Kunci Keberhasilan Summarecon: Berhasil Mengontrol Keuangan

Terus jeli mencari celah dan peluang, lalu biarkan mekanisme pasar yang bekerja. Filosofi itu sekiranya tepat untuk menggambarkan keadaan PT Summarecon Agung Tbk. (SA). Semakin meningkatnya ekonomi Indonesia yang berimbas peningkatan daya beli masyarakat, sektor properti pun ikut terkerek naik. Perusahaan milik keluarga Nagaria ini, berhasil mencetak wealth added index (WAI) yang cukup signifikan dari tahun lalu.

Kendati menurut peringkat SWA 100 , peringkat SA turun dari posisi 23 ke 35, tapi berhasil mencetak WAI positif senilai Rp 2,20 triliun, setelah tahun lalu tercatat mencetak WAI negatif sebesar Rp 843 miliar. Hal itu juga membuat kapitalisasi pasar SA naik sebesar 96% atau Rp 3,82 triliun dari tahun lalu. SWA 100 mencatat dari periode 1 Januari 2006, SA mencetak Rp 1,47 triliun dan periode 31 Desember 2010 menjadi Rp 7,49 triliun atau naik 409,5% dalam waktu 5 tahun.

Mengilapnya kinerja SA di bursa saham, menurut Johanes Mardjuki, Presiden Direktur PT Summarecon Agung Tbk., perusahaan tidak pernah melakukan suatu hal yang fokus untuk meningkatkan kinerja perusahaan di lantai bursa. “Dari sisi finansial dani saham tidak pernah kami touch betul. Biarkan saja mekanisme pasar yang bekerja. Kami memperkuat dari sisi aset,” jelasnya.

Johanes mengakui, dalam kurun waktu 5 tahun, SA seperti mendapatkan energin untuk meningkatkan kinerja perusahaan dan di lantai bursa. Sejak awal 2007, Summarecon merupakan pengembang pertama yang membangun mal di Serpong dengan sistem sewa 5-20 tahun. Karena saat itu yang ada hanya semacam trade center dengan sistem beli putus. Summarecon Mall Serpong (SMS) beroperasi Juni 2007 dengan luas 43.000m2. “Awalnya banyak yang skpetis, bahkan konsultan asing yang kami pakai menyebut Serpong ini “kampung”,”kata pria kelahiran Jakarta, 52 tahun silam ini.

Pandangan skeptis tidak dihiraukan dan hasilnya cukup sukses. Waktu pembukaan kala itu sudah sekitar 75% terisi dan kini sudah 98% sehingga membuat SA membangun SMS tahap II dengan luas 50.000m2. SMS tahap II sudah topping off bulan lalu dan sudah 75% disewa, rencananya Oktober 2011 sudah bisa beroperasi. Dalam pembangunan ini SA meminjam uang dari BCA sebesar Rp 350 miliar sebagai investasi awal dari total Rp 400 miliar. “Diharapkan sudah 90% terisi saat beroperasi,”katanya. Melihat sudah banyak kompetitor yang hadir di Serpong, Johanes tidak merasa khawatir karena menurutnya hal tersebut akan dapat menjadi pemicu untuk terus maju.

Sukses dengan SMS-nya tidak membuat SA berhenti sampai di situ. Pada bulan yang sama, Juni 2007, SA mengeluarkan rights issue dan menghasilkan dana bersih senilai Rp 406 miliar. Dijelaskan oleh Johanes bahwa 23% (Rp 94 miliar) untuk membeli lahan di Bekasi, 14% (Rp 56 miliar) untuk membeli lahan di Kelapa Gading, 13% (Rp 50 miliar) untuk pembangunan infrastruktur di Bekasi dan 50%(Rp 206 miliar) digunakan sebagai modal kerja.

Guna menambah dana untuk mengembangkan ekspansi dan meningkatkan kinerja perusahaan, tahun 2008, SA mengeluarkan bond sebesar Rp 300 miliar dengan komposisi sukuk sebesar Rp 200 miliar dan conventional bond sebesar Rp 100 miliar. “Bond ini untuk membeli lahan di Kelapa Gading, untuk Grand Orchard. Penjualannya cukup menggembirakan dan habis terjual,”katanya. Dari semenjak pengeluaran bond itu hingga sekarang penjualan di Grand Orchard totalnya mencapai Rp 1,6 triliun.

Pada 2009, SA melakukan launching kawasan hunian baru di Bekasi dengan luas 240 ha. Untuk tahap I Rp 500 miliar ditanamkan modalnya. Launching awalnya hanya 2 klaster dan tanggapan yang didapat ternyata luar biasa. Johanes bercerita bahwa dalam waktu kurang dari 5 jam, 400-an unit rumah yang disediakan terjual habis. Kini sudah sekitar 780 unit rumah terjual dari 4 klaster perumahan seluas 20 ha. “Salah satu kunci pertumbuhan kami adalah peluncuran Summarecon Bekasi, yang menghasilkan pre sale sebesar Rp 530 miliar atau 25% dari total penjualan kami,”katanya senang.

Bekasi semakin disemarakan oleh SA dengan membangun komplek ruko, yaitu Ruko Sinpasa. “Ini juga luar biasa karena dalam waktu kurang dari 2 jam, 98 unit yang disediakan habis terjual. Padahal ada harganya yang mencapai Rp 5 miliar lebih,” kata pria yang sudah mengabdi di Summarecon dari tahun 1993. Total penjualan ruko tersebut senilai Rp 210 miliar. “Dari sisi kinerja aset itu, menurut saya, akhirnya terefleksi di nilai saham di bursa,”tambahnya.

Johanes berpendapat, dengan kombinasi cara seperti itulah investor tertarik untuk menanamkan modalnya dan melihat SA adalah salah satu pengembang properti yang baik kinerjanya. “Kami melakukan cara seperti itu bukan untuk menarik uang saja, tidak ada return to shareholders. Kami selalu menjaga komposisinya,”kata pria yang menjabat sebagai Presiden Direktur SA sejak tahun 2006. Kunci keberhasilan dan kinerja SA terus terjaga menurut Johanes adalah berhasil mengontrol keuangan perusahaan. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)