Komik Bikin Kampanye dan Edukasi Semarak

Seringkali, proses kampanye dan edukasi tampak membosankan dan kurang 'hidup'. Namun, bila target khalayak adalah anak muda, komik bisa menjadi pilihan media penyampaian informasi. Tak heran, inilah yang membuat banyak studio komik dapat bertahan.

 

Komik edukasi ataupun kampanye biasanya tidak banyak tuntutan karena ditujukan untuk kalangan grass root. Berbeda bila komik Indonesia berhadapan langsung dengan komik Jepang yang sudah lama melekat di hati masyarakat,” kata Ketua Masyarakat Komik Indonesia (MKI), Rizqi Rinaldy Mosmarth.

 

MKI pernah bekerjasama dengan Telkomsel. Peran MKI adalah penyedia konten digital yang bisa diunduh dari telepon genggam. Mereka menyediakan komik dengan cerita pendek. "MKI memfasilitasi, tapi kemudian selanjutnya sudah kami serahkan pada studio-studio komik yang menjadi rekan-rekan MKI," kata Rizqi lagi. Selain itu, ada perusahaan-perusahaan yang memesan komik sesuai dengan produk mereka. Salah satunya seperti susu Milo yang menyelipkan komik di kotak susu.

 

Greebel, perusahaan yang memproduksi pensil warna, juga mengadakan road show ke berbagai sekolah dengan workshop gambar dan membuat komik. MKI turut serta menjadi pembicara dalam workshop tersebut. MKI saat ini sedang menjajaki kerjasama dengan dengan Komik Lokal Indonesia (Koloni) yang berada dibawah naungan penerbit Gramedia. Bisa dikatakan Koloni merupakan tolok ukur keberhasilan komik lokal.

 

MKI menjajaki kerjasama untuk bisa mengambil peran penyaringan pertama sebelum akhirnya diproses oleh Koloni dalam penerbitannya. Selain itu MKI ingin berpartisipasi lebih banyak. “Kami ingin bekerja sama dengan Gramedia untuk mempromosikan Koloni pada setiap acara kami. Apalagi, Koloni punya banyak karya,” ujar Rizqi.

 

Hampir setiap minggu MKI ada workshop keliling. Sedangkan setiap bulan-nya MKI mengadakan acara pameran rutin. Setahun belakangan ini MKI juga mengikuti business incubator dengan Prasetya Mulya melalui program Indonesia Consumunity Expo (ICE). Bersama sekolah bisnis tersebut, MKI menyusun program kerja setahun. Program kerja tersebut mengajarkan banyak hal bagaimana agar suatu karya komik bisa diterima industri.

 

Sejauh ini, MKI tidak menemukan kesulitan yang berarti dalam menawarkan produk pada perusahaan. Pasalnya, komik merupakan produk yang unik dengan rentang usia pasar yang luas sehingga cenderung diterima oleh perusahaan. "Kesulitannya adalah menghasilkan kerjasama yang integrated, bukan sekadar pesan komik, tapi media yang berlanjutan," jelas Rizqi.(Acha)



--

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)