Masihkah Bajoe Berjaya di Telkomsel?

Kelak, setelah pensiun dari Telkom, Bajoe Narbito, lelaki tinggi besar dengan cambang yang sering dibiarkan tumbuh hanya beberapa sentimeter, kemungkinan besar segera mendapatkan pekerjaan lain. Para vendor atau perusahaan, khususnya yang membidangi telekomunikasi, akan memperebutkannya. Sebab, hampir semua tahapan kariernya di bisnis telekomunikasi telah dan sedang dilaluinya, baik di fixed line (telepon tetap) maupun seluler.

Ia pernah memimpin dua divisi regional (Divre) dengan karakter dan tantangan yang berbeda seperti bumi dan langit. Di Divre VI Kalimantan, Bajoe tak hanya memikirkan bagaimana membangun jaringan, tetapi juga menghadapi alam yang berat. Di Divre II Jakarta yang ia pimpin selanjutnya, ia harus membangun sistem agar caci-maki pelanggan di berbagai harian Ibukota bisa dikurangi atau dihilangkan sama sekali. Memimpin Divre II, ia harus ekstra hati-hati sebab 50% pendapatan PT Telkom Tbk. berasal dari sini. Jeblok di Jakarta, jeblok pula Telkom. Toh, Bajoe sukses. Konsep pengembangan pelanggan korporat sebesar 20% untuk mendapatkan pendapatan sama dengan 80% pelanggan perumahan menjadi catatan tersendiri bagi direksi Telkom akan kinerja Bajoe.

Maka, pada RUPS Telkomsel 28 Maret 2003, Telkom sebagai pemegang saham terbesar menunjuk orang terbaiknya untuk menjadi presiden direktur. Dan orang terbaik itu adalah Bajoe. Namun, apa sih alasan direksi Telkom menunjuknya sebagai bos Telkomsel? "Saya nggak tahu," ujar Bajoe. Sebenarnya, nama Bajoe pernah muncul dalam bursa pencalonan Dirut PT Telkom tempo hari, yang akhirnya memilih Kristiono, mantan Divre V Jawa Timur.

Bajoe sempat berkutat pada tugas-tugas keprotokoleran sebagai Sekretaris Korporat PT Telkom seusai menjadi bos di Divre II. "Saya sempat berpikir jabatan itu menjadi karier akhirnya," kata Mas Wigrantoro, Wakil Presiden Masyarakat Telekomunikasi.

Bajoe adalah pekerja keras dengan konsep yang jelas. Maka, seperti pada jabatan puncak yang pernah dipegang sebelumnya, ia segera membuat konsep dasar pengembangan perusahaan. Di Divre II dulu, ia melakukan perubahan besar-besaran dengan mengampanyekan budaya kerja Costumer First yang mengacu pada kebijakan CF-222: Dua Sukses, yakni sukses loyalitas pelanggan dan pertumbuhan bisnis dan sukses semangat saling menghargai dan saling percaya, serta sukses tekad yakni tekad akan komitmen dan kerjasama.

Di Telkomsel, strategi ini tampaknya dipakai lagi. Kepada Dedi Humaedi dari SWA, Bajoe memaparkan program kerjanya. Pertama, kepastian pertumbuhan bisnis. Kedua, proses bisnis yang efisien dan efektif, serta ketiga, perbaikan secara terus-menerus citra Telkomsel. Dalam hal pertumbuhan, misalnya, sifatnya menyeluruh, dari pelanggan, pendapatan, SDM, kualitas hingga pelayanan.

Beban tanggung jawab Bajoe seharusnya lebih berat dibanding para pendahulunya saat Telkomsel menapak diri sebagai pemain pertama telepon seluler. Wigrantoro bisa menjelaskannya dengan rinci soal ini. Katanya, saat masih dipimpin Koesmariyati, Telkomsel digiring berhadap-hadapan dalam persaingan bisnis dengan Satelindo yang saat itu masih dalam kendali Bimantara. Hasilnya, Telkomsel lebih dulu eksis di Batam dan luar Jawa. Sejarah juga mencatat, duet Koesmariyati-Garuda Soegardo sukses menjadikan Telkomsel sebagai operator nomor satu.

