Martha Tilaar: Oma 'Bawel' yang Sayang Keluarga

Perempuan kelahiran Kebumen, 4 September 1937, ini sukses memperkenalkan layanan dan produk kecantikan sejak awal 1970an. Keberhasilan Martha Tilaar pun tampak dari pendapatan tahunan sekitar Rp 600 miliar. Di lingkungan keluarga pun, Martha terkenal sebagai nenek penyayang. Bahkan dianugerahi julukan 'oma bawel'.

 

Panggilan kesayangan itu muncul akibat perhatian sang oma yang sangat besar terhadap keenam cucunya. “Saya dibilang oma yang super bawel kata mereka (cucu). Kebawelan itu tetap saya jelaskan alasannya kepada mereka. Tapi jika tidak ada mereka, rumah rasanya sepi,” ujar perempuan yang tinggal di kawasan Patra Jasa, Jakarta Selatan. Martha memiliki empat anak yakni Bryan David Emil Tilaar, Pingkan Engelien Tilaar, Wulan Maharani Tilaar dan Kilala Esra Tilaar, buah pernikahan bersama Prof. Dr. Henry Alexis Rudolf.

 

Saat ini Martha dianugrahi 6 cucu, 4 dari Pingkan Engelien Tilaar dan 2 dari Wulan Maharani Tilaar. Dari enam cucu, lima diantaranya cucu perempuan dan satu cucu laki-laki. Martha begitu dekat dengan keenam cucunya. Sangking sayangnya, Martha mengaku, jauh lebih cerewet ketimbang ibunya. Misalnya, bagaimana cara makan yang baik dan benar, mengucapkan salam sebelum masuk ruangan, hingga cara berbicara yang sopan.

Untuk menjalin keharmonisan dalam keluarga, ia selalu mengajarkan nilai-nilai kebaikan seperti gotong royong, saling menghargai, hidup rukun, dan menjauhkan diri dari rasa iri. Nilai-nilai tersebut ia ajarkan ke anak-anaknya sejak kecil. Ia juga menyebar local wisdom, seperti menjalin hubungan baik dengan Tuhan, hubungan baik dengan manusia dan hubungan baik dengan alam. Dengan begitu, manusia atau anggota keluarganya bisa menyadari hakikat manusia yang sesungguhnya. “Cara termudah untuk menyebarkan nilai dan wisdom itu gampang, yakni menjadi contoh terlebih dahulu buat diri sendiri lalu buat mereka,” kata wanita yang pernah mengeyam pendidikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana, AS (1968).

 

Martha mengakui, hubungan antar anggota keluarga tidak selalu berjalan dengan harmonis. Masalah pasti ada, baik yang berskala kecil atapun yang besar, menyangkut perusahaan. Jika ada persoalan pribadi, dirinya selalu menjadi penengah buat anak-anak. Ia membantu menyelesaikan masalah dengan diskusi dan komunikasi terbuka. Jika persoalan menyangkut perusahaan, Martha selalu mendatangkan notaris atau pihak legal agar tidak terjadi hal tidak diinginkan. “Saya tidak mau anak-anak main jual aset perusahaan. Saya akan sangat tegas jika pola pikir mereka ke arah seperti itu,” ungkap Martha tegas.

 

Baik dalam kehidupan keluarga ataupun perusahaan, Martha selalu berpatokan pada lima nilai. Lima nilai tersebut bernama “DJITU” yakni Displin, Jujur, Iman, Tekun dan Ulet. DJITU merupakan pondasi untuk membangun karakter individu dan perusahaan. Agar DJITU sukses dijalankan, Martha mencoba menjadi contoh bagi seluruh karyawan, termasuk anak-anaknya. Misalnya datang ke kantor tepat waktu, jujur mengatakan kondisi perusahaan, memberitahu bahwa sudah waktunya untuk jam ibadah, tekun mengerjakan tugas dan tanggung jawab baru dan ulet mengerjakan tugas tersebut hingga tuntas dan sempurna. (Acha)



--

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)