Krisis Global Kedua, Asia Rawan 'Sakit'

Krisis keuangan global terbaru akan menyerang Asia lebih kuat dibandingkan krisis 2008-2009, terutama bagi negara yang bergantung pada pasar modal luar negeri dan masih dalam proses perbaikan anggaran akibat krisis sebelumnya,. Negara yang rawan 'sakit' diantaranya Pakistan, Sri Lanka, Fiji, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan dan Indonesia.

Pernyataan tersebut diungkapkan lembaga credit ratings Standard and Poor (S&P) dalam keterangan pers. Perusahaan yang murka dengan pertinggi Washington sehingga memotong rating dari AAA menjadi AA+ itu mengatakan tidak memprediksi adanya 'tayangan ulang' dari krisis kredit yang melumpuhkan pasar dan mengguncang ekonomi dunia dalam resesi tiga tahun lalu.

Namun, S&P memperingatkan lebih banyak penurunan peringkat di Asia untuk beberapa waktu mendatang. “Implikasi bagi nilai kredit di Asia Pasifik mungkin lebih negatif dibandingkan pengalaman sebelumnya dan sejumlah besan rating negatif akan muncul. Kita tinggal menunggu untuk melihatnya.”

S&P mengatakan hal tersebut berdasarkan asumsi krisis utang Eropa dan masalah utang Washington yang tidak mungkin memunculkan abrupt dislocations (dislokasi mendadak) dalam sistem keuangan dan ekonomi di beberapa negara berkembang. Atas dasar itu, dalam sejarah penurunan peringkat kredit AS tidak akan berdampak langsung pada peminjam yanng berdaulat di kawasan Asia Pasifik. Beberapa negara 'tahan banting' harus memiliki syarat berupa relatif memiliki sektor korporasi dan rumah tangga yang sehat, tingginya likuiditas eksternal dan tingkat tabungan yang tinggi.

Sayangnya, nada gelap muncul di S&P saat berbicara tentang beberapa negara Asia yang masih sangat bergantung pada ekspor ke Barat. “Mengingat interkonektivitas di pasar global, gangguan yang tidak tertuga dan sangat tajam dalam pasar keuangan negara berkembang, dapat mengubah gambaran ekonomi,” ujar S&P, yang lagi-lagi menegaskan, keadaan ekonomi AS dan Eropa saat ini cenderung stagnan.

Dalam skenerio tersebut, berdasarkan pengalaman krisis keuangan global di 2008 dan 2009, ekonomi yang bergantung pada ekspor dengan eksposur besar terhadap AS ataupun Eropa akan merasakan dampak ekonomi yang paling besar,” kata S&P. Lembaga tersebut menyebutkan negara-negara yang rentan dengan gangguan di pasar modal luar negeri adalah Pakistan, Sri Langka, Australia, Selandia Baru, Korea Selatan dan Indonesia.

Dampak buruk di Asia Pasifik dalam skenario tersebut membuat pemerintah di negara-negara itu disarankan untuk menggunakan balance sheet dalam mendukung sektor ekonomi dan keuangan. “Dan menurut kami, sebagian besar pemerintah akan melakukan hal tersebut. Namun, beberapa diantara mereka mungkin harus menanggung bekas luka dari downturn yang terbaru seperti Jepang, India, Malaysia, Taiwan dan Selandia Baru.”

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)