Kiat Sukses Berkarier di Negeri Orang

Kiat Sukses Berkarier di Negeri Orang

Kita sering mendengar cerita bahwa profesional Indonesia yang berkarier di luar negeri — di negara maju, tentu saja — kerap dipandang sebagai warga kelas dua dan tiga di sana, sehingga mereka sulit memasuki level manajemen puncak. Maklumlah, Indonesia masih dikategorikan sebagai negera berkembang. Akibatnya, banyak profesional kita yang merasa kariernya mentok di luar negeri memilih pulang kampung. Mereka berharap, bekal pengalaman di luar negeri itu akan meningkatkan daya jualnya di Tanah Air.

Namun, tidak selamanya pandangan itu benar. Atau mungkin lebih tepatnya, meski diperlakukan beda, sejumlah eksekutif dan profesional kita ternyata tetap mampu unjuk gigi di mancanegara. Itu setidaknya telah diperlihatkan Siddik Badruddin, Taufik Kurniawan, Andi Chandra dan Benny J. Joesoep. Mereka berhasil mencapai posisi strategis berkat kemampuan, kegigihan dan kerja keras.

Siddik diangkat menjadi Country Risk Director Citibank Jerman sejak Januari 2006. Perlu diketahui, bisnis consumer banking Citibank Jerman adalah yang terbesar untuk perusahaan ini di luar Amerika Utara dan Meksiko. Citigroup Jerman sendiri memiliki 300 cabang dan 6 ribu karyawan.

Dalam menjalani kariernya di berbagai jabatan di luar negeri, Siddik terbukti selalu berhasil mencapai atau bahkan melebihi target yang ditetapkan perusahaan. Lulusan Teknik Kimia dan MBA Manajemen Sistem Informasi University of Texas, Amerika Serikat, ini mengawali kariernya di Citibank Indonesia sebagai management associate pada 1990. Sebelum ditugaskan di Citibank Jerman, ia pernah bekerja sebagai Country Risk Director Citibank Filipina, Retail Bank Risk Director dan Country Risk Director Citibank Indonesia dan Regional Risk Officer Citibank Asia Pasifik di Singapura. “Saya tetap dapat memberikan yang terbaik dalam berbagai macam keadaan, lingkungan dan situasi,” ungkapnya melalui e-mail.

Prestasi itulah yang membuat Siddik dipercaya memimpin sekitar 600 karyawan dan melaporkan tanggung jawabnya secara langsung kepada Citigroup Corporate Officer Citigroup Jerman. Saat ini ia ditantang untuk memperkuat fungsi manajemen risiko. Artinya, selain bertugas menangani kinerja kredit portofolio consumer loan, ia bertanggung jawab memberikan kontribusi pendapatan bisnis dan pertumbuhan laba. Pekerjaan yang berhubungan dengan risiko kredit adalah memaksimalkan laba, bukannya meminimalkan atau mengurangi credit loss. Untuk mencapai target ini, selain mengubah struktur organisasi tim agar sejalan dengan mitra bisnisnya, yaitu departemen pemasaran dan penjualan, ia juga mengubah model bisnis. “Model bisnis kami ubah sehingga tim kredit bisa ikut serta dalam tahap pengembangan produk baru dan kampanye pemasaran atau penjualan, sampai tahap distribusi ke masyarakat,” katanya.

Prestasi bagus juga diraih Andi Chandra. Setelah 9 tahun memupuk karier di Sara Lee Indonesia (sebagai Direktur Operasi atau Kepala Pabrik; Direktur Supply Chain, Commercial atau Kepala Penjualan; Direktur Pemasaran dan Acting President Director), kemudian ia dipercaya memimpin Sara Lee Cina sejak Desember 2004. Pasar yang menjadi tanggung jawabnya mencakup Mainland, Cina, Hong Kong dan Taiwan. “Perjalanan ke Cina ini adalah salah satu perjalanan panjang bersama Sara Lee Corporation (SLC) di Asia. Jadi, bukan reaksi instan. Ini adalah proses yang dijalani dan bukan akhir perjalanan,” ungkap Andi.

SLC percaya bahwa orang Asia bisa memimpin anak-anak perusahaan di Asia dan senantiasa memberi kesempatan tantangan lebih kepada siapa saja yang berprestasi. “Jadi, saya bukan yang luar biasa. Banyak orang Asia lain yang lebih baik dan hebat dari saya, termasuk orang Indonesia lain,” katanya merendah.

