Komitmen Coca-Cola Atasi Permasalahan Plastik

Meskipun penggunaan botol plastik tidak terelakkan, Coca-Cola akan berkomitmen menjalankan 3 pilar World Without Waste yakni Design-Collect-Partner.

Plastik merupakan bahan baku sehingga ada nilai ekonomi di dalamnya, tidak hanya untuk industri tetapi juga untuk masyarakat.

Gunawan Mangunsukarjo, Regional Technical Director Coca-Cola Indonesia mengatakan, plastik merupakan inovasi yang bersifat fleksibel, affordable dan tahan lama, karenanya penggunaan plastik dalam berbagai bentuk telah menjadi bagian tak terhindarkan dari kehidupan masyarakat modern.

Penggunaan kemasan plastik memiliki dampak besar terhadap lingkungan. Sampah telah menjadi sebuah persoalan yang mendapat perhatian masyarakat global dalam beberapa waktu terakhir. Jumlah komposisi sampah plastik khususnya, berdasarkan data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, di wilayah DKI Jakarta pada tahun 2016-2017 menempati posisi kedua setelah sampah sisa makanan dengan jumlah sebesar 12,40%.

Berdasarkan data dari Kementerian Perindustrian, saat ini kapasitas terpasang industri kemasan plastik mencapai 2,35 juta ton per tahun. Namun, utilisasinya sebesar 70%, sehingga rata-rata produksi mencapai 1,65 juta ton, sedangkan penyerapan tenaga kerjanya sekitar 350.000 orang.

Professor Enri Damanhuri, Guru Besar Pengelolaan Udara dan Limbah Institut Teknologi Bandung, menuturkan, "Permasalahan sampah memang merupakan tugas dari seluruh pihak. Namun, penanganannya dapat dimulai dari individu masing-masing. Artinya semua orang Indonesia harus dapat mengelola sampahnya di sumber mereka sendiri, di rumah, sekolah atau kantor.”

Sampah plastik merupakan masalah lama dan edukasi harus terus dilakukan. Salah satu edukasi yang perlu terus diberikan ialah pentingnya membiasakan untuk tidak membuang sampah di mana saja, dan selanjutnya membiasakan untuk berperilaku bijaksana dalam menggunakan plastik termasuk dalam hal penanganan sampahnya.

“Faktor utama sampah tentu berasal dari perilaku masyarakat yang semakin konsumtif. Minimnya kesadaran dan pola pikir juga turut andil, hal ini bisa dicegah dengan memilah dan mengumpulkan sampah plastik dalam satu tempat. Diperlukan juga kerjasama dari pihak produsen, pengumpul sampah plastik (collector) sampai konsumen untuk berperan aktif dalam mendorong masyarakat berperilaku Iebih bijaksana dalam penanganan sampahnya, melalui edukasi dan penegakan peraturan yang konsisten,” imbuh Enri.

Triyono Prijosoesilo, Public Afairs and Communications Director Coca-Cola lndonesia, menjelaskan, Coca-cola lndonesia menegaskan komitmen perusahaan untuk turut aktif mengatasi permasalahan plastik di Indonesia. Hal ini sejalan dengan komitmen The Coca-Cola Company yaitu World Without Waste.

Coca-Cola bersama-sama dengan mitra pembotolan perusahaan memiliki beberapa tujuan utama, yaitu Investing ln the Planet. Jadi setiap botol atau kaleng yang terjual oleh Coca-Cola dan mitranya secara global, perusahaan akan membantu mengumpulkannya kembali agar kemasan tersebut dapat dimanfaatkan lagi dan memiliki masa hidup lebih dari satu kali.

“Melalui tiga pilar World Without Waste, yakni Design-Collect-Partner, Coca-Cola memiliki komitmen tinggi untuk melakukan pengumpulan botol plastik dan mendaur ulang setiap botol plastik yang terjual dan dikonsumsi oleh masyarakat di tahun 2030,” imbuh Triyono.

Adapun tujuan kedua yaitu Investing ln Packaging. The Coca Cola Company mendukung konsep circular economy melalui investasi multi-tahun dan jutaan dolar yang mencakup kerja berkelanjutan untuk membuat seluruh kemasan produk Coca-Cola 100% dapat didaur ulang pada tahun 2025. Termasuk, menyertakan 50% konten daur ulang di seluruh kemasan pada tahun 2030.

Editor : Eva Martha Rahayu

www.swa.co.id

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)