Layaknya Tubuh, Perusahaan Butuh Diagnosa Rutin

Salah satu cara melakukan transformasi organisasi adalah memberikan penekanan kepada perubahan mendasar dalam lingkup bisnis. Biasanya, ini dilakukan saat misi organisasi tidak lagi relevan berdasarkan 'diagnosa' masalah yang dilakukan perusahaan secara terperinci.

Pernyataan tersebut diungkapkan CEO Dunamis Human Capital, Alex Denni, terkait keputusan perusahaan untuk melakukan 'gebrakan baru'. Ada cara lain sebenarnya, seperti re-engineering yaitu memberikan penekanan pada perubahan radikal pada proses bisnis, cultural change yaitu memberikan penekanan pada perubahan perilaku organisasi serta re-organisasi yang memberikan pernekanan pada perubahan struktur organisasi.

Sebelum melakukan transformasi organisasi, perusahaan harus melakikan diagnosa. Proses dan hasil diagnosa yang baik akan memberikan input atas desain organisasi yang sedang 'sakit',” ujar Alex Denni menjelaskan soal proses perubahan yang seharusnya dilakukan. Selain itu, perusahaan harus memperhatikan bagaimana desain organisasi tersebut diimplementasikan secara bertahap melalui tahapan yang realistik. “Biasanya organisasi yang sedang sakit memiliki keterbatasan-keterbatasan tertentu untuk melakukan terlalu banyak aktivitas.”

Perubahan tersebut membutuhkan 4 peran kepemimpinan secara utuh. Meskipun demikian, kalau dilihat penekanannya, maka dua peran yang paling dibutuhkan dalam melakukan perubahan adalah pathfinding dan aligning. Menentukan arah bisnis membutuhkan peran pathfinding dari kepemimpinan organisasi. Setelah itu, organisasi membutuhkan peran aligning untuk menyelaraskan ulang organisasi menuju arah bisnis baru yang sudah ditetapkan.

Selanjutnya, dalam menentukan strategi, Alex menyerahkan sepenuhnya kepada perusahaan karena tidak ada pilihan strategi yang paling tepat untuk segala situasi. Meskipun demikian, pertarungan bisnis yang sesungguhnya bukanlah pada strategi, tapi pada eksekusi dari strategi yang dipilih.

Kegagalan proses perubahan itu biasanya terjadi karena beberapa sebab. Pertama ketidakjelasan arah atau tujuan dari organisasi. Hal ini biasanya terjadi karena terlalu banyak tujuan yang ditetapkan dam terlalu sering berubah. Penyebab kedua adalah setiap lapisan manajemen tidak mampu menterjemahkan target organisasi ke dalam lingkup unit kerja mereka. Mereka tidak mampu membedakan day to day job dengan tujuan yang harusnya menjadi prioritas.

Penyebab ketiga, dinilai Alex, adalah kurangnya disiplin untuk melakukan hal-hal yang menjadi poin utama dalam pencapaian tujuan tersebut. Hal ini sering disebabkan bukan karena mereka tidak tahu apa yang perlu dikerjakan, tetapi lebih sering karena mereka tidak mengerjakan yang mereka tahu tersebut karena berbagai alasan.

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)