Mee Kim: Jatuh Cinta pada Bisnis Instant Office

Mulanya adalah serba kebetulan. Ketika Kim sebagai Manajer Senior di perusahaan penyedia instant office asal Australia (Grup Servcopr) ditugaskan mengembangkan cabang di Jakarta tahun 1997, ia malah tertarik menjalankan usahanya sendiri. "Saya melihat Jakarta memiliki potensi yang sangat besar untuk bisnis ini," ungkapnya.

 

Pertimbangannya sederhana. Sebagai negara yang sedang membangun, Indonesia merupakan salah satu tujuan investasi perusahaan dan investor asing. Bagi perusahaan atau investor yang ingin menjajaki pasar di Indonesia, menyewa instant office tentu lebih efisien ketimbang memiliki kantor yang permanen. "Makanya, saya terjun di bisnis ini,? ujar ibu seorang putra ini. Kim pun lalu mengibarkan bendera CEO Suite, September 1997. Kantor pertama yang dibuka berlokasi di Gedung Bursa Efek Jakarta.

 

Belajar dari perusahaan tempat ia bernaung sebelumnya, Kim menawarkan konsep yang berbeda di CEO Suite. Ia mengatakan, kebanyakan provider instant office di Indonesia berasal dari negara-negara besar seperti Amerika Serikat dan Australia. Namun, dalam memberikan layanan, mereka terpaku pada pola yang diterapkan di negara mereka. "Ada gap antara pola bisnis di Australia atau Amerika dengan pola bisnis di Asia," ungkapnya.

 

Karenanya, CEO Suite tidak hanya menawarkan jasa ruang kantor (physical office) berikut segala keperluannya. CEO Suite juga menawarkan layanan virtual office: pelanggan tidak perlu menyewa ruangan, tapi alamat perusahaannya menumpang pada alamat CEO Suite. Penyewa tetap mendapatkan fasilitas nomor telepon berikut sekretaris yang akan menangani segala keperluan perusahaan. Tidak hanya sampai di situ, CEO Suite pun melayani segala macam urusan yang dibutuhkan penyewa, dari mengurus pajak, memohonkan visa, sampai mencari mitra lokal. "Yang kami terapkan adalah pola one stop solutions,? kata Kim.

 

Tak disangka, meski dalam keadaan krisis, tingkat hunian di CEO Suite tidak pernah di bawah 80%. "Tidak hanya physical office yang diminati, tapi virtual office juga tidak kalah larisnya," ujarnya mengenang.

 

Sukses dengan kantor pertama, CEO Suite memperluas pasarnya di Jakarta dengan membuka kantor kedua di Gedung GKBI. Lagi-lagi, kantor kedua ini laris manis. Akhirnya, Kim pun terinspirasi untuk memperluas pasar ke luar negeri, mulai dari Malaysia, Singapura, dan baru-baru ini cabang kelimanya diresmikan di Shanghai.

 

Kim mengatakan, kunci keberhasilan CEO Suite terletak pada layanan kepada pelanggan. Untuk memberikan layanan yang prima, ia tak ragu melakukan investasi di berbagai bidang, dari pengembangan SDM sampai perbaikan sistem teknologi informasi.

 

Tahun lalu, Kim menginvestasikan US$ 300 ribu untuk menerapkan unified messaging systems yang diklaimnya sebagai yang pertama di bisnis ini. Tujuannya tak lain untuk memuaskan pelanggan, sambil berharap mereka akan mempromosikan CEO Suite ke perusahaan-perusahaan lain. "Promosi dari mulut ke mulut merupakan alat marketing yang paling dahsyat," katanya. "Selama ini, kami nyaris tidak pernah beriklan," tambahnya.

 

Sampai saat ini, Kim sangat puas dengan performa perusahaannya. "Di luar Jakarta, tingkat hunian seluruh cabang kami mencapai 100%," ujarnya bangga. Selain itu, ia menjelaskan, sumber revenue mereka tak hanya dari penyewaan kantor, tapi juga dari jasa-jasa lain. "Saat ini ada lebih dari 700 perusahaan di region ini yang menjadi member virtual office kami," ujarnya. Sayang, ia enggan menyebutkan besarnya revenue dari operasional perusahaannya.

 

Ke depan, Kim akan berusaha membuka cabang-cabang baru. Tahun ini ia berencana membuka satu cabang lagi. Kota-kota seperti Beijing, Seoul dan Bangkok tengah dijajaki, tapi belum diputuskan mana yang dipilih lebih dulu. "Bulan depan kami harus sudah mengambil keputusan," ujarnya. Kim mengatakan, akan mengembangkan cabang di Asia saja, karena CEO Suite hanya ingin menjadi spesialis Asia.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)