Perubahan mendasar terjadi ketika Telkomsel dipimpin Mulia P. Tambunan, yang juga bersamaan dengan masuknya Singapore Telecommunication Ltd. (SingTel) sebagai pemegang 35% saham Telkomsel. Mulia harus melakukan banyak konsolidasi sebagai konsekuensi hadirnya investor baru tadi. Memang, Telkomsel tetap jadi raja. Namun, hasilnya harus dibagi dengan pihak lain. Jangan tercengang jika Telkomsel adalah penyumbang keuntungan terbesar bagi SingTel secara keseluruhan.

Selain faktor SingTel, ada tiga tantangan utama yang dihadapi Bajoe. Pertama, membuat Telkomsel bersaing dengan induknya sendiri, Telkom. Pemilik saham terbesar Telkomsel ini juga telah mengembangkan Telkom Flexi. Teknologi terbaru Telkom ini akan berdampak besar terhadap para operator seluler berbasis Global System for Mobile Phone (GSM).

Telkom Flexi memungkinkan pelanggan men-download data dalam jumlah besar, koneksi Internet dan dilengkapi fitur SMS dan MMS. Hebatnya, semua fasilitas Telkom Flexi ini bisa dinikmati dengan pulsa telepon rumah yang jauh lebih murah dibanding tarif seluler. Lagi pula, Telkom Flexi bisa dinikmati melalui layanan prabayar dan pascabayar dengan Removeable User Identification (RIM/SIM Card).

"Tugas Bajoe adalah mencegah pelanggan Telkomsel beralih ke layanan Telkom Flexi," kata Wigrantoro. Dalam kaitan inilah pengamat telekomunikasi ini meminta ketegasan pemerintah sebagai regulator tentang batasan fixed wireless CDMA agar industri telekomunikasi tidak stagnan. Faktor Telkom Flexi ini sangat penting bagi Bajoe. Sebab, jika layanan baru Telkom ini bisa bertahan dan maju, pasar Telkomsel serta operator seluler lainnya akan terpengaruh. "Jika begini, semuanya kembali pada komitmen Telkom sendiri kepada Telkomsel," jelasnya.

Tantangan kedua adalah linsensi teknologi 3G dan semakin maraknya teknologi GPRS. Dua jenis teknologi ini semakin mempercepat cara berkomunikasi dibanding teknologi GSM yang dipakai Telkomsel. Artinya, Bajoe harus secepatnya mengaplikasikan kedua teknologi ini ke Telkomsel. Ia tentu tak ingin nasib Telkomsel yang berbasis GSM tenggelam seperti nasib Mobisel yang mengaplikasi teknologi Analog Mobile Phone System dan Nordic Mobile Phone.

Ketiga, tugas Bajoe semakin berat jika Telkomsel melakukan initial public offering yang memungkinkan hadirnya pemegang saham baru. Sekarang saja, ia harus bekerja sama dengan direksi yang berasal dari SingTel, yang tentu saja berbeda kepentingan. SingTel, misalnya, punya target pencapaian pertumbuhan bisnis yang mungkin saja berbeda dari Telkom.

Rumitnya, Bajoe sebagai pengendali perusahaan harus memenuhi target tersebut. Belum lagi kesigapan operator lain. IM3, misalnya, bahkan berani membagi-bagikan secara gratis SIM Card-nya. Akan semakin keras usahanya mempertahankan supremasi Telkomsel karena investor asing sedang gencar mencari partner bisnis di jasa seluler republik ini. Salah satunya, Telecom Malaysia.

Menyadari Telkomsel adalah raksasa dengan penguasaan 51% pangsa pasar, Bajoe tak ingin terlena. Strategi yang telah dirancang: Maximum Sustainable Growth alias upaya mempertahankan pertumbuhan untuk jangka lama. Saat ini, jumlah pelanggan ponsel mencapai 12 juta atau telah jauh melampaui angka pelanggan telepon tetap yang tidak juga bergerak dari angka 7 juta SST. Itu berarti, pelanggan seluler hanya 10% dari 220 juta rakyat Indonesia yang memakai ponsel. Padahal, penetrasi ponsel di negara maju mencapai 60%-70%. Dan, segmen menengah-atas tadi adalah salah satu strategi mendongkrak pendapatan dari lambatnya pertumbuhan pasar ponsel di negeri ini.

