Ketika Jazz Menggoyang Pasar | SWA.co.id

Ketika Jazz Menggoyang Pasar

Kenyataan ini sungguh di luar perkiraan Honda. Pasalnya, sejak diluncurkan di Mal Taman Anggrek pada 19 Februari 2004, sampai April ini sebenarnya Jazz hanya disiapkan 4 ribu unit dengan target penjualan 10 ribu unit/tahun. Alhasil, Jazz boleh dibilang tengah menjadi bintang di pasar mini MPV. Ia menyalip produk sejenis. Hyundai Getz, misalnya, kurun September-Desember 2003, total penjualannya mencapai 1.000 unit, sementara Januari-Februari sekitar 500 unit.

Meski terkejut atas animo yang positif, Jonfis mengatakan, pihaknya tak mau terburu-buru menggerojok pasar. "Mungkin kami market leader. (Tapi) Setelah tiga bulan, kami akan melihat trennya. Terkadang 1-2 bulan tersebut hanya saat peak karena modelnya baru. Kalau memang ternyata nanti kami perlu menaikkan target, kami tentunya akan menambah lagi," ujarnya.

Jonfis pantas untuk tak terlalu menepuk dada. Mobil mini MPV sendiri bukanlah produk baru. Ingat Aerio? Suzuki meluncurkan produk ini pada Oktober 2002. Dan wuzz, hanya dalam hitungan bulan, pada akhir 2002, total penjualannya mencapai 2.151 unit atau 717 unit/bulan. Tahun 2003, total terjual 5.423 unit atau 451 unit/bulan (data dari Gaikindo).

Honda juga patut waspada karena para pemain mini MPV terus berupaya mendongkrak kinerjanya. Hyundai, umpamanya. Lindarto Rahardjo, Kepala Departemen Event & PR PT Hyundai Mobil menjelaskan, dalam upaya merebut pasar, Getz akan terus meningkatkan penampilannya yang trendi dan menghadirkan mesin berteknologi tinggi.

Menurutnya, pasar mobil jenis ini sebetulnya terbilang prospektif. Ukuran yang relatif agak kecil membuatnya lincah dan mudah diparkir. Dipadu dengan banderol harga di atas Rp 100 juta, mini MPV diyakini bisa membetot minat anak-anak muda, ibu-ibu rumah tangga, serta kalangan eksekutif yang berjiwa muda.

Dari sisi harga, Suzuki Aerio tetap di atas. Dibanding para juniornya itu, Getz dan Honda, Aerio dibanderol Rp 139-150 juta (on the road). Jazz relatif dalam posisi menengah. Harga on the road Rp 127,5 juta (manual) dan Rp 137,5 juta (otomatis). Sementara itu, Getz dipatok pada harga Rp 121 juta (manual) dan Rp 130 juta (otomatis).

Khusus Jazz, kendati tak mau segera menepuk dada, pihak Honda tampaknya amat serius menggarapnya. Mei mendatang, Jonfis mengungkapkan, setelah mengimpor 4 ribu unit, Jazz akan diproduksi di Tanah Air. Untuk mendukung rencana itu, sebuah pabrik kini tengah disiapkan. Bahkan, saking seriusnya, pabrik ini kelak tak hanya ditujukan untuk memenuhi kebutuhan domestik, tapi juga diharapkan bisa mengekspor ke Thailand.

Kalau Honda serius menggarap Jazz, agaknya tak sukar dimengerti. Selain berpotensi menggaet pasar lebih banyak yang mendatangkan profit, pertaruhan reputasi juga terjadi di sini. Sebagai catatan, keberhasilan Jazz di Indonesia tak ubahnya lanjutan sukses sebelumnya. Di negara asalnya, Jepang, pada 2002, mobil yang di negeri itu disebut Fit didaulat para jurnalis setempat sebagai Car of The Year. Tahun berikutnya, ketika dilempar ke Eropa, sukses pun diraih. Di Inggris, misalnya, anugerah Car of The Year juga direnggut.

Kini, akankah gelar itu juga disabet di Indonesia, tampaknya bukan prioritas utama. Setelah menggoyang pasar, memproduksi Jazz di dalam negeri jauh lebih mendesak di samping terus mendongkrak penjualan.

Tags:

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)