Apa pun alasannya, tantangan yang dihadapi Andi cukup berat. Pertumbuhan ekonomi negara ini yang sangat cepat memerlukan tingkat perubahan yang tinggi dan model kerja yang cepat. Untuk menyelaraskan tuntutan tersebut, pertama-tama ia menggarap people-nya. Prinsip Andy, tidak mungkin organisasi akan berhasil tanpa bantuan orang yang baik di sekelilingnya. “Kendala besar yang saya lihat adalah bagaimana agar passion orang-orang Sara Lee Cina tetap tinggi,” katanya. Maka, dibuatlah kampanye “It’s My Business”. Tujuannya, membuat budaya organisasi kuat. Diharapkan, kampanye ini bisa mendorong aspirasi dan memotivasi karyawan memiliki lingkungan kerja berkualitas dan berprestasi sehingga bisa memberi kontribusi dalam pertumbuhan bisnis. Perusahaan ini memiliki 275 karyawan di dua pabrik dan 75 orang karyawan kantor pusat penjualan dan pemasaran.

Tantangan lain, ia dituntut membesarkan perusahaan melalui merek yang dimiliki — kategori shoe polish, Golden Rooster dan Kiwi; kategori household cleaner, Kiwi Kleen dan Swipe; serta kategori air freshener, Ambi Pur. “Yang tak kalah penting, saya ditantang untuk memperluas jangkauan distribusi dan membesarkan perusahaan dengan cara akuisisi.”

Baginya, kemampuan beradaptasi dengan lingkungan merupakan faktor penting agar kariernya berjalan mulus. Awalnya, Andy meremehkan masalah ini. Saat mendapat tugas di kawasan Asia, ia pikir dari segi budaya dan adat istiadat banyak kesamaannya. “Tapi, terus terang saya terkejut. Perbedaannya justru mencolok, baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun lingkup bisnis dan kantor,” katanya. Ia tetap butuh waktu untuk beradaptasi.

Akan tetapi, kesulitan tersebut agaknya tidak terlalu menjadi masalah bagi Benny J. Joesoep. Pasalnya, ia sempat bersekolah di Jerman selepas SMA dan menjajal bekerja di KPMG Treuhand Gesellschaft, Berlin. Pelajaran yang selalu menjadi acuannya dalam melakukan kegiatan adalah budaya disiplin. Meski, diakuinya ada juga bule yang tidak menjalankan etos kerja ini dengan sepenuh hati. “Dan tunjukkan profesionalisme dalam memegang komitmen dengan apa yang telah disepakatinya,” katanya. Semua ini menjadi modal baginya dalam berkarier. Sejak awal 2005, ia dipromosikan sebagai Direktur Accounting Korporat DaimlerChrysler Group Indonesia, setelah menjadi Deputi Direktur Keuangan.

Atas kontribusinya mereorganisasi perusahaan, khususnya saat krisis moneter dan kesuksesannya meningkatkan kinerja departemen yang dipimpinnya memenuhi standar yang digariskan kantor pusat, Benny diberi kesempatan belajar sekaligus bekerja di kantor pusat DaimlerChrysler, Jerman, sebagai Pengontrol Keuangan Senior.

Gambaran di atas menunjukkan, mereka tidak termasuk dalam golongan warga kelas dua atau tiga. “Meski toh ada yang diperlakukan seperti itu, kita jangan menyerah dan putus asa,” demikian saran Taufik Kurniawan. Taufik sendiri sudah sejak lama melanglang dunia kerja di luar negeri. Saat bergabung dengan Schlumberger, lulusan S-1 Teknik Elektro dan S-2 Manajemen Industri Institut Teknologi Bandung ini merasakan bekerja di beberapa negara seperti Singapura, Malaysia, Australia, AS dan Nigeria. Baru pada Juli 2005, lajang kelahiran Kebumen, 10 Juni 1970, ini menjadi Manajer Proyek ICT dan konsultan di Xpand, Bahrain. Xpand adalah perusahaan pelopor penerapan teknologi IT/ICT/Intelligent Building Management System. Teknologinya diterapkan di Bahrain World Trade Center.

Mulai Oktober ini, Taufik juga diminta merangkap bekerja di Lembaga Khusus Urusan Kerajaan Bahrain (Royal Court Bahrain). “Tugas saya, consult, design, implement, operate semua fasilitas jaringan IT atau pengamanan jaringan IT di seluruh properti/aset dan kantor milik raja dan keluarganya, seperti data center, palace/istana, ranch/staple, kantor, dan kediaman lain,” katanya melalui e-mail. Menurutnya, kondisi infrastruktur jaringan di tempat ini tidak tertata rapi, baik dalam hal prosedur, dokumentasi maupun konfigurasi dan pengamanan jaringan. Maka, sebelum membuat cetak biru, ia harus melakukan kajian dan studi tentang kondisi infrastruktur jaringan yang ada dan terpasang saat ini.

