Ledakan Akses Data Ubah Budaya Telepon

Akses data di perangkat seluler diperkirakan akan mengubah kebiasaan masyarakat dalam memanfaatkan layanan telepon. Yang menguntungkan, biaya komunikasi suara semakin rendah meskipun beban data meningkat. Seperti apa?

“Penggunaan data menjadi kebutuhan utama selain voice. Meskipun, kebutuhan telepon sendiri tidak mungkin digantikan. Namun, kami melihat, layanan voice hanya akan menjadi salah satu bagian aplikasi. Fitur itu nantinya akan 'memakan' beban data,” ujar Hermanudin, General Manager Business Planning Development IM2. Ia memberi contoh, dengan aplikasi Skype di smartphone, seseorang bisa menelpon baik ke PSTN, selular bahkan ke Skype dan Gmail dengan biaya lebih murah.

“Kalau dulu saya harus buka noteboook, hubungkan kabel lalu masih juga harus pakai telepon walaupun menggunakan Skype. Sekarang bisa hanya dari handphone. Tidak ada bedanya dengan aplikasi dial biasa. Itu paradigma yang akan berubah ke depannya di bidang teknologi karena kita terinterkoneksi,”katanya.

Total traffic data IM2 sendiri mencapai 2 GB setiap harinya dan terus meningkat setiap tahunnya. Lewat produk IM2 Broom, baik Prepaid dan Post Paid, IM2 berusaha untuk menjangkau berbagai segmen. Prepaid sendiri mempunyai harga dari biaya bulanan Rp 50 ribu perbulan hingga Rp 200 ribu perbulan. Yang membedakannya hanya kecepatan dan kapasitas kuota pemakaian. Begitu juga dengan Post Paid, IM2 juga menyediakan harga yang lebih premium dengan kuota dan kecepatan di atas Prepaid.

Namun, Herman mengatakan bahwa kendalanya sekarang adalah belum adanya aturan yang jelas dari pemerintah sehingga perkembangan teknologi ini belum marak dan masih terkesan mahal, padahal kalau dihitung dengan memakai basis teknologi, jalur data jauh lebih murah. Hal ini dikarenakan sejak awal kemunculan 3G, teknologi itu memang digunakan untuk voice jadi semua hitungannya berdasarkan voice.

Akibatnya, untuk jalur data, operator harus menyediakan bandwitdh lebih besar dengan harga yang sama dengan panggilan melalui telepon. Misalnya untuk menelpon semenit dengan harga Rp 500, sedangkan kalau menggunakan jalur data dengan harga yang sama harus menyediakan bandwitdh yang lebih besar. “Kita mengharapkan pemerintah bisa membuat ekosistem sehingga teknologi yang murah bisa tersedia,”katanya. Selain karena regulasi mengenai infrastruktur broadband dan frekuensi yang belum jelas untuk LTE, incumbent yang ada memang belum siap akan hadirnya teknologi data ini sendiri. Regulasi dari pemerintah RI memang membatasi penggunaan untuk disambung ke jaringan milik Telkom untuk Voip.

Selain itu, dengan keberadaan LTE, fitur voice dan data akan berjalan beriringan. Operator nantinya hanya memiliki perbedaan berdasarkan kualitas layanan berbasis IT. “Kalau sudah nelpon kayak tadi, menggunakan Skype, lokasinya ada di mana semuanya sama biayanya. Itu tantangannya dari segi regulasi tetapi secara teknologi sudah bisa. Meskipun, regulator belum siap.” (Acha)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)