Mengapa Orang Masih Mengira yang Lain?

Lewat PT Media Nusantara Citra (MNC) yang baru saja go public, lelaki kelahiran Surabaya 26 September 1965 itu kini menguasai saham mayoritas di tiga stasiun TV swasta: RCTI, GlobalTV, dan TPI. Selain itu, ia juga memiliki media cetak Harian Seputar Indonesia (Sindo), jaringan Radio Trijaya, Majalah Trust, dan layanan pay-TV Indovision. Plus kepemilikan mayoritasnya di Mobile-8 yang bergerak di bisnis telekomunikasi, pantaslah bila orang menilainya sebagai salah satu raja bisnis multimedia Indonesia.

Hary hingga saat ini memang masih mampu mempertahankan reputasinya sebagai pengusaha muda yang selalu melahirkan decak kagum orang banyak. Sekitar sedasawarsa lalu, dalam usia relatif muda (awal 30-an tahun), publik sudah terpana dengan kepiawaiannya berkiprah di bisnis investasi dan keuangan lewat PT Bhakti Investama. Kini, di awal 40-an tahun, ia sudah tergolong salah satu pengusaha besar dan mapan di Tanah Air.

Kendati begitu, gebrakannya selama ini bukan hanya mengundang decak kagum, tapi juga semacam tanda tanya dan misteri. Di penghujung milenium (1999-2000), ia dikabarkan dekat dengan George Soros (pemilik Soros Fund Management), yang diisukan punya andil besar dalam terjadinya krisis mata uang di Asia Tenggara. Karena itu, tak sedikit orang yang berpraduga kiprah bisnis dan aksi korporat Hary selama ini juga sebagian didanai salah satu jurangan fulus dunia itu.

Yang kasat mata, taipan muda ini berhasil membangun perusahaan telekomunikasi berbasis teknologi CDMA, Mobile-8, dari nol. Ia pun mengambil alih mayoritas saham stasiun TV swasta TPI dari tangan Siti Hardiyanti Rukmana. Aksi korporat terbesarnya yang cukup mengagetkan publik adalah ketika pada 2001 mengambil alih grup bisnis raksasa Bimantara dari Bambang Trihatmodjo dan kawan-kawan. Dengan skala dan ukuran bisnis Bimantara yang cukup besar, tak mengherankan, banyak orang menduga ia tak lebih dari seorang operator. Apa pun, kini ia menggenggam lebih dari 50% kepemilikan di perusahaan yang telah diubah namanya menjadi Global Mediacom itu. Ia pun dinilai cukup sukses merestrukturisasi perusahaan yang sebelumnya terbelit utang ini sebagai kelompok usaha media dan telekomunikasi. “Fokus saya sekarang mengembangkan bisnis media dan telekomunikasi yang memang lebih mapan,” ujar pemegang gelar MBA di bidang portfolio management dari Ottawa University ini.

Pengusaha baby face yang trendi ini sepertinya tak pernah kehabisan energi dan stamina dalam mengelola kerajaan bisnisnya yang cukup kompleks. Wajah dan penampilannya hampir selalu tampak segar. “Saya rajin (latihan) treadmill tiap hari,” ungkap pria yang aktif di kepengurusan KONI ini. Dan, ia tampaknya tak pernah kehabisan dana untuk mengembangkan imperium bisnisnya. Di sela-sela kesibukannya yang luar biasa itu, Hary bersedia berbagi informasi dengan tim SWA (Herning Banirestu, Eddy D. Iskandar, Joko Sugiarsono, dan Kusnan M. Djawahir, serta fotografer Hendra Syaukani) yang menyambangi kantornya pada Selasa Sore, 3 Juli lalu. Ia berkenan menjawab beberapa pertanyaan yang mungkin sensitif. Silakan ikuti petikan wawancaranya berikut ini:

Anda kan baru melakukan road show dalam rangka go public-nya MNC. Bagaimana minat investor asing menanamkan duitnya ke Indonesia?

Indonesia memang salah satu target investasi mereka. Mereka meyakini negara ini akan mengalami pertumbuhan tinggi suatu saat nanti. Indonesia punya populasi yang besar dengan resource base yang kuat. Kalau bicara resource base, apa pun di Indonesia ada: minyak, gas, tambang, kehutanan, dan pertanian.