Bagi Taufik, menangani pekerjaan seperti itu di luar negeri sangatlah menarik. Selain menambah pengalaman dan wawasan (termasuk mengenal sosial-budaya bangsa lain), ia mengaku tambah percaya diri. “Ternyata orang Indonesia tidak kalah dari bule,” ungkapnya sedikit bercanda.

Senada dengan Taufik, Siddik mengaku salah satu faktor membuatnya tertarik bekerja di luar negeri adalah ia dan keluarganya bisa belajar mengenai beragam budaya dan bahasa. Bahkan, Andi merasa bersyukur karena anaknya sekarang mampu berbicara minimal tiga bahasa, termasuk bahasa Mandarin. “Yang paling saya syukuri dalam menjalankan tugas di Cina adalah justru melihat anak saya mendapat kesempatan pendidikan tingkat internasional yang sangat baik,” tutur Andi. Tidak itu saja, anaknya mampu beradaptasi dalam lingkungan aneka bangsa di sekolah serta menimba pengetahuan musik, olah raga, dan lain-lain. Suasana belajarnya sangat kondusif. “Inilah salah satu benefit paling menarik bagi ekspatriat.”

Andi mengamati, jika dilihat dari segi gaji dan fasilitas, di dunia saat ini expatriates package bukan merupakan anak emas perusahaan. Artinya, fasilitas yang diberikan perusahaan sangat masuk akal saja. “Ini memang berbeda dari konotasi ekspatriat di Indonesia 10 atau 15 tahun lalu,” katanya. Dari sisi ini, Benny mengungkapkan besarnya gaji dan fasilitas itu memang sangat relatif. “Tergantung (pada) bagaimana kita mengatur pengeluaran. Jangan lupa kalau dibandingkan dengan rupiah, mungkin gaji di luar negeri kelihatan lebih besar pada awalnya. Tapi, pengeluaran kan juga dalam mata uang asing dan mahal.”

Berbeda dari Andi dan Benny, Taufik menganggap gaji dan fasilitas yang diberikan perusahaan cukup menarik jika dibandingkan dengan di Indonesia. Menurutnya, dengan jabatan dan tanggung jawab yang sama, gaji dan fasilitas yang diberikan perusahaan di luar negeri jauh lebih besar. “Ditambah lagi, penghasilan kita tidak ditarik pajak alias tax free. Ini untuk kawasan Middle East,” katanya. Kalau dilihat dari pemberian fasilitas, Taufik mengungkapkan, memang tidak ada standarnya. Artinya, bisa berbeda-beda antarperusahaan. “Ada yang dikasih lump sum, ada yang dikasih akomodasi seperti rumah, mobil, Internet, dan lain-lain.”

Terlepas dari itu semua, mereka menganggap bekerja di luar negeri lebih memiliki tantangan. Siddik mengaku dengan bekerja di berbagai negara, apalagi memiliki posisi tinggi di perusahaan, tantangannya cukup banyak dan lebih menarik. Ia lebih banyak berkesempatan merasakan dinamika dan tantangan kerja yang berbeda. Baginya, tantangan ini bisa mendorongnya terus mengembangkan potensi diri dan lebih kreatif dalam mencari solusi. “Pengalaman bekerja di berbagai negara ini juga mendukung pengembangan interpersonal & people management skills saya,” tuturnya.

Menurut Taufik, agar mampu menjawab tantangan berkarier di luar negeri, yang tak kalah penting adalah siap mental. “Jika menemui hambatan dan tantangan, jangan cepat menyerah dan ingin pulang. Dan jangan lupa bawa bumbu pecel dan masakan Indonesia yang banyak,” ujarnya sambil bercanda. Siddik menambahkan, agar sukses berkarier (termasuk di dalam negeri), teruslah memberikan yang terbaik dalam tugas, tangguh dalam menyelesaikan masalah, mempunyai sikap “can do”, berani keluar dari zona aman masing-masing, serta memiliki keterampilan interpersonal & people management yang baik. Dan, “Selain harus menyesuaikan diri dengan ritme kerja yang berbeda, tantangannya tentu saja membuktikan bahwa diri kita mampu menjalankan tugas dan tanggung jawab yang diberikan. Kita juga harus berani mengeluarkan pendapat dan menunjukkan bahwa kita tidak kalah dari pekerja lokal di sana. Jadi, tidak perlu merasa rendah diri,” Benny menandaskan.

# Tag