Korindo Bertaruh di Bisnis Mobil Komersial

Grup Korindo adalah anak usaha Donghwa Enterprise Ltd. Co. asal Korea Selatan. Di negeri asalnya, perusahaan ini berawal dari bisnis pengolahan kayu pada 1950-an dan sekarang masuk daftar 100 chaebol Kor-Sel dengan beragam usaha, mulai dari farmasi, perdagangan, properti hingga lapangan golf. Di Indonesia, debut bisnis Korindo dilakukan pada 1969 sebagai perusahaan penanaman modal asing. Mula-mula, terjun ke industri pengolahan kayu (logging) dan kayu lapis. Selanjutnya, merambah ke perkebunan kelapa sawit dan crude palm oil (CPO), kertas koran, produk kimia, baterai, kontainer, keuangan, asuransi, pipe coating, real estat, perdagangan, logistik hingga perusahaan multimedia dan wind energy. Dan, sejak 2006 bisnis otomotif telah disiapkan menjadi andalan baru Korindo.

Tidak semua bisnis yang digumuli Korindo sukses. Pada pertengahan 1980-an Korindo masuk ke industri sepatu dengan merek Eagle. Sayang, sekarang sudah ditutup dan bekas pabriknya akan disulap menjadi pabrik produksi komponen dan suku cadang otomotif yang akan bermitra dengan investor lain dari Kor-Sel. “Total investasi yang akan masuk kurang-lebih US$ 100 juta untuk mendukung bisnis ini,” ujar Byung Soo Kim, Presdir PT Korindo Motors, menjelaskan.

Ada pun total omset grup usaha yang dipimpin Eun Ho Seung ini sekitar US$ 1 miliar/tahun. Kayu lapis memberikan kontribusi terbesar, sekitar 25%, disusul kertas koran 15%, CPO 10%, produk kimia 10%, kontainer 5%, dan sisanya dari lain-lain. Sebetulnya, bisnis otomotif yang disiapkan sejak 2006 itu akan menjadi andalan barunya di Indonesia.

Meski bisnis otomotif tergolong baru dijajaki Korindo, sebelumnya grup ini telah memproduksi alat transportasi khusus dan alat berat melalui PT Korindo Heavy Industry yang juga dipimpin Kim. Pabrik ini didirikan di Balaraja, Banten, pada 1989 seluas 52 hektare. Dengan penambahan fasilitas baru berupa lini perakitan, tiap tahun akan diproduksi 5 ribu truk dan 2 ribu bis. “Kami investasikan US$ 20 juta di bisnis commercial vehicle ini,” ujar Kim.

Korindo, Kim mengungkapkan, punya obsesi besar atas terjalinnya kerja sama bisnis dengan Hyundai. Sebab, pihaknya berharap truk dan bus itu tidak hanya membidik pasar dalam negeri, tapi juga memenetrasi kawasan Asia Tenggara. “Tiga tahun lagi kami ingin 10 ribu unit kendaraan terjual dengan pangsa pasar 10%,” katanya menegaskan. Ia optimistis dengan didukung layanan pascajual, kualitas plus kapasitas daya angkut truk dan bus Hyundai yang diklaimnya lebih unggul di kelasnya.

Selain itu, Korindo juga menunjukkan keseriusannya meramaikan pasar otomotif, yaitu dengan mendirikan pusat riset dan pengembangan. Ini sengaja disiapkan karena Korindo pun berkomitmen mengundang produsen komponen dalam negeri untuk terlibat dalam pembangunan basis produksi kendaraan komersial Korindo-Hyundai di Indonesia.

Bagaimana prospeknya? Bagi Kim, prospek pasar kendaraan komersial di Indonesia sangat bagus menyusul pelarangan impor truk bekas sejak tahun lalu oleh pemerintah. Jangan lupa, Indonesia menempati peringkat 23 untuk pasar otomotif dunia dan yang terbesar di Asia Tenggara untuk kendaraan komersial. Alhasil, Hyundai menjadikan Indonesia sebagai basis produksi truk dan bus untuk kawasan regional. “Pada lima bulan pertama tahun ini saja pasar meningkat 25% dibanding tahun lalu,” ujar Kim. Saat ini 200 unit truk dan bus Hyundai-Korindo juga sudah dipesan pembeli. Belum lagi, order 20 unit bus untuk armada bus Transjakarta koridor 4, 5, 6 dan 7. “Koridor lainnya kami sedang ikut tender,” Sun Hyeong Yi, Direktur PT Korindo Motors, menambahkan. Dan tahun ini ditargetkan 1.500 unit truk Hyundai terjual dari total potensi pasar kendaraan komersial sebanyak 60 ribu unit.

Jaringan pemasaran juga disiapkan. Jaringan dealership akan dikonsentrasikan di Jawa, Bali, Lombok, Sumatera dan Kalimantan (Barat). Untuk Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masih penjajakan, dan berikutnya ke Sulawesi dan Papua. “Yang pasti, hingga kini sudah ada kontrak kerja sama di 11 lokasi dealer. “Target kami tahun ini ada 23 dealer,” kata Yi. Dalam lima tahun diharapkan jaringan pemasaran sudah menjangkau 48 titik. Dibanding Mitsubishi yang lebih dari 37 tahun merajai pasar kendaraan komersial di Indonesia, Yi membenarkan perusahaannya menghadapi pesaing kuat di bisnis ini. Apalagi, Mistubishi memiliki 142 dealer. Toh, pihaknya tidak khawatir karena kekuatan merek Hyundai juga sudah terbukti. “Jangan lupa, Hyundai termasuk produsen otomotif nomor 7 terbesar di dunia,” ungkap Kim bangga.

Ketua Umum Gaikindo Bambang Trisulo mengingatkan ketatnya persaingan bisnis ini. “Pendatang baru harus lebih ulet, tabah dan inovatif. Jangan hanya mengandalkan harga. Standar yang sudah dimiliki pemain lain juga wajib dipenuhi,” katanya. Salah satu yang menjadi tuntutan penting pengusaha transportasi adalah nilai jual kembali (resale value) truk yang mereka beli. Bambang mengatakan, semakin banyak merek baru kendaraan niaga komersial yang hadir -- seperti Foton asal Cina dan truk Hyundai asal Kor-Sel, belum lagi pemain lama yang melansir model baru -- bukan berarti indikasi pasar sedang tumbuh. “Persaingan makin ketat. Industri juga (masih) berat karena volume tidak banyak, meski impor truk bekas sudah distop. Lagi pula, impor truk bekas kenyataannya masih jalan terus,” ujarnya.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)