Dibanding India dan Cina, biaya investasi di Indonesia malah lebih murah. Di kedua negara itu, biayanya tinggi sekali, PER (price-earning ratio)-nya sudah tinggi.

Sektor apa saja yang menarik hati para investor dunia itu?

Jelas, yang berbasis sumber daya alam, yang sebenarnya menjadi kekuatan nasional kita. Lalu, sektor consumer-driven seperti telekomunikasi, media, farmasi, edukasi, infrastruktur, transportasi, dan utilitas.

Bisa Anda ceritakan pengalaman Anda mencari pendanaan di luar negeri?

Sebenarnya, road show ke Eropa atau negara-negara Asia lainnya itu biasa. Tapi, saya malah ke Middle East (Timur Tengah), tepatnya ke Dubai. Ini pengalaman baru buat perusahaan media. Awal Juni lalu saya bertemu 4-5 investor di Dubai. Salah satunya yang saya ingat, Dubai Investment Management. Terus terang, sebelumnya saya underestimate. Bukan karena mereka tidak punya uang. Mereka itu belum memahami pasar Indonesia, jadi saya harus memaparkan sejelas-jelasnya. Ini sangat berbeda dari road show saya ke Singapura, Hong Kong, atau London. Karena itu, saya underestimate.

Apa cerita menarik dari sana?

Kita tahu uang mereka banyak. Saya ke Dubai itu juga ingin ngetes, apakah mereka mau spend duit di luar negeri. Apa yang terjadi? Saya hanya presentasi satu jam di depan mereka. Tapi, ketika saya pindah (presentasi) ke Frankfurt (Jerman), saya dapat kabar mereka subscribe semua. Dan nilainya besar, kalau tidak salah, masing-masing US$ 10-25 juta. Jadi, willingness to invest itu ada di sana. Saya itu tidak kenal mereka lho, sebab saya juga dipertemukan oleh underwriter-nya, yakni UBS, Deutsche Bank, dan Lehman Brothers.

Sebelumnya Anda pernah memanfaatkan dana global seperti itu?

Dari dulu kita sudah di capital market; coba cari pendanaan, (ternyata) yang besar itu dari luar negeri. Sebagai contoh, pada IPO (penawaran saham perdana)-nya MNC ini, dua pertiga dana yang masuk dari luar negeri. Mobile 8 juga begitu, ketika go public tahun lalu banyak dana luar negeri yang masuk. Fund manager-nya ada di Singapura, Hong Kong, atau Malaysia, tapi uangnya sih tidak bisa ditelusuri dari mana.

Apakah waktu membeli Bimantara dulu Anda juga memakai dana dari luar?

Tidak ada. Dana sendiri. Saya beli murah.

Kiprah Anda sebelum IPO MNC kan sudah kencang. Lalu, dari mana dananya, mengingat Anda dulu dikabarkan dekat dengan Soros?

Ini bukan masalah jelek atau tidak jelek (dengan menggandeng fund manager global). Tapi, saya harus meluruskan. Saya masuk ke Bimantara tahun 2001 dan jadi dirut 2002. Sedangkan hubungan dengan Soros tahun 1999-2000. Saya tidak dibantu dia waktu masuk ke Bimantara. Saya memang kenal Soros, tapi tidak ada dana investasi dari dia.

Penguasaan saham Bimantara yang sekarang bernama Global Mediacom oleh Anda kan awalnya sekitar 20% dan sekarang lebih dari 50%. Bagaimana bisa?

Itu prosesnya sudah dari 2001. Sudah lima tahun lebih. Ingat, berapa market capitalization Global Mediacom (dulu Bimantara) lima tahun yang lalu? Sekarang nilainya per 1 Juni US$ 1,8 miliar. Besar memang. Itu karena harga sahamnya naik. Aset-aset yang dikembangkan jadi semua. Saham Global Mediacom sekarang harganya sekitar Rp 1.200/lembar; pernah stock split 1:5, sehingga sama artinya dengan Rp 1.200 x 5 = Rp 6.000. Juga, pernah dikeluarkan saham bonus satu jadi dua, beli satu dapat satu.

