Memberdayakan Anak Buah

Namun, kerap sang manajer tidak memahami bahwa memberdayakan anak buah sangat terkait dengan penempatan dan pendelegasian wewenang. Manajer harus memahami, memberdayakan anak buah tidak akan membuat dirinya kehilangan kuasa atau kontrol terhadap mereka. Lewat pemberdayaan, anak buah akan mempunyai gerak dan ruang lebih luas untuk mengambil keputusan terhadap segala sesuatu yang berhubungan dengan pekerjaannya.

Dalam pandangan Direktur PT Daya Dimensi Indonesia -- perusahaan konsultan SDM -- Judhi Kristantini, pemberdayaan anak buah adalah pemberian bobot tugas, tanggung jawab, yang disertai pemberian area kewenangan yang seimbang. Menurutnya, ketidakseimbangan salah satu di antaranya akan membuat anak buah frustasi, bahkan kehilangan motivasi.

Manajer harus memahami faktor penting yang membentuk pemberdayaan, yakni perilaku pemimpin yang mencerminkan pemberdayaan anak buah. Menurutnya, jangan bicara mengenai pemberdayaan bila setiap anak buah melakukan kesalahan direspons dengan kemarahan atau hukuman. Padahal, dalam konteks pemberdayaan, seharusnya anak buah diberi kesempatan memperbaiki, dan kalau perlu penyelesaian tugas ia ambil alih. Artinya, ada umpan balik antara manajer dan anak buah.

Penerapan pemberdayaan tentu saja harus tepat. Dengan begitu, akan menumbuhkan rasa memiliki dan rasa percaya diri di antara sesama rekan kerja, yang akhirnya bermuara pada peningkatan produktivitas dan performa kerja yang optimal. Karena itu, dalam memberdayakan anak buah harus melihat kemampuan masing-masing. Pasalnya, proses pemberdayaan juga merupakan kesempatan pengembangan bagi anak buah.

Manajer Senior Korporat & Komunikasi PT Amway Indonesia Tina Prabowo yang memiliki 31 anak buah menilai, pertimbangan kemampuan dan kemauan anak buah sangat berperan dalam proses pemberdayaan. Dengan mengetahui kemampuan dan kemauan anak buah, akan terlihat area mana yang bisa diperdalam sehingga mereka bisa maju sesuai dengan keinginan dan target perusahaan. Melihat kemampuan anak buah juga sangat terkait dengan pemilihan pelatihan dan pendidikan yang perlu diberikan, sehingga proses pemberdayaan bisa berjalan dengan baik dan sesuai harapan.

Artinya, kembali lagi, right man in the right place menjadi kunci sukses pemberdayaan. Karena itu, dalam memberikan tugas, yang terpenting adalah bertujuan supaya anak buah sukses. Ukuran sukses tentunya harus mengandung tantangan yang cukup, proses belajar yang menunjang, dan dukungan yang memadai.

Bagaimana dengan kemampuan anak buah yang berbeda? Menurut Judhi, manajer jangan terjebak pada kekurangan dan kelemahan anak buah. Ia justru harus menyeimbangkannya dengan kekuatan mereka. Proses pengembangan dengan mendasarkan pada kekuatan mereka akan mempercepat kontribusi mereka pada organisasi. Memberdayakan anak buah haruslah dibarengi dengan sikap legowo menerima kesalahan dan ketidaksempurnaan mereka.

Memberdayakan anak buah harus dimulai dari diri manajer. Ia harus menyadari, pemberdayaan akan membuat pekerjaannya lebih ringan dan lebih mudah. Pemberdayaan anak buah juga kesempatan untuk tumbuh dan berkembang. Manajer harus mengenali area tugas atau pekerjaan-pekerjaan di bagian yang dipimpinnya, sekaligus mengenal dampak setiap keberhasilan dan kegagalan anak buah. Karena itu, manajer harus mumpuni dalam memberikan penugasan disertai parameter keberhasilan yang jelas. Proses pemberdayaan anak buah akan efektif jika manajer juga mampu memberikan umpan balik, dukungan, dan penghargaan yang seimbang.

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)