Kimteng, Kedai Gaul Paling Top di Pekanbaru

Sepintas, bagi yang belum tahu, kedai yang berlokasi di Jl. Senapelan 22 A-B ini tak beda jauh dari kedai lainnya. Semula, kedai ini bernama  Kedai Kopi Segar yang mengambil lokasi di Pasar Bawah, Jl. Muhammad Yatin.  Sebelum menempati lokasi yang sekarang, kedai ini sempat beberapa kali pindah.  Di tangan Kaliono Tenggana, generasi kedua, menunya makin variatif, tidak hanya menyajikan minuman (seperti kopi dan es cendol), tapi juga makanan (seperti roti dan lontong).  Memang, sekarang meski andalannya minuman kopi dan penganan roti, kedai ini juga menyajikan pelbagai hidangan lain.

 

Nicodemus Kasan, pengusaha properti asal Pekanbaru, mengaku pengunjung tetap kedai ini. "Buat ngobrol, lebih santai dan tidak formal seperti di hotel,? kata Nico. Selain itu, ia juga menyukai rasa kopi dan aneka penganan di sana, terutama rotinya yang punya rasa khas karena dibuat secara tradisional.  Dari harga makanan-minumannya memang relatif lebih mahal dibanding kedai sejenis di kota ini.  Namun, dalam hitungan kasarnya, dengan berlima saja, rata-rata tak sampai menghabiskan uang jajan lebih dari  Rp 100 ribu.  Dalam seminggu, Nico bisa datang 3-4 kali untuk menjamu tamunya. "Di Kimteng saya bisa bertemu banyak orang dari berbagai kalangan," katanya.

 

Sejak tahun 2000, pengelolaan kedai ini dialihkan ke Mulyadi Tenggana, generasi ketiga, sekembalinya dari studi di Toronto, Kanada. Pria berbadan subur ini mengaku terus melakukan pembenahan kedai kopi warisan kakeknya itu.  Misalnya, mengundang para penjual makanan (seperti bubur ayam, mi ayam, lontong sayur, empek-empek dan lain-lain) ikut berdagang di Kimteng dengan menyewa ruang yang tersedia. Harga sewanya sekitar Rp 30 ribu/hari. Dari hasil sewa ruang inilah  -- setahun diperkirakan mencapai Rp 70-75 juta --  Mulyadi menggaji 12 karyawannya dan  membeli berbagai bahan pendukung (seperti tisu, kecap, saus, dan lainnya).

 

Terobosan yang agak baru, melihat Kimteng sering dijadikan ajang kongko, Mulyadi memasang fasilitas neon box untuk media promosi para pelaku bisnis di Pekanbaru. Tarif yang dipatok untuk fasilitas neon box ini (ukuran 3,5 x 1 meter) sekitar Rp 3,5 juta/tahun. Pria yang sehari-harinya juga disapa dengan nama kecil Awai ini mengklaim dari 18 space promosi yang ada sekarang sudah terisi semua, bahkan ada yang bersedia masuk dalam waiting list. Selain neon box, ia juga menyediakan media promosi lain, yakni 8 rotary light box  dengan tarif sewa Rp 3,6 juta/tahun per unit (sudah termasuk biaya desain dan material). Dari jasa penyediaan media promosi ini, setahunnya ia memperkirakan bisa memperoleh Rp 80-90 juta. Beberapa pengguna media promosinya cukup punya nama, antara lain Southern Hospital Malaysia, LG Electronics, Agung Auto Mall, dan Berlian Motor.

 

Bagaimana mereka bisa  tertarik?   Pasalnya, setiap hari Jumat ?Minggu, khususnya pukul 07.00-11.00 WIB, pengunjung rela antre untuk menikmati kopi di Kimteng. Padahal, kedai ini telah memiliki 20 meja dengan total 110 kursi. Menurut Awai, dalam kondisi seperti itu jumlah pengunjung rata-rata bisa mencapai 700 orang/hari, sedangkan pada Senin-Kamis jumlah pengunjung sekitar 400 orang/hari. Sayang, pria kelahiran Pekanbaru 26 Juli 1974 ini enggan menyebut omset yang didapat setiap bulannya.

 

Kopi dan roti, menurut Mulyadi, menjadi andalannya.  Ia menyebutkan, untuk mendapat serbuk kopi yang berkualitas ia sengaja mendatangkan dari Solok, Sumatera Barat.  Prosesnya pun cukup khas. Begitu juga roti, sejak tahun 1970 Kimteng menunjuk Wolter Monginsidi Bakery untuk membuatkan rotinya.

 

Keunikan lainnya, Mulyadi sebagai pemilik turun langsung melayani tamunya. Dengan T-shirt dan celana pendek biasanya Awai bertugas sebagai juru hitung, sedangkan ayahnya Kaliono Tenggana lebih banyak bertugas di belakang sebagai pengawas mutu.  "Semakin sering si pelanggan datang, otomatis pelayan akan hafal dengan selera tamunya itu," kata Mulyadi. Bahkan, tempat menyedu kopinya sengaja didesain menghadap keluar, sehingga tukang sedu segera tahu siapa saja tamunya yang masuk.

 

Di bawah generasi ketiga, Kimteng memang tampak tambah kinclong. Dalam bulan ini, menurut Mulyadi, Kimteng berencana membuka satu gerai kedai di Bandara Pekanbaru. Adapun pertengahan tahun depan direncanakan membuka di food court Mal Ciputra, Pekanbaru. "Kami hanya menjual menu andalan seperti kopi, jus dan roti," ujar Mulyadi. Setelah di Mal Ciputra?  ?Kami akan memikirkan untuk mengembangkan melalui pola franchise,? jawabnya.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)