaknya 300 RW menerapkan program tersebut.

 

Berawal dari Surabaya, kini program sampah itu sudah direplikasi oleh sembilan kota besar lainnya. Jakarta merupakan kota kedua yang menjalankan program tersebut sejak 2006. Kota selanjutnya adalah Yogyakarta, Makassar, Banjarmasin, Medan, Bandung dan Balikpapan. Pendekatan pada masyarakat disesuaikan dengan karakter penduduk masing-masing.Namun semuanya mendapatkan benang merah pelatihan yang sama. Mereka dilatih untuk terus bergerak ke wilayah terkecil masyarakat.

Silvy mengatakan, pihaknya masuk ke sebuah kota dengan Pemerintah Daerah yang memiliki visi sama mengenai lingkungan. Memang ada kota yang mengajukan diri terlebih dulu untuk kerjasama dengan YUI. Kota itu adalah Balikpapan. Kota ini termasuk unik karena pada Pemda Balikpapan sendiri sudah mengajukan kerjasama sejak tahun 2008. Namun Banjarmasin menjadi kota pertama di Kalimantan karena di sanalah tempat kantor cabang YUI berada. Akhirnya setahun setelah Banjarmasin mereplikasi program sampah YUI, Balikpapan pada tahun 2010 menjadi kota berikutnya.

 

Di ahap awal memang YUI yang mendampingi masyarakat dalam menjalankan program. Namun setelahnya, ada tim yang melihat proses tersebut. "Tapi bukan berarti kami yang kontrol. Memang masyarakat yang harus bergerak sendiri karena harus membangun Bank Sampah," tegas Silvy. (Acha)

 

 

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)