Manejemen Harus Siap Mewaspadai Ledakan Bisnis Digital

Bisnis digital di Indonesia bukanlah hal yang baru. Menururt Irving Hutagalung, ISV and Entrepreneurship Program Manager Microsoft Indonesia, sejak 5-10 tahun lalu, sudah banyak pionir di bidang ini, mulai dari full e-commerce pelanggan sampai dengan kombinasi antara e-store dan pembayaran offline.

Namun, beberapa tahun terakhir memang terlihat perkembangan yang sangat pesat, karena didukung oleh infrastruktur internet yang semakin baik, dari kualitas maupun kuantitas. Yaitu, meluas ke seluruh Indonesia dan ada peningkatan bandwidth plus jaringan yang stabil. Tapi, dia mengingatkan bahwa perkembangan ini tentu masih harus diperhatikan lebih lanjut, terutama dari sisi bisnisnya.

Irving mengatakan, banyaknya pemain baru belum tentu jumlah transaksi juga bertambah. Ini dikarenakan tingkat kepercayaan konsumen terhadap transaksi digital yang masih rendah, walaupun terus meningkat. “Ditambah lagi banyaknya bisnis digital yang masih belum menemukan model bisnis yang sustainable. Semoga ke depannya semakin banyak pemain bisnis digital yang berani membuka data bisnis mereka, atau adanya lembaga independen yang bisa mengumpulkan data tersebut, sehingga kita bisa benar-benar melihat baik potensi maupun realisasi dari bisnis digital di Indonesia,”katanya.

Keberadaan investor, baik asing maupun lokal, akan sangat membantu perkembangan ini. Menurtnya, suntikan dana segar dapat menjadi kunci lompatan bisnis sebuah usaha. Akan tetapi, sama seperti bisnis lain, pemain bisnis digital juga harus jeli melihat dampak keberadaaan investor ini dalam bisnis mereka. Banyak pengamat kewirausahaan yang menganjurkan agar bisnis wirausaha sebaiknya berusaha sedapat mungkin memanfaatkan dana sendiri, tanpa bergantung pada keberadaan investor.

Menurutnya, dana segar dari investor akan lebih baik apabila digunakan untuk mendukung sebuah usaha, bukan sebagai dana utama penggerak usaha. Di sisi lain, keberadaan investor juga biasanya disertai dengan bantuan manajemen dan bantuan untuk menghubungkan dengan jaringan bisnis, yang dapat membantu sebuah usaha. Semua hal ini harus dicermati dengan baik oleh pemain bisnis digital sekarang.

Dia menjelaskan, kriteria sukses sangat relatif, sehingga agak sulit mendaftar para pemain bisnis digital yang berhasil secara lengkap. Andri Yadi, CEO DyCode, salah satunya yang disebut Irving. Dia adalah salah seorang pemenang IMULAI, program kompetisi untuk pebisnis Digital dari Microsoft Indonesia, 1.0 tahun 2007, yang juga adalah anggota Microsoft BizSpark, sebuah program Microsoft untuk IT Startup.

DyCode telah mengimplementasikan produk PortMap di beberapa pelabuhan Indonesia. Selain itu DyCodejuga telah menjalankan beberapa projek di luar negeri, seperti di Malaysia dan Singapura. Dan saat ini mereka juga telah juga masuk ke aplikasi mobile dengan keberadaan produk Movreak. Contoh lain adalah Isaam Khalid, CEO AMN dan Arief Widhiyasa, CEO Agate Studio.

Dengan semakin besarnya cakupan dan meningkatnya kualitas jaringan internet di Indonesia, bisnis digital tentu akan semakin berkembang, bahkan sangat pesat. Namun selain harus dimanfaatkan, harus sekaligus diwaspadai, oleh para pemain bisnis digital di Indonesia. Dimanfaatkan, karena artinya pasar akan semakin besar, tingkat kepercayaan konsumen terhadap transaksi digital akan semakin meningkat, dan pasar dunia akan semakin mudah diraih. Diwaspadai, karena ledakan dari sisi skala akan membutuhkan kemampuan manajemen yang handal untuk menanganinya.

Manajemen harus mempersiapkan diri untuk lompatan ini, jangan sampai mereka tidak siap dengan struktur dan prosedur perusahaan yang tepat. Hanya dengan cara demikian mereka dapat mengembangkan bisnis mereka mengikuti gelombang digital yang sedang melanda Indonesia,”jelasnya. (EVA)

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)