Namun, bukan berarti segmen bawah yang hanya membutuhkan layanan suara menjadi terabaikan. Terakhir, Telkomsel mendirikan satu base transceiver system (BTS) di Pulau Sangir, Sulawesi Utara, yang berbatasan langsung dengan Filipina. Secara komersial, BTS ini akan jadi beban operasional. Namun, dalam jangka panjang, BTS ini akan berbicara banyak, setidaknya saat telekomunikasi seluler telah tersosialisasi dengan baik hingga ke pelosok desa.

Tahun 2002, pertumbuhan costumer base Telkomsel mencapai 56%. Maka, pada tahun pertama kepemimpinannya, Bajoe menargetkan menggaet 2,7 juta pelanggan baru untuk menjadikan total pelanggan Telkomsel menjadi 9,2 juta nomor.

Namun, Bajoe harus bekerja lebih keras lagi sebab layanan seluler banyak bertumpu pada inovasi. Konsumen modern tidak lagi menuntut sekadar kualitas suara yang bagus, tapi juga layanan terkini lainnya seperti data GPRS atau MMS. Maka, tekad telah dipancangkan: berubah. Ya, perubahan adalah rumus bagi perusahaan telekomunikasi, secepat perubahan teknologi telekomunikasi itu sendiri.

Tahap pertama, Bajoe menerapkan Competency Base Human Management System. Penilaian bagi karyawan berdasarkan kompetensinya dan soal-soal kampungan seperti senioritas terlipat rapi dalam rak sejarah Telkomsel.

Telkomsel boleh menepuk dada. Sebab, meskipun bukan selalu yang pertama, mampu menyajikan layanan teknologi seluler terbaru. IM3 memang yang pertama memakai teknologi GPRS, tapi Telkomsel yang bisa mengembangkan jaringan layanan ini hingga ke 15 kota, meninggalkan pesaingnya yang hanya berkutat di beberapa kota. Telkomsel bahkan berani mengobral fasilitas MMS-nya dengan memberikan pemakaian gratis untuk beberapa bulan ke depan.

Bajoe tampaknya banyak belajar dari pengalaman memimpin Divre II. Ia sukses di sini sebab tahu akar persoalan dan cara menyelesaikannya. Pertama, team work yang dibentuknya solid. Karyawan yang pintar bisa bekerja sama dengan karyawan yang biasa-biasa saja dan saling melengkapi atas dasar tujuan yang sama. Kedua, kejelasan strategi dan status SDM. Banyak perusahaan sering terguncang oleh ketidakjelasan SDM. Dampaknya, laju pertumbuhan bisnis juga akan terhambat. Lalu, ketiga, kejelasan proses bisnis.

Telkomsel tampaknya akan semakin mengilap di tangan Bajoe. Duduk di kursi puncak tidak membuatnya merasa tahu segalanya. Berbagai forum diskusi atau seminar di luar kantor, dari urusan manajemen hingga pemasaran, diikutinya.

Wigrantoro termasuk satu dari banyak orang yang yakin Telkomsel akan semakin besar di tangan Bajoe. Berbagai konsep pelayanan baru Telkom yang dikembangkannya di Divre II kala itu, seperti service level guarantee yang terbagi dalam berbagai kategori seperti pelayanan platinum, gold dan silver, menjadi acuan penilaiannya.

Wigrantoro ingat betul, Bajoe adalah sosok yang ramah, mudah mengingat orang meskipun baru kenal dan cepat akrab dengan siapa pun. Ia bahkan bisa menghafal nama orang yang jarang terlihat olehnya.

Seperti pada kisah-kisah seperti ini, butuh sosok yang menjadi inspirasi sekaligus motor pendorong utama. Dan sosok itu adalah Suny Dewani, sang istri, dan Bhanu, anak semata wayang yang duduk di kelas 2 SMU. Sang istri juga sering tersenyum sendiri melihat suami brewoknya mengendarai motor besar kesayangannya.

Reportase: Dedi Humaedi dan Tutut Handayani
Riset: Vika Octavia

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)