Waktu Bhakti (Investama) pertama kali beli saham Bimantara, harganya di bawah Rp 1.000. Lalu, naik menjadi Rp 2.000, Rp 2.500, dan seterusnya. Itu bisa dilihat di bukunya Bhakti Investama (memang sudah menjadi perusahaan terbuka). Nilai akuisisi Bhakti terhadap Bimantara jauh di bawah harga pasar saat ini. Kami ini perusahaan publik, ada annual report. Mengapa orang masih mengira yang lain? Di situ ada semua aktivitas tahun 2001-03; berapa nilai investasinya dan kapan dilakukan.

Lantas, dari mana dana untuk mengembangkan berbagai bisnis, terutama bisnis media dan telekomunikasi yang butuh dana besar?

Bimantara itu solid. Pengembangan yang saya lakukan di media dan telekomunikasi dari cash flow-nya Bimantara. Pada dasarnya, yang saya lakukan adalah assets switching. Jual, kami dapat proceed, dan dana proceed itulah yang saya gunakan untuk mengembangkan bisnis media dan telekomunikasi. Karena sekarang mayoritas asetnya di media dan telekomunikasi, lebih dari 90% pendapatan Bimantara dari dua core business itu.

Di luar, masih banyak orang yang melihat Anda sebagai operator (dari pemilik modal lainnya)?

Maaf, soal itu saya hanya mau jawab off the record.

Apa alasan penggantian nama dari Bimantara Citra menjadi Global Mediacom?

Ini masalah corporate structure. Ketika saya masuk, benderanya masih Bimantara Citra. Bisa dikatakan bisnis Bimantara adalah konglomerasi sebab bidangnya macam-macam. Dalam perjalanannya, kami coba ubah fokusnya dari konglomerasi ke bisnis media dan telekomunikasi. Apa yang saya lakukan mulai 2002, ketika pertama kali masuk, adalah menjual non-core business di luar media dan telko. Banyak yang sudah saya jual, seperti saham di Satelindo yang hanya 6,75%. Lalu, JAS-Cardig dijual tahun 2003. Begitu pula Danapaint, bisnis otomotif, dan Peni Chemicals. Pada saat bersamaan, saya membangun juga portofolio bisnis baru di media dan telekomunikasi. Saya bangun Mobile-8 dan bisnis-bisnis media lain. Begitu aset media dan telekomunikasinya sudah solid dan ter-set up dengan baik, namanya saya ganti dari Bimantara Citra menjadi Global Mediacom.

Atau, barangkali karena nama sebelumnya kental dengan citra Orde Baru?

Saya ini orang kerja. Saya berusaha tidak terlibat dalam politik.

Apakah pemilik lama tidak menyayangkan atau keberatan dengan perubahan nama ini?

Kami ini (perusahaan) terbuka. Semua keputusan harus lewat rapat. Kalau semua menyetujui, ya jalan. Sekarang namanya kan sudah self explanationary. Begitu orang lihat nama Mediacom, mereka tahu bisnisnya media dan telekomunikasi. Namanya sudah menunjukkan bisnisnya. Nama itu harus merefleksikan bisnis. Apakah Bimantara merefleksikan bisnis media dan telekomunikasi, kan tidak. Image Bimantara merefleksikan konglomerasi. Saya tidak bicara apakah ini terkait dengan Orde Baru atau tidak. Saya harus bicara apa adanya. Kenapa namanya ada kata Global, karena kami ingin jadi pemain global, tidak hanya di Indonesia. Mediacom berarti media dan telekomunikasi. Jadi, PT Global Mediacom Tbk. tidak akan masuk ke bidang lain.

Omong-omong, aset noncore apa saja yang masih tersisa?

Kami masih punya hotel dan properti. Seperti penyertaan saham di Plaza Indonesia Realty, besarnya sekitar 22%. Lalu, di gedung ini (Gedung Bimantara di Kebon Sirih) yang sahamnya 100% kami pegang, rencananya akan kami dispose (jual), tapi masih didiskusikan lagi.

Tapi, Anda juga baru mengakuisisi Adam Air?

Itu masuk di grup bisnis transportasi.

Dulu, bukankah Mobile-8 sempat akan dijual juga?

Itu cerita lama. Bukan mau dijual, tapi ada yang menjajaki. Grup Sinar Mas memang sempat ingin urun investasi sebelum Mobile-8 go public.

Bagaimana sih gambaran besar organisasi bisnis Anda sekarang?

Jadi, ada Grup Global Mediacom Tbk. yang bergerak di bisnis media dan telekomunikasi. Lalu, ada Grup Global Transport Services, yang akan aktif di bisnis transportasi dan sekarang di bawahnya baru ada Adam Air. Lalu, di bisnis financial services & investment ada Bhakti Investama Tbk.

Mana grup yang akan dikembangkan dahulu?

Jelas grup media dan telekomunikasi, karena yang paling mapan saat ini. Pekerjaan di bisnis ini masih banyak, sehingga sekarang saya fokus ke sini.

Dari sekian banyak perusahaan yang Anda kelola, mana saja yang sudah menjadi cash cow? Mungkin RCTI, ya?

Semua sudah jadi. Mobile-8 juga sudah jadi, padahal dari nol lho. Mobile-8 itu sekarang sangat profitable; bisa dibilang bayi ajaib. Mulai beroperasi komersial awal 2004, tahun ini sudah sangat profitable. Global TV juga untung. Saya harus sampaikan dengan benar. Semua investasi yang signifikan di bawah Grup Global Mediacom menghasilkan profitabilitas yang baik. Makanya, ketika investor lihat, mereka berbondong-bondong masuk, beli sahamnya, dan harganya naik terus.

Bisakah Anda memeringkat bisnis-bisnis itu?

Tidak begitu. Semua (di bawah Global Mediacom) untung kok. Jangan salah lho, Sindo juga. Mungkin tahun ini, kontribusi Mobile-8 dengan RCTI sama. Sekarang Global Mediacom mengalami pertumbuhan sangat tinggi hampir di semua lini. Mulai balancing, tidak ada yang dominan.

Bagaimana dengan bisnis media lainnya seperti radio?

Bisnis radio memang nice to have, tapi tidak besar kok. Harap diketahui, porsi iklan masih 60% lari ke TV, 30% ke media cetak, dan sisanya ke yang lain-lain. Jadi, untuk besar sekali (di bisnis radio), masih belum bisa. Lalu, dari 30% iklan untuk media cetak, 70%-80% larinya ke harian. Saya sudah hafal, sebab setiap akan melakukan sesuatu saya pelajari dengan detail, pasarnya bagaimana. Iklan tahun lalu nilai net-nya di Indonesia US$ 1 miliar. Berarti US$ 650 juta net (setelah dipotong diskon -- Red.) lari ke televisi. Saya ingin menegaskan, kami kalau berbisnis, serius. Mapping pasarnya sangat kami pahami. Ekspektasi uangnya bagaimana. Bisnis media yang berciri advertising-driven kami pahami.

Lalu di bisnis pay-TV, lewat Indovision, kami juga cukup paham. Kami punya saham 51% di Indovision. Bisnis ini juga terus tumbuh.

Media di lingkungan Anda kan mungkin beberapa kali menyoroti dengan tajam pengusaha lain. Anda tak khawatir dimusuhi mereka?

Saya menerapkan cara kerja profesional dan tak ikut campur dalam kebijakan redaksional mereka.

Anda tampaknya benar-benar ingin membesarkan bisnis media?

Kami kalau kerja tidak main-main. Begitu kami terjuni, harus kami seriusi. Penetrasi media, baru 2% kami pahami. Jadi, potensinya masih luar biasa. Pangsa pasar total (di bisnis media) yang kami pegang sekitar 51%. Artinya, kami sudah mengontrol. Lalu, di financial services, Bhakti Investama (di bisnis assets management) mungkin sekarang mengelola dana US$ 87-90-an juta.

Lalu, bagaimana dengan bisnis transportasi Anda?

Bisnis transportasi kan belum go public. Jadi, maaf, tidak bisa saya beberkan.

Apakah Global Mediacom yang akan go regional duluan?

Ya, kurang-lebih seperti itu. Saya tidak bisa komentar banyak karena ini perusahaan publik. Saya harus hormati aturan mainnya.

Dalam kaitannya dengan nasionalisme, saya hingga kini tidak melakukan bisnis di luar negeri. Saya tempatkan semua bisnis saya di sini. Sebab, saya ingin melihat negeri ini tumbuh. Kalaupun kami berinvestasi, maka kami akan membawa Indonesian brand.

Ada untungnya ya, Anda jadi jago keuangan dan investasi dulu baru jadi pengusaha?

Ya, learning by doing-lah.

(*)

Tags:

Leave a Reply

Sign In

Get the most out of SWA by signing in to your account

(close)

Register

Have an account? Sign